Belajar Berimaji

Mari Berimaji!

Struktur Sejarah Nabi Muhammad Sebagai Transformasi Teks Sastra Jawa

diposting oleh dini-ardianty-fib10 pada 14 June 2015
di Filologi - 0 komentar

Mencoba menulis tentang Serat "Sejarah Nabi Muhammad" yang tersimpan rapi di Museum Mpu Tantular. Selamat membaca!

 

Struktur Sejarah Nabi Muhammad Sebagai Transformasi Teks Sastra Jawa

Dini Ardianty

 

 

 

Agama Islam mulai dikenal oleh masyarakat nusantara kurang lebih pada abad ke- 9 Masehi (M). Beberapa abad berikutnya, kontak komunitas nusantara ini semakin berkembang dengan adanya aktifitas perdagangan. Pada masa ini pedagang asing yang beragama Islam bergaul lebih intens dengan masyarakat nusantara. Kemudian pada abad ke- 15 dan 16, agama Islam semakin menyebar luas dan berkembang pesat dengan peranan para wali yang membentuk basis utama di daerah Pesisir Pulau Jawa seperti Tuban, Gresik, Jepara, Demak, Cirebon, Banten, dan lain-lain.

Tidak banyak tulisan yang mengungkap masuknya Islam ke Madura. Akan tetapi beberapa legenda dan bukti-bukti masuknya keberadaan Islam di Madura dapat dilihat dari peninggalan-peninggalan masa lalu. Seperti legenda mengenai Lembu Petteng, keturunan Majapahit yang memerintah Sampang, yang telah memeluk agama Islam, serta batu nisan Sayyid Ahmad Baidowi, salah satu cucu Sunan Kudus yang menyebarkan agama Islam di Sumenep yang pada nisannya tertulis angka tahun 1248 Saka atau 1412 Masehi. Dari kedua hipotesis tersebut, Islam diperkirakan masuk ke Madura tidak memiliki rentang yang jauh setelah Islam masuk ke pulau Jawa.

Terlepas dari perdebatan mengenai masuknya Islam ke Madura, agama Islam sendiri telah sedemikian merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Madura. Sama seperti di pesisir Jawa, Islam di Madura cepat diterima oleh masyarakat mengingat secara kultural masyarakat pesisir memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda. Syam menjelaskan bahwa masyarakat pesisir cenderung terbuka dengan kebudayaan baru karena pesisir merupakan pintu gerbang interaksi dengan dunia luar.

Salah satu cara yang dilakukan dalam penyebaran agama Islam adalah melalui kesenian, yaitu seni sastra. Sastra sendiri tidak terbatas pada sastra tulis atau cetak, tetapi juga dapat mengacu pada sastra lisan[1]. Jika dilihat dari tradisi menulis di nusantara, di Indonesia sendiri tradisi menulis sudah banyak dilakukan sejak zaman Hindu. Para pujangga keraton menuliskan kitab-kitab suci maupun menggubah cerita-cerita dari India. Akan tetapi hal tersebut hanya terbatas pada lingkup keraton, sebagaimana sesuai dengan tradisi yaitu penulis atau pembaca kitab-kitab tersebut adalah kaum Brahma.

Sedangkan di masyarakat bawah berkembang sastra lisan. Seperti yang diungkapkan Amir (2013: 10) bahwa sastra lisan hidup di tengah masyarakat yang tradisional, yang hidup dalam suasana lisan, yang tidak membaca, bahkan buta huruf. Walter J. Ong dalam Amir (2013, 12) menyebutkan bahwa tradisi lisan hidup di tengah masyarakat yang sama sekali belum tersentuh tulisan. Masyarakat pesisir utara Jawa dan Madura sendiri jika kita lihat secara mata pencaharian adalah nelayan, petani, dan masyarakat kelas sosial menengah ke bawah yang cukup jauh dari kebudayaan keraton. Sehingga mereka kurang dapat menikmati sastra tulisan. Sastra tulis di daerah pesisir sendiri berkembang setelah masuknya agama Islam. Hal ini dikarenakan Islam tidak mengenal perbedaan strata, sehingga siapa saja boleh mempelajari ilmu pengetahuan termasuk sastra dan tulisan.

 

Struktur Naskah Sejarah Nabi Muhammad

Bahasa merupakan salah satu sarana penyampaian ide dan gagasan. Selain itu bahasa juga dapat diartikan sebagai sistem tanda yang memiliki arti dan maksud tertentu. Dalam sastra, tidak hanya bahasa yang dapat dijadikan penanda identitas, hal-hal lain seperti aksara, isi, tema, serta struktur juga merupakan penanda identitas yang menyertai kekhasan sastra tersebut. Sastra pesisir, terlebih pesisir Madura, memiliki penanda identitas sendiri yang tentu saja berbeda jika dibandingkan dengan sastra lainnya, seperti sastra Jawa yang merupakan akar sastra Madura misalnya.

Manuskrip Sejarah Nabi Muhammad (selanjutnya disingkat SNM) misalnya. Manuskrip yang ditulis di Madura ini mencoba untuk menandai identitasnya sebagai sastra pesisir Madura yang berbeda dengan sastra Jawa. Seperti yang kita ketahui, sastra Jawa merupakan sastra yang lahir dari tradisi keraton yang pakem, sehingga terikat pada aturan-aturan tertentu yang tidak boleh dilanggar. Misalnya saja tembang macapat yang terikat pada metrum yang terdiri dari guru gatra, guru wilangan, serta guru lagu. Penulis sastra yang lahir dari tradisi keraton juga bukanlah sembarang orang, melainkan orang-orang pilihan. Hal ini dikarenakan di lingkungan keraton masih terdapat sekat antara masyarakat kelas sosial tinggi yang telah mengenal aksara dan masyarakat kelas sosial rendah yang belum mengenal aksara. Sedangkan sastra di daerah pesisir lebih berkembang karena siapa saja boleh menulis dan mengembangkan sastra, mengingat di daerah pesisir tidak terdapat kelas-kelas sosial.

Jika kita lihat secara struktur, SNM ini merupakan tembang macapat. Akan tetapi tidak seperti macapat yang ditulis di keraton yang memiliki aturan yang pakem, struktur SNM cenderung tidak sesuai dengan aturan macapat yang berlaku. Misalnya saja yang terdapat pada pupuh Durma berikut ini

ingiring diiwi Khatija                                                                        (8a)

ing umahi sampun perapta alinggi                                                                 (12i)

ajajar pangantan arum widaderi suwarga perapta                    (23a)

anglalini pan kaliwat ayu nipun                                                     (12u)

wung tumingal warna2                                                                      (8a)

wunten mangang cangkemiki.                                                          (8i)

 

nitera nipun tan pakedhang                                                             (9a)

wunten lali (ada coretan dengan pensil) laki anu rabi                              (10i)

wunten sukul jangsa nipun                                                                               (8u)

datan kawarna diningwang                                                             (8a)

kang kawarna umahi Khatija iku                                                    (12u)

atarib kaca sadaki                                                                              (8i)

alalasi sutera kangadi.                                                                      (10i)

 

alalangit surya lan lintang                                                               (9a)

sami emas muteyara kang ginawi                                                    (12i)

kara ngulun mas abang mu rub                                                       (9a)

lalamak sutera diwangga                                                                  (9a)

diwi Khatija kalawan jeng rasul                                                     (11u)

asadhangi ing jeru kadhateyan                                                       (11a)

gumilang2 cahyani                                                                             (9i)

 

Dalam tembang macapat, Durma biasanya menggambarkan cerita-cerita yang berwatak keras seperti perkelahian atau peperangan. Metrum dalam pupuh Durma adalah sebagai berikut 12/a, 7/I, 6/a, 7/a, 8/ I, 5/a, 7/I. Jika kita perhatikan bait pertama di atas hanya terdiri dari enam baris, hal ini berbeda dengan aturan pupuh Durma yang sejatinya terdiri dari tujuh baris tiap baitnya. Begitupula dengan bait-bait setelah itu yang sangat berbeda dengan aturan metrum pupuh Durma dalam tembang macapat.

Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan terjadinya perbedaan metrum tersebut. Salah satunya adalah karena adanya keinginan untuk keluar dari pakem yang berlaku dan menunjukkan identitas pesisir, terutama pesisir Madura. Secara teori, ketika suatu daerah berada jauh dari pusat pemerintahan, maka aturan yang berlaku atau identitas mengenai pemerintahan itu sendiri akan samar, berbeda dengan daerah di sekitar pemerintahan.

Misalnya saja dalam segi bahasa, di Jawa, masyarakat di daerah keraton seperti di Yogyakarta dan Surakarta akan cenderung akan menggunakan bahasa Jawa kromo yang merupakan hegemoni keraton untuk membedakan antara penguasa dan rakyat jelata. Sedangkan masyarakat yang jauh dari daerah pemerintahan keraton Yogyakarta maupun Surakarta terutama daerah pesisir utara Jawa, lebih akrab dengan bahasa Jawa ngoko, karena persamaan status sosial yang berlaku dalam masyarakat.

Selan itu tidak adanya pakem dalam sastra pesisir juga berkaitan dengan sikap atau pandangan hidup masyarakat yang hidup di daerah pesisir. Lombard misalnya, tetap menempatkan ”pesisiran” sebagai bagian utama tipografi Pulau Jawa, selain Sunda dan Jawa. Analisisnya berdasarkan pada kajian historiografis, sosiologis, dan antropologis menunjukkan, mental pesisiran manusia Indonesia menghadirkan sikap petarung yang kreatif, bloko suto (terbuka), egaliter, dan akomodatif pada kemajuan. Sementara kultur kuasa di pedalaman (keraton) cenderung menghadirkan sikap priayi yang feodal, menutup diri, dan takut kehilangan kuasa. Kekuasaan menjadi perebutan dan identitas yang justru memperlemah mental intelektual atau pejuangnya.

Sifat masyarakat pesisir tersebut juga dipengaruhi oleh interaksi masyarakat lokal dengan masyarakat luar kebudayaan sehingga menghasilkan pertukaran maupun akulturasi budaya. Maka tidak heran jika sastra yang tercipta dalam lingkup kebudayaan pesisir memiliki perbedaan dalam segi struktur dibandingkan dengan sastra keraton. Sastra di daerah pesisir lebih fleksibel, sedangkan sastra keraton bersifat pakem.

 

Intertekstualitas Sastra Jawa dan Sastra Madura

Pada masa awal masuknya Islam, banyak masyarakat Madura yang menimba ilmu agama di pesantren di pulau Jawa. Dari sanalah santri menyalin teks-teks maupun menulis kembali pelajaran yang diterima dari pengajar. Sehingga dapat dipetakan akar pemikiran sastra Madura yang merupakan transformasi dari sastra Jawa.

Jika kita lihat dalam naskah tersebut, bahasa yang digunakan adalah bahasa Madura yang terpengaruh struktur bahasa Jawa. Misalnya saja ‘diiwi’ yang merupakan kata dalam bahasa Madura. Dalam bahasa Jawa kita tidak akan menemui kata ‘diiwi’ melainkan dewi. Begitupula dengan ‘ajajar’ yang berarti berjajar. Kata ‘ajajar’ merupakan bahasa Madura yang terpengaruh oleh bahasa Jawa. Awalan ‘a’ dalam bahasa Madura menunjukkan kalimat aktif. Dalam bahasa Madura kita tidak menemukan kata ‘ajajar’ melainkan ‘ajhajhar’. Akan tetapi penulis menyamarkan kata tersebut seolah-olah sama dengan bahasa Jawa. Selain dua kata tersebut masih banyak kata-kata bahasa Madura yang terpengaruh bahasa Jawa dalam naskah tersebut.

Menurut Riffatere, intertekstualitas berarti interpretasi menyeluruh terhadap karya sastra yang mengacu pada teks-teks lain baik secara harfiah maupun teks dalam pengertian universal. Secara khusus, terdapat teks tertentu yang dijadikan acuan dalam penciptaan suatu karya, yang disebut dengan teks hiporgram. Sedangkan teks yang menyerap dan merupakan turunan dari teks hipogram disebut teks transformasi.

Interpretasi sangat bergantung pada penerimaan dan pengalaman baca dari masing-masing pembaca. Sehingga antara satu pembaca dengan lainnya akan memiliki interpretasi berbeda dalam suatu karya sastra. Dalam intertekstualitas, penulis dapat menuliskan hal yang sama (bersikap positif) maupun berbeda (bersikap negatif) dengan teks hipogramnya. Sehingga wajar apabila naskah Sejarah Nabi Muhammad yang secara struktur dan bahasa merupakan teks transformasi dari teks yang lahir dari tradisi sastra Jawa terdapat perbedaan dengan teks hipogramnya.

Mengenai perbedaan dengan teks Jawa, seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa selain menunjukkan lokalitas dan berhubungan dengan sifat atau kebiasaan masyarakat setempat, naskah ini juga ditengarai sebagai naskah yang berasal dari tradisi lisan. Sehingga teks yang baru mengalami penyesuaian sesuai dengan ingatan dan interpretasi penyalin.

 

Daftar Bacaan

 

Ali, Mochamad. 2012. Urgenitas Bahasa Jawa Kitabi sebagai Identity Marker Kitab-kitab

Turats Al-‘Arabi di Pesantren Jawa Timur. Materi kuliah.

Amir, Adriyeti. 2013. Sastra Lisan Indonesia. Yogyakarta : Penerbit Andi.

Danandjaja, James. 1982. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain. Jakarta:

Grafiti.

Poerbatjaraka. 1950. Kapustakaan Djawi. Jakarta : Djambatan.

Purwadi. 2008. Sejarah Sastra Jawa Klasik. Yogyakarta : Panji Pustaka.

Ridwan. 2005. Dialektika Islam dengan Budaya Jawa. Ibda’ Jurnal Studi Islam dan Budaya. Vol.3. (No.1). 18-32

Syam, Nur. 2015. Islam Pesisir. Yogyakarta: LkiS Pelangi Aksara.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan (diterjemahkan oleh

Melani Budianta). Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Teeuw, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra : Pengantar Teori Sastra. Jakarta :

Girimukti Pasaka.



[1] Reene Wellek dan Austin Waren dalam bukunya yang berjudul “Teori Kesusastraan” menyebutkan bahwa istilah sastra dalam bahasa Inggris ‘litterature’ hanya mengacu padahal seharusnya kesusastraan juga meliputi sastra lisan

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :