Belajar Berimaji

Mari Berimaji!

Perbedaan Ramayana - Mahabarata dalam Kesusastraan Jawa Kuna dan India

diposting oleh dini-ardianty-fib10 pada 08 June 2015
di Sastra - 0 komentar

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

 

Kesusasteraan Jawa kuna banyak terpengaruh oleh kesusasteraan India. Hal ini disebabkan karena adanya pengaruh agama Hindu yang sangat kuat yang dibawa oleh raja maupun murid-murid yang dikirim untuk belajar agama di India. Cerita pewayangan dalam kesusasteraan Jawa tidak hanya berisi cerita sebagai hiburan belaka, namun juga berisi ajaran-ajaran agama. Dua karya yang sangat fenomenal dalam kesusasteraan Jawa kuna adalah Mahabarata dan Ramayana. Pada dasarnya Mahabaharata dan Ramayana tidak menceritakan sebuah peperangan, malainkan berbicara tentang kehidupan.

               Mahabharata adalah sebuah karya sastra kuno yang konon ditulis oleh Begawan Byasa atau Vyasa dari India. Buku ini terdiri dari delapan belas kitab, maka dinamakan Astadasaparwa (asta = 8, dasa = 10, parwa = kitab). Namun, ada pula yang meyakini bahwa kisah ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari banyak cerita yang semula terpencar-pencar, yang dikumpulkan semenjak abad ke-4 sebelum Masehi.

               Sedangkan Ramayana yang berasal dari kata Rāma dan Ayaṇa yang berarti "Perjalanan Rama", adalah sebuah cerita epos dari India yang digubah oleh Walmiki (Valmiki) atau Balmiki. Ramayana Jawa kuna ditulis sekitar pertengahan abad ke sembilan, berbentuk kakawin (puisi) yang sangat indah. Sedangkan Mahabarata merupakan sebuah karya sastra berbentuk parwa (prosa), padahal pada saat tersebut karya sastra yang sedang menjadi perhatian adalah karya berbentuk kakawin.

Seperti yang kita ketahui bahwa Mahabarata dan Ramayana versi Jawa kuna bukan merupakan karya dari penulis Jawa melainkan terpengaruh dari naskah induk yang berada di India. Sebagai dua naskah yang berbeda, cerita Mahabarata versi Jawa kuna dan cerita Mahabarata versi India memiliki perbedaan. Perbedaan tersebut disebabkan karena perbedaan budaya kedua negara tersebut.

 

 

1.2  Rumusan Masalah

 

  1. Apa perbedaan naskah Mahabarata Jawa kuna dengan Mahabarata India?
  2. Apa perbedaan naskah Ramayana Jawa kuna dengan Ramayana India?

 

1.3  Tujuan Penelitian

  1. Mengetahui perbedaan naskah Mahabarata Jawa kuna dengan Mahabarata India.
  2. Mengetahui perbedaan naskah Ramayana Jawa kuna dengan Ramayana India.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

2.1  Perbedaan Mahabarata Jawa kuna dan Mahabarata India

 

               Secara singkat, Mahabharata menceritakan kisah konflik para Pandawa lima dengan saudara sepupu mereka sang seratus Korawa, mengenai sengketa hak pemerintahan tanah negara Astina. Puncaknya adalah perang Bharatayuddha di medan Kurusetra dan pertempuran berlangsung selama delapan belas hari.

               Di India ditemukan dua versi utama Mahabharata dalam bahasa Sansekerta yang agak berbeda satu sama lain. Kedua versi ini disebut dengan istilah "Versi Utara" dan "Versi Selatan". Biasanya versi utara dianggap lebih dekat dengan versi yang tertua. Mahabharata merupakan kisah epik yang terbagi menjadi delapan belas kitab atau sering disebut Astadasaparwa. Rangkaian kitab menceritakan kronologi peristiwa dalam kisah Mahabharata, yakni semenjak kisah para leluhur Pandawa dan Korawa (Yayati, Yadu, Puru, Kuru, Duswanta, Sakuntala, Bharata) sampai kisah diterimanya Pandawa di surga. Berikut ini merupakan nama-nama kitab Mahabarata Adiparwa, Sabhaparwa, Wanaparwa, Wirataparwa, Udyogaparwa, Bhismaparwa, Dronaparwa, Karnaparwa, Salyaparwa, Sauptikaparwa, Striparwa, Santiparwa, Anusasanaparwa, Aswamedhikaparwa, Asramawasikaparwa, Mosalaparwa, Mahaprastanikaparwa, Swargarohanaparwa.

               Mahabarata yang asal mulanya berupa puisi digubah menjadi prosa yang pada karya aslinya terdiri dari 18 parwa, yang dapat ditemui dalam versi Jawa Kuno hanya 9 parwa saja yaitu : Adiparwa, sobhaparwa, Wirataparwa , Bhimaparwa , Astramawasaparwa, Mosalaparwa, Prostanikaparwa dan Swarga Robanaparwa.

            Dalam kesusasteraan Jawa kuna hanya mengulas cerita Mahabarata secara singkat, tidak seperti yang tertulis pada Mahabarata versi India. Selain itu terdapat pula beberapa perbedaan cerita antara Mahabarata Jawa kuna dengan mahabarata India. Perbedaan itu antara lain terdapat dalam penggambaran tokoh Drupadi dan Srikandi.

Kisah Drupadi pada Mahabarata India diawali dari sayembara yang diadakan oleh ayahnya, prabu Drupada. Isi sayembara tersebut adalah “siapa bisa mengangkat busur dan memanahkan anak panah pada cakra yang terus berputar, dia yang berhak mempersunting Drupadi”. Pada hari sayembara, banyak para ksatria yang tidak mampu menjawab tantang itu, sampai kemudian Karna berhasil melakukannya. Sayang, drupadi enggan bersuamikan seorang anak kusir. Maka majulah seorang brahmana yang sanggup menjawab tantangan itu, dia adalah arjuna. Namun karena Arjuna mengikuti sayembara atas nama Pandawa, akhirnya drupadi menjadi istri bagi kelima pandawa (poliandri). Dari kelima suaminya itu drupadi beroleh lima orang putra: Pratiwinda, Sutasoma, Srutakirti, Satanika, Srutakama.

Pada versi Jawa kuna kisah Drupadi diawali dari “Sayembara Gandamana”, patih kerajaan Pancala itu buat tantangan siapa yang bisa mengalahkan dia berhak mempersunting putri rajanya. Yang memenangkan sayembara itu adalah Bima (sebenarnya Gandamana unggul, tetapi ketika ia berhasil melumpuhkan Bima, panegak pandawa itu nangis dan menyebut nama ayahnya: Pandu Dewanata, sehingga gandamana trenyuh teringat pada mantan Rajanya itu dan akhirnya justru mewariskan aji bandung bandawasa). Tetapi karena Bima ikut sayembara bukan untuk dirinya tetapi untuk Puntadewa, akhirnya ia menjadi istri bagi Puntadewa saja. Dari Puntadewa ini, drupadi mempunya anak raden Pancawala. Perubahan cerita ini karena Poliandri (seorang wanita bersuamikan lebih dari satu suami) itu dilarang dalam hukum Islam.

Sedangkan kisah Srikandi versi Mahabarata India diawali dengan kisah Dewi Amba sakit hati karena cintanya pada raja Salwa dari Saubala akhirnya harus pupus karena Bisma memenangkan Sayembara untuk memperoleh dirinya. Namun ketika ia akhrinya menyerahkan dirinya pada Bisma, putra Santanu itu pun menolaknya, sebab ia ikut sayembara untuk adiknya lain Ibu: Wichitrawirya. Sakit hati kerena merasa dipermalukan, Dewi Amba ini kemudian bertapa dan berdoa pada para dewa agar bisa membalas sakit hatinya itu. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi, putri prabu Drupada.

Suatu saat, Drupada mengambil untaian bunga (yang diletakkan oleh Dewi Amba saat ia meninggalkan Hastinapura karena sakit hati) dan mengalungkannya pada Srikandi. Ajaib, kelamin putrinya itu berubah jadi laki-laki. Menurut Wiracarita Mahabarata, srikandi ini tetap sebagai pria (meskipun penampilannya seorang wanita) dan dia punya seorang Istri. (Ini artinya, menurut Mahabarata, Srikandi itu bukan istri Arjauna).

Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang “seorang wanita”, ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma sampai akhirnya senopati tua itu terbunuh.

Pada versi Jawa kuna diceritakan Srikandi adalah putri prabu Drupada yang tetap menjadi seorang putri. Dalam lakon “Mbangun Taman Maerokoco”, ia diajari memanah oleh Arjuna dan akhirnya menikah dan beroleh seorang putra. Ini artinya, Srikandi tetap sebagai wanita, beda dengan wiracarita Mahabarata versi India, dimana Srikandi berkelamin laki-laki (walau penampilannya seperti wanita).

Dalam cerita Jawa, Srikandi pernah menjadi seorang satria: Bambang Kandihawa yang menikah berhubungan dengan seorang resi Amintuna (jelmaan Arjuna) dan beroleh keturunan: Nirbita Niwatakawaca (dialah yang pernah memaksa melamar Bathari Supraba tetapi gagal karena bisa dibunuh oleh Begawan Ciptowening, jelmaan Arjuna, alias bapaknya sendiri).

Akhir hidup Srikandi sama antara versi Jawa kuna dan India yakni dibunuh oleh Aswatama pasca perang Barathayuda, saat mereka sedang merayakan kelahiran anak Abimanyu dari Utari: Parikesit.

            Perbedaan lainnya juga terdapat pada bagian mengenai Hidimbi yang jatuh cinta pada Bima, akan tetapi cintanya ditolak oleh Bima. Ia kemudian menulis surat pada Dewi Kunthi, ibu Bima. Dalam cerita Mahabarata India, Kunthi meminta Yudhistira, anak sulungnya, untuk memberi jawaban pada Hidimbi. Sedangkan pada versi Jawa kuna Hidimbi sendirilah yang memberi jawaban.

            Mengenai perbedaan cerita antara versi Jawa kuna dengan versi India adalah dikarenakan dengan budaya dan adat istiadat setempat. Drupadi bersuamikan 5 orang, mungkin hal yang biasa di India, Tetapi di Indonesia, khususnya di Jawa, hal itu tidak bisa diterima. Begitu pula dengan perbedaan antara Srikandi yang terlahir sebagai laki-laki atau perempuan. Dalam adat Jawa, perempuan digambarkan sebagai  sosok yang lemah lembut, bukan sebagai sosok yang perkasa. Apalagi penampilannya menyerupai laki-laki.

 

2.2  Perbedaan Ramayana Jawa Kuna dengan Ramayana India

 

Tidak seperti cerita Mahabarata India yang berbentuk puisi, yang kemudian digubah menjadi bentuk prosa dalam bahasa Jawa kuna, cerita Ramayana yang ditulis oleh para penulis Jawa masih mempertahankan bentuk puisi dalam karyanya, atau yang disebut dengan kakawin. Sama seperti cerita Mahabarata, kakawin Ramayana memiliki perbedaan antara versi India dengan versi Jawa kunanya.

Ramayana merupakan kakawin tertua dalam kesusasteraan Jawa Kuna, disusun dalam abad kesembilan, yang berasal dari versi India Utara epik (viracarita) yang berfokus pada kisah inkarnasi Wisnu sebagai Rama dan pembuangannya dari Ayodhya. Versi Jawa abad kesembilan mempertahankan plot India penting serta nama-nama India dan tempat, tapi memberi karakteristik-karakteristik utama Jawa dan menempatkan mereka dalam pengaturan Jawa. Kakawin Ramayana ini, tidak berdasarkan pada apa yang kemudian versi paling terkenal dari cerita Rama, yaitu epik Walmiki, tetapi pada Ravanavadha atau pembantaian Rahwana, yang merupakan puisi keenam atau ketujuh-abad oleh penyair India Bhatti atau Bhattikavya.

Kakawin Ramayana dihasilkan campuran konfrontasi yang dramatis, dialog seksual dan karakter hidup; episode yang memiliki kehidupan, warna dan emosi. Sementara Bhatti menghasilkan teks untuk didengar. Bhatti menggunakan kisah Rama hanya sebagai kerangka kerja untuk menggambarkan aturan-aturan tata bahasa dan puisi; dengan kakawin Ramayana membahas isu-isu etika, prinsip-prinsip moral dan keyakinan yang menjelaskan perilaku karakter atau menjadi pokok permasalahan dalam krisis yang mereka hadapi. Karakter Ramayana kakawin terkemuka yang heroik, tetapi pada waktu harus menyelesaikan situasi yang secara moral ambivalen. Rama, dalam contoh berikut, menawarkan saran eksplisit untuk raja, menekankan bahwa perbuatan raja adalah lebih berharga daripada harta materinya.

Perbedaan antara Ramayana dan Mahabarata sendiri terletak pada posisi sastra dan non sastra. Sastra dalam pandangan kesusasteraan Jawa, puisi selalu dipersepsikan sebagai sastra sedangkan prosa merupakan teks non sastra. Sehingga banyak peneliti sastra yang lebih tertarik untuk meneliti teks kakawin (puisi) daripada teks parwa (prosa).

Mengenai pandangan bahwa Ramayana dan Mahabarata dalam kesusasteraan Jawa merupakan terjemahan bahkan imitasi dari kesusasteraan India, Gonda (1937) menyangkal pendapat tersebut. Pernyataan tersebut juga disetujui oleh Zoetmulder pada tahun 1974. Menurutnya para penulis Jawa tidak hanya semerta-merta menerjemahkan teks asli dari India, dalam proses kreatifnya penulis Jawa juga mengembangkan dan menuliskan kembali teks tersebut menurut kreativitas mereka sehingga karya tersebut perlu dihargai sebagai hasil dari para penulis Jawa tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

 

Kesusasteraan Jawa kuna banyak terpengaruh oleh kesusasteraan India karena adanya pengaruh agama Hindu yang sangat kuat yang dibawa oleh raja maupun murid-murid yang dikirim untuk belajar agama di India. Dua karya yang sangat fenomenal dalam kesusasteraan Jawa kuna adalah Mahabarata dan Ramayana.

            Mahabharata adalah sebuah karya sastra kuno yang konon ditulis oleh Begawan Byasa atau Vyasa dari India. Sedangkan Ramayana yang berasal dari kata Rāma dan Ayaṇa yang berarti "Perjalanan Rama", adalah sebuah cerita epos dari India yang diubah oleh Walmiki (Valmiki) atau Balmiki. Ramayana Jawa kuna ditulis sekitar pertengahan abad ke sembilan, berbentuk kakawin (puisi) yang sangat indah. Sedangkan Mahabarata merupakan sebuah karya sastra berbentuk parwa (prosa).

  • Perbedaan Mahabarata Jawa kuna dan Mahabarata India terletak pada Perbedaan cerita Mahabharata dan Ramayana yang terdapat dalam penggambaran tokoh Drupadi dan Srikandi.

Kisah Drupadi pada Mahabarata India diawali dari sayembara yang diadakan oleh ayahnya, prabu Drupada. Sedangkan kisah Srikandi versi Mahabarata India diawali dengan kisah Dewi Amba yang sakit hati karena cintanya pada raja Salwa dari Saubala yang akhirnya harus pupus karena Bisma memenangkan Sayembara untuk memperoleh dirinya. Perbedaan lainnya juga terdapat pada bagian mengenai Hidimbi yang jatuh cinta pada Bima, akan tetapi cintanya ditolak oleh Bima.

  • Perbedaan Ramayana India dengan Ramayana Jawa kuna

Ramayana merupakan kakawin tertua dalam kesusasteraan Jawa Kuna, Ramayana kakawin dihasilkan campuran konfrontasi yang dramatis, dialog seksual dan karakter hidup Mengenai pandangan bahwa Ramayana dan Mahabarata dalam kesusasteraan Jawa merupakan terjemahan bahkan imitasi dari kesusasteraan India, Gonda (1937) menyangkal pendapat tersebut. Pernyataan tersebut juga disetujui oleh Zoetmulder pada tahun 1974. Menurutnya para penulis Jawa tidak hanya semerta-merta menerjemahkan teks asli dari India, dalam proses kreatifnya penulis Jawa juga mengembangkan dan menuliskan kembali teks tersebut menurut kreativitas mereka sehingga karya tersebut perlu dihargai sebagai hasil dari para penulis Jawa tersebut.

 

3.2  Saran

 

            Pembahasan mengenai cerita Ramayana dan Mahabarata ini hanya sebatas perbedaan antara versi Jawa kuna dengan versi India. Masih banyak pembahasan yang dapat dibahas mengenai kedua cerita yang sering kali menjadi induk cerita wayang di Indonesia ini. Semoga pembahasan dalam makalah ini mampu menambah khasanah pengetahuan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Poerbatjaraka. 1952. Kapustakaan Djawa. Jakarta : Djambatan.

 

Van der Molen, Williem. 2010. “Darmawangsa’s Heritage. On the Appreciation

Of the Old Javanese Mahabarata” dalam Orasi Ilmiah di Fakultas Ilmu

Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Tidak diterbitkan.

 

http://gypsyholic.blogspot.com/2011/11/sejarah-panjang-ramayana-dan-      mahabarata.html. Diakses pada tanggal 11 Desember 2011 pada pukul           18:49.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :