Belajar Berimaji

Mari Berimaji!

Diksi dan Citraan dalam Puisi Megatruh

diposting oleh dini-ardianty-fib10 pada 08 June 2015
di Sastra - 0 komentar

Megatruh

 

O, akal sehat jaman ini!

Bagaimana mesti kusebut kamu?

Kalau lelaki kenapa seperti kuwe lapis?

Kalau perempuan kenapa tidak keibuan?

Dan kalau banci kenapa tidak punya keuletan?

Aku menahan air mata

Punggungku dingin

Tetapi aku mesti melawan

Karena aku menolak bersekutu dengan kamu!

Kenapa anarki jalanan

Mesti ditindas dengan anarki kekuasaan?

Apakah hukum tinggal menjadi syair lagu disco?

Tanpa pancaindra untuk fakta

Tanpa kesadaran untuk jiwa

Tanpa jendela untuk cinta kasih

Sayur mayurlah kamu

Dibius pupuk dan insektisida

Kamu hanya berminat menggemukkan badan

Tidak mampu bergerak menghayati cakrawala

Terkesima

Terbengong

Terhiba-hiba

Berakhir menjadi hidangan para raksasa

O, akal sehat jaman ini

Kerna menolak menjadi edan

Aku melawan kamu!

 

 

 

  1. ANALISIS DIKSI

 

Secara keseluruhan puisi Megatruh ini menggunakan pilihan kata yang tidak terlalu berbelit-belit, lugas, namun sarat akan makna. Misalnya saja dalam bait ‘Kalau lelaki mengapa seperti kuwe lapis’ menggambarkan sosok lelaki yang cenderung lemah, berbeda dengan stigma selama ini bahwa lelaki adalah sosok yang kuat dan gagah. Kalau perempuan kenapa tidak keibuan? Menggambarkan realita perempuan zaman sekarang yang seringkali keluar dari kodratnya sebagai perempuan. Misalnya saja perempuan yang tidak seperti perempuan kebanyakan yang lembut, halus, dan memiliki sifat keibuan. Seperti yang kita lihat, sekarang ini semakin banyak perempuan yang berdandan menyerupai laki-laki dan memiliki sifat yang jauh dari sifat wanita kebanyakan. Dan kalau banci kenapa tidak punya keuletan? Seperti yang kita ketahui, banyak kaum lelaki yang harus berperilaku layaknya perempuan demi tuntutan pekerjaan dan stigma yang melekat dalam pekerjaan itu. Akan tetapi yang dipertanyakan dalam puisi ini adalah mereka yang menyebut dirinya laki-laki namun berperilaku seperti perempuan (banci) yang tidak memiliki keahlian dalam suatu hal. Sehingga tidak ada kebanggaan yang dapat ditonjolkan dalam dirinya.

 

Kenapa anarki jalanan

Mesti ditindas dengan anarki kekuasaan?

Bait di atas merupakan bentuk protes penyair. Sebagaimana yang sering terjadi, kekuatan pihak minoritas, dalam hal ini bisa diartikan sebagai rakyat jelata, seringkali mengalami kekalahan oleh kekuatan pihak mayoritas atau pihak-pihak yang memiliki kekuasaan lebih. Misalnya saja dalam kasus hukum, pihak yang memiliki kekuasaan lebih cenderung memanfaatkannya untuk hal-hal yang tidak berkenan dan menguntungkan kepentingannya maupun kepentingan kelompoknya. Sehingga dalam bait selanjutnya ditulis

Apakah hukum tinggal menjadi syair lagu disco?

Tanpa pancaindra untuk fakta

Tanpa kesadaran untuk jiwa

Tanpa jendela untuk cinta kasih

Bait tersebut merupakan cerminan keadaan yang terjadi masa kini. Di mana hukum bisa dipermainkan dan diperjualbelikan seperti yang telah ditulis sebelumnya. Sementara pihak-pihak tertentu bisa dengan mudah mempermainkan hukum, rakyat jelata yang tidak memiliki akses sama sekali tidak memperoleh keadilan. Terkadang hukuman yang mereka terima tidak sesuai dengan hal kecil yang mereka lakukan.

Bagaimana mesti kusebut kamu’, ‘kamu’ dalam puisi ini dapat diperumpamakan sebagai seseorang yang cenderung menerima keadaan tanpa ada usaha dan kekuatan untuk melawan. Hal tersebut diperkuat dengan bait yang berbunyi,

Sayur mayurlah kamu

Dibius pupuk dan insektisida

Kamu hanya berminat menggemukkan badan

Tidak mampu bergerak menghayati cakrawala

Terkesima

Terbengong

Terhiba-hiba

Berakhir menjadi hidangan para raksasa

 

Dari bait-bait di atas tergambar jelas pencitraan seseorang yang tidak mampu berbuat sesuatu. Dia memilih diam dan menerima segala dogma yang disodorkan padanya. Hingga akhirnya ia menjadi korban atas peraturan dan segala bentuk penindasan yang dilakukan oleh orang yang lebih berkuasa atau dalam puisi ini digambarkan sebagai raksasa.

 

 

  1. ANALISIS CITRAAN

 

Sebagian besar citraan yang tergambar dari puisi ini merupakan citraan perasaan, mengingat puisi ini sarat akan kritik sosial yang berusaha menyampaikan sesuatu kepada masyarakat. Untuk itu penyair perlu ‘mempermainkan’ perasaan pembaca agar pesan dapat tersampaikan. Citra perasaan tergambar dari bait

Kalau lelaki kenapa seperti kuwe lapis?

Kalau perempuan kenapa tidak keibuan?

Dan kalau banci kenapa tidak punya keuletan?

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa bait tersebut merupakan gambaran dari realitas yang ada, dimana keadaan mulai tidak berjalan seperti yang seharusnya terjadi. Karena makna dari bait di atas merujuk pada sifat seseorang maka dapat disebut sebagai citraan perasaan. Meskipun dalam bait Kalau lelaki kenapa seperti kuwe lapis? juga dapat dikatakan sebagai citraan pengelihatan. Karena sifat lelaki yang lemah dan gemulai biasanya juga dapat dilihat dari fisiknya, cara berjalan, cara berpakaian, dan kebiasaan-kebiasaan yang dapat dilihat secara konkret.

 

Aku menahan air mata

Punggungku dingin

Citraan yang tergambar merupakan citraan perasaan. Karena menahan air mata disini dapat dikatakan sebagai perumpamaan dari perasaan perih. Sedang punggungku dingin dapat dikatakan sebagai akibat dari perasaan perih yang terlalu lama terpendam.

 

Kamu hanya berminat menggemukkan badan

Bait diatas dapat diartikan sebagai menggemukkan badan dalam artian sebenarnya, yang mengacu pada fisik. Jadi pencitraan yang digunakan adalah pencitraan pengelihatan. Menggemukkan badan bisa juga diartikan sebagai seseorang yang cenderung mencari jalan yang mudah bahkan memudahkan sesuatu. Jika kita menggunakan definisi seperti itu maka citraan yang digunakan adalah citraan perasaan.

 

Tidak mampu bergerak menghayati cakrawala

Pencitraan yang digambarkan adalah citraan perasaan dan citraan gerakan. Dikatakan demikian karena dalam bait tersebut dapat diartikan sebagai seseorang yang tidak peka terhadap keadaan sekitar sehingga ia hanya terdiam dan tidak melakukan sesuatu.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :