Belajar Berimaji

Mari Berimaji!

Sejarah Perkembangan Filologi

diposting oleh dini-ardianty-fib10 pada 08 June 2015
di Filologi - 0 komentar

  1. Awal Kegiatan Filologi di Iskandaria

 

  • Awal kegiatan filologi di kota Iskandaria dilakukan oleh bangsa Yunani pada abad ke-3 SM.  Bangsa ini membaca naskah-naskah Yunani lama, yang kira-kira mulai ditulis pada abad ke-8 SM dalam huruf Yunani Kuno.
  • Para ahli filologi ini menguasai ilmu dan kebudayaan Yunani lama, dan dikenal dengan aliran atau mahzab Iskandariyah.
  • Naskah-naskah tersebut ditulis di daun papirus dan merekam tradisi lisan yang mereka miliki sejak abad ke-8 sampai ke-3 SM.
    • Di kota Iskandariyah pada abad ke-3 SM terdapat pusat ilmu pengetahuan. Pusat studi itu menyimpan sejumlah besar naskah yang berisi berbagai ilmu pengetahuan, seperti ilmu filsafat, kedokteran, perbintangan, ilmu sastra dan karya sastra, ilmu hukum, dan ilmu-ilmu Yunani kuno lainnya.
    • Para penggarap naskah tersebut kemudian dikenal dengan ahli filologi dan yang pertama-tama memakai nama itu adalah Erastothenes.
    • Metode yang digunakan :
  1. Memperbaiki huruf, bacaan, ejaan, dan bahasanya.
  2. Menyuntingnyaa agar mudah dibaca dan bersih dari kesalahan.
  3. Naskah yang telah disunting kemudian disalin berkali-kali, terkadang diberi komentar atau tafsiran serta penjelasan-penjelasan lain secukupnya
  • Bahan-bahan yang ditelaah pada awal pertumbuhan ilmu filologi antara lain karya sastra Homerus, tulisan Plato, Hippoerates, Socrates, dan Aristoteles yang isinya meliputi berbagai ilmu pengetahuan dan filsafat. Hingga abad ini tulisan-tulisan tersebut tetap memiliki nilai-nilai agung dalam dunia ilmu pengetahuan baik di Barat maupun di Timur.
  • Sesudah Iskandariyah jatuh ke dalam kekuasaan Romawi, kegiatan filologi berpindah ke Eropa Selatan yang berpusat di kota Roma dan melanjutkan tradisi filologi Yunani atau meneruskan kegiatan mahzab Iskandariyah.

 

 

  1. Filologi di Kerajaan Romawi Barat dan Romawi Timur

 

  1. Filologi di Romawi Barat      
  • Kegiatan filologi di Romawi Barat diarahkan pada penggarapan naskah-naskah dalam bahasa Latin. Naskah-naskah latin itu berupa puisi dan prosa, antara lain tulisan Cicero dan Varro.
  • Sejak terjadinya Kristenisasi di benua Eropa. Kegiatan filologi di Romawi Barat dilakukan juga untuk telaah naskah-naskah keagamaan yang dilakukan oleh para pendeta. Dan naskah-naskah Yunani mulai ditinggalkan.
  • Sejak abad ke-4 teks sudah ditulis dalam bentuk buku yang disebut codex dan menggunakan bahan kulit binatang, terutama kulit domba, dikenal dengan nama perkamen. Dalam bentuk codex, naskah dapat memakai halaman, sehingga mudah dibaca, dan bahan perkamen lebih bertahan lama dari pada bahan papirus.

 

 

  1. Filologi di Romawi Timur
  • Saat telaah teks Yunani mengalami kemunduran di Romawi Barat, maka di Romawi Timur mulai muncul pusat-pusat studi teks Yunani, misalnya di Antioch, Athena, Iskandariya, Beirut, Konstantinopel, dan Gaza, yang masing-masing merupakan pusat vstudi dalam bidang tertentu. Misal Beirut menjadi pusat studi hukum.
  • Dalam periode itu mulai muncul kebiasaan menulis tafsir terhadap isi naskah pada tepi halaman. Catatan itu disebut dengan scholia. Procopius dari Gaza telah membiasakan menulis naskah langsung diiringi scholia dengan bahan yang diambil dari tulisan lain yang membicarakan masalah yang sama. Karena tulisan Procopius pada umumnya mengenal ajaran Beibel maka cara penulisan itu dikenal penulisan baru dalam kajian Beibel.

 

  1. Zaman Renaisans

 

  • Renaisans dimulai dari Italia pada abad ke-13 M, kemudian menyebar ke negara-negara Eropa lainnya, dan berakhir pada abad ke-16 M.
  • Pengertian Renaisans :
    • Dalam arti sempit, renaisans adalah periode yang di dalamnya kebudayaan klasik diambil lagi sebagai pedoman hidup.
    • Dalam arti luas, renaisans adalah periode yang di dalamnya rakyat cenderung pada dunia Yunani klasik atau pada aliran humanisme.
    • Kata humanisme berasal dari kata humaniora (bahasa Yunani) atau umanista (bahasa Latin) yang semula berarti guru yang mengelola tata bahasa, retorika, puisi, dan filsafat. Namun bahan-bahan yang diperlukan tersebut berasal dari teks-teks klasik, maka humanisme kemudian berarti aliran yang mempelajari sastra klasik untuk menggali kandungan isinya yang meliputi keagamaan, filsafsat, ilmu hukum, sejarah, ilmu bahasa, kesusastraan, dan kesenian.
    • Penemuan mesin cetak pada abad ke-15 menyebabkan naskah-naskah yang ada kemudian disunting dengan cermat dan diperbanyak. Kritik teks disempurnakan dengan menghadirkan lebih banyak naskah dari berbagai tempat. Sejak pernyebarluasan dan kritik teks yang dilakukan para filolog maka kesalahan pada teks tersebut menjadi lebih kecil.
    • Dalam perkembangan selanjutnya di Eropa, ilmu filologi diterapkan juga untuk telaah naskah lama nonklasik seperti naskah Germania dan Romania.
    • Pada abad ke-20  pengertian filologi di Eropa Daratan tetap seperti semula, yaitu ilmu yang menelaah teks klasik. Sedang di Anglo-Sakson berubah menjadi linguistik.

 

  1. Filologi di Timur Tengah, Zaman Dinasti Abasiyah, dan Masa Keemasan Islam

 

  • Negara-negara di Timur tengah mendapat ide filsafat dan ilmu eksakta terutama dari bangsa Yunani lama.
  • Sejak abad ke-4 M beberapa kota di Timur Tengah telah memiliki perguruan tinggi yang merupakan pusat studi berbagai ilmu pengetahuan yang berasal dari Yunani.
  • Pada zaman Abasiyah, dalam pemerintahan khalifah Mansur (754-775), Harun Almsyid (786-809), dan Makmun (809-833) studi naskah dan pengetahuan Yunani makin berkembang dan puncak perkembangannya yaitu pada masa pemerintahan Makmun.
  • Saat itu dikenal seorang penerjemah bernama Hunain bin Ishaq yang melakukan kritik pada naskah-naskah Yunani, khususnya mengenai kekurangan dan terjemahan yang dilakukan oleh penerjemah sebelumnya.
  • Di samping melakukan telaah terhadap naskah-naskah Yunani, para ahli filologi di kawasan Timur Tengah juga menerapkan teori filologi terhadap naskah-naskah yang dihasilkan oleh penulis-penulis dari daerah itu.
  • Sebelum kedatangan agama Islam, kedua bangsa ini telah memiliki karya sastra yang mengagumkan dalam bentuk prosa dan puisi.
  • Setelah Islam berkembang, kegiatan meluas di kawasan luar negara Arab, seperti di Persia yang berkembang pesat di daerah Persia abad ke-10 hingga ke-13 M.
  • Kedatangan bangsa Barat di kawasan Timur Tengah membuka kegiatan filologi terhadap karya-karya tersebut, sehingga isi kandungan naskah-naskah itu dikenal dunia Barat dan banyak yang menarik perhatian para orientalis Barat.
  • Meluasnya dinasti Umayah ke Spanyol dan Andalusia pada abad ke-8 sampai abad ke-15 M membuka dimensi baru bagi telaah karya tulis dari kawasan Timur Tengah yang masuk ke Eropa Daratan pada waktu itu. Sehingga ilmu pengetahuan berkembang pesat dan melahirkan banyak orientalis Eropa yang menelaah naskah dari Timur Tengah.

 

 

  1. Filologi di Kawasan Asia : India

 

  • Semenjak bangsa-bangsa Asia, khusunya India, Cina dan Jepang, mengenal huruf, sebagian besar dari kebudayaan mereka ditulis dalam bentuk naskah, suatu jenis dokumen yang memberi banyak informasi mengenai kehidupan masa lampau.
  • Studi filologi terhadap naskah-naskah tersebut telah berhasil membuka khazanah kebudayaan Asia serta menyajikan naskah-naskah tersebut untuk kepentingan studi humaniora di Asia pada umumnya.
  • Di antara bangsa Asia yang dipandang memiliki cukup dokumen peninggalan masa lampau dan telah dapat membuka kebudayaannya adalah bangsa India. Keluruhan bangsa India telah terungkap dengan berbagai penelitian, terutama penelitian terhadap dokumen berupa tulisan seperti prasasti serta naskah-naskah.
  • Filsafat Yunani diduga telah mempengaruhi sistem filsafat India Nyana dan Weiseka : doktrin Aristoteles telah mempengaruhi silogisme India, serta teori atom Empedocles berpengaruh pada hukum atom India.
  • Sejak abad ke-1 mulai terjadi kontak langsung antara bangsa India dengan bangsa Cina. Demikian pula kontak bangsa India dengan bangsa Persia yang telah terjadi sejak berabad-abad yang lalu.
  • Sampai pertengahan abad ke-19 telah banyak dilakukan telaah terhadap karya sastra klasik India. Telaah terhadap kesusastraan Budha dan Weda belum banyak dikerjakan.
  • Dengan telah dilakukan studi terhadap Weda dan kitab-kitab agama Budha maka abad ke-19, dari segi materinya, perkembangan filologi di India telah dipandang lengkap. Semenjak tahun 1850 banyak dilakukan kajian terhadap sastra klasik India.

 

 

  1. Filologi di Kawasan Nusantara

 

 

  • Hasrat mengkaji naskah-naskah Nusantara mulai timbul dengan kehadiran bangsa barat pada abad ke-16. Mereka adalah para pedagang yang menilai naskah-naskah tersebut akan mendatangkan keuntungan besar seperti yang terjadi di daerah Eropa dan Timur Tengah.
  • Setelah mengumpulkannya dari pesantren atau kuil-kuil, mereka menjualnya ke Eropa.
  • Seseorang yang dikenal bergerak dalam usaha perdagangan naskah tersebut adalah Peter Floris atau Peter Willemsz van Elbinck.
  • Di zaman VOC usaha mempelajari bahasa-bahasa nusantara hampir terbatas pada bahasa Melayu, karena dengan bahasa Melayu mereka sudah dapat berhubungan dengan bangsa pribumi dan bangsa asing yang mengunjungi kawasan ini, seperti India, Cina, Arab, dan bangsa Eropa lainnya.
  • Peranan para saudagar atau pedagang sebagai pengamat bahasa, sedangkan pembacaan naskah-naskah dilanjutkan oleh para penginjil, yang oleh VOC dikirim ke nusantara dalam jumlah besar selama 2 abad pertama.
  • Pada tahun 1629, tiga puluh tiga tahun setelah tibanya kapal Belanda pertama di kepulauan nusantara, terbitlah terjemahan Alkitab yang pertama dalam bahasa Melayu. Nama penerbitnya Jan Jacobsz Palenstein, sedang nama penerjemahnya Albert Cornelisz Ruil.
  • Kehadiran tenaga penginjil yang dikirim oleh NBG (Nederlansche Bybelgenootschap) ke Indonesia dengan bekal ilmu pengetahuan linguistik telah mendorong tumbuhnya kegiatan untuk meneliti naskah-naskah dari berbagai daerah.
  • Pada abad ke-20 banyak diterbitkan naskah-naskah keagamaan, baik naskah Melayu maupun naskah Jawa, hingga kandungan isinya dapat dikaji oleh ahli teologi serta selanjutnya mereka menghasilkan karya ilmiah dalam bidang tersebut.
  • Naskah-naskah Sejarah yang telah banyak disunting dapat dimanfaatkan oleh ahli Sejarah.
  • Kegiatan Filologi terhadap naskah-naskah Nusantara telah mendorong berbagai kegiatan ilmiah yang hasilnya telah dimanfaatkan oleh berbagai disiplin, terutama disiplin humaniora dan ilmu-ilmu sosial.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :