Belajar Berimaji

Mari Berimaji!

Dolanan : Bermain untuk Hidup dan Hidup untuk Bermain

diposting oleh dini-ardianty-fib10 pada 14 June 2015
di Tradisi - 0 komentar

Dolanan : Bermain untuk Hidup dan Hidup untuk Bermain

Dini Ardianty

 

            Yo poro konco dolanan ing njobo

            Padhang bulan, padhange koyo rino

            Rembulane sing sing ngawe-awe

            Ngelingake ojo podo turu sore

 

            Lagu di atas agaknya tidak hanya berlaku di malam-malam padhang bulan bagi saya. Saya masih ingat ketika ibu saya menyuruh saya untuk keluar rumah dan bermain bersama bocah lainnya setelah jam belajar usai. Menurut beliau bermain dapat menghilangkan stres setelah seharian dijejali berbagai materi di sekolah. Benar saja, saya masih ingat betapa gembiranya ketika telapak kaki saya menyentuh tanah lapang dan berlarian bersama kaki-kaki kecil lainnya. Bibir kami tidak lelah menyanyikan lagu-lagu dolanan untuk mengiringi berbagai macam permainan. Biasanya setelah cukup lama kami merasa bosan dan memutuskan untuk berganti permainan. Dalam satu waktu kami bisa memainkan tiga sampai empat permainan. Tentu malam-malam di akhir pekan adalah malam-malam yang sangat ditunggu-tunggu karena kami bisa bermain lebih lama.

            Sewaktu masih kecil saya tidak pernah menganggap lebih arti sebuah permainan. Yang penting saya berusaha, entah menang atau kalah yang penting gembira. Meski sesekali adu mulut itu tetap ada. Tidak pernah pula terlintas di benak saya mengapa ibu saya selalu menyarankan untuk bermain di luar rumah. Saat itu saya hanya menyimpulkan bahwa bermain akan lebih asyik jika dilakukan beramai-ramai.

            Ketika saya sudah mulai beranjak dewasa, saya sudah jarang menemukan bocah-bocah yang berlarian kesana kemari dengan suara teriakan di sana-sini. Saya juga jarang menemukan bocah-bocah yang keluar rumah sesaat setelah pulang sekolah atau malam hari sesudah belajar. Justru yang saya temukan adalah teriakan yang terkadang disertai umpatan yang berasal dari tempat-tempat penyewaan play station serta warnet-warnet yang ramai dipenuhi bocah usia sekolah. Saya jadi mempertanyakan apakah orangtua mereka sudah mengetahui keberadaan mereka di tempat-tempat tersebut. Juga berapa waktu yang mereka habiskan setiap kali bermain. Jika saya masih bocah, mungkin saya masih akan mempertanyakan keasyikan bermain beramai-ramai di lapangan ataukah bermain secara sendirian atau hanya dengan dua-tiga orang saja.

            Saya sempat iseng mengamati apa yang mereka mainkan sehingga mereka begitu asyik dan seakan tidak peduli dengan keadaan sekitar. Dan di saat itu pula saya baru sadar bahwa beberapa di antara mereka secara tidak langsung telah dibentuk sebagai pribadi yang keras, brutal, serta individualis. Permainan-permainan yang mereka mainkan sebagian besar mengarah pada kekerasan dan kebrutalan yang seharusnya belum mereka saksikan sendiri di usia mereka.

            Berbeda dengan permainan tradisional yang sewaktu kecil dulu sering saya mainkan. Permainan seperti gobak sodor, cublak-cublak suweng, patil lele, egrang, ular naga, dan masih banyak lagi sejatinya merupakan gambaran mini mengenai kehidupan manusia. Dalam permainan yang dimainkan berkelompok seperti ular naga misalnya, kita dituntut untuk saling menjaga agar kawan kita tidak lepas dan akhirnya diambil oleh lawan dan menjadi bagian dari mereka. Dari permainan tersebut kita dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, bahwa kita harus saling menjaga satu sama lain agar tidak tercerai berai dan berdampak pada hubungan antar individu.

            Dalam sebuah permainan pasti ada kalah dan menang. Kalah dan menang ditentukan oleh seberapa keras kita berusaha untuk mencapai hasil yang terbaik. Kemenangan bukan berarti sebuah pencapaian mutlak atas suatu prestasi. Kemenangan hanya sebagian kecil dari kesenangan yang bisa berpindah dari tangan kita jika kita tidak pintar-pintar mengatur strategi. Begitu pula dengan kekalahan yang tidak semerta-merta menyiratkan keterpurukan. Akan tetapi selalu ada kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya, yang memungkinkan kita untuk meraih kemenangan, tentu saja asalkan kita mau berusaha. Hal itulah yang ingin ditanamkan dalam permainan tradisional yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari bahwa siapa yang berusaha lebih keras maka dialah yang akan mendapatkan hasil yang diinginkan.

            Hal lain yang paling asyik dari bermain permainan tradisional adalah saat kita menapakkan kaki di tanah dan menghirup udara segar. Udara segar di luar ruangan menurut saya dapat membuat kita lebih peka. Kita akan lebih menghargai alam sebagai suatu komponen yang keberadaannya tidak bisa kita lupakan, juga menimbulkan kepekaan terhadap rangsangan sensoris. Orang-orang tua zaman dulu menganjurkan agar anak-anak dibiarkan sesering mungkin bermain tanah. Hal itu bukan tanpa maksud. Menurut mereka, tanah adalah simbol kehidupan, tempat manusia bermula dan berakhir. Tanah juga adalah representasi dari karunia Tuhan atas manusia, di mana segala sesuatu yang menjadi kebutuhan manusia keluar darinya. Terlebih lagi tanah memiliki sifat-sifat menyerupai seorang ibu, sehingga muncul ungkapan, “Biarkan anak-anak bermain tanah supaya mereka jadi dekat dengan ibunya”.

            Kita tentu masih ingat dengan kalimat “Hompimpa alaihum gambreng”. Kalimat tersebut selalu digunakan saat kita akan memulai suatu permainan atau menentukan siapa yang akan bermain terlebih dahulu. Kalimat tersebut seakan hanya merupakan kalimat sepele pembuka permainan. Akan tetapi jika kita telaah lebih dalam, kalimat tersebut mirip dengan mantra bahasa Sansekerta yang berarti “dari Tuhan, kembali ke Tuhan, mari kita bermain”. Dari Tuhan, kembali ke Tuhan, menggambarkan fase kehidupan manusia dan seluruh alam, bahwa segala yang ada di dunia berasal dari sang Pencipta semuanya akan kembali kepada-Nya. Kalimat tersebut seakan mengingatkan kita untuk mengingat fase kehidupan manusia dan alam semesta tersebut, sehingga dengan demikian kita akan menjalani kehidupan dengan sikap positif.

            Jika ditarik benang merah dari semua jenis permainan tradisional, baik permainan secara fisik maupun non-fisik, mengajarkan kita untuk senantiasa memperjuangkan hidup dan mengingat Tuhan. Nenek moyang kita tidak semata-mata membuat segala permainan yang kini kita nikmati hanya sekedar sebagai permainan belaka, tetapi juga memuat pitutur sebagai pegangan dalam menjalani hidup.

Sayangnya saat ini permainan tradisional mulai jarang dimainkan. Anak zaman sekarang lebih senang bermain permainan modern yang menyajikan kesenangan berbalut kekerasan. Belum lagi lahan kosong untuk bermain yang mulai berkurang. Juga orangtua zaman sekarang yang lebih merasa nyaman ketika anaknya bermain di rumah.

Melihat ajaran luhur yang terselip dalam permainan tradisional, juga manfaat permainan tradisional bagi perkembangan karakter, sudah sepatutnya kita menjaga dan melestarikan salah satu warisan budaya tersebut. Sejatinya kita hidup untuk bermain-main dalam dunia ini, tentu saja bermain untuk mencapai tujuan akhir, yaitu kemenangan abadi. Siapa bilang bermain hanya untuk anak-anak? Maka bermainlah untuk hidup dan hiduplah untuk bermain. Mari bermain!

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :