Belajar Berimaji

Mari Berimaji!

Assaf dan Hymne untuk Palestina, Sebuah Propaganda (?)

diposting oleh dini-ardianty-fib10 pada 21 July 2015
di corat-coret - 0 komentar

 Sudah lama saya menaruh perhatian pada konflik berkepanjangan yang terjadi di tanah Palestina –tanpa abai pada persoalan di negeri sendiri. Bagi saya, konflik ini lebih dari sekedar konflik agama, namun sudah menyebar ke ranah politik, ekonomi, bahkan yang akhir-akhir ini sedang marak adalah propaganda (kalau boleh saya menyebutnya demikian) yang diusung melalui budaya pop.

Sejak tahun dua ribuan, seniman-seniman Palestina mulai mengusung tema-tema perjuangan, kebebasan, serta sedikit mengeksploitasi penderitaan yang terjadi di negerinya dalam bentuk karya sastra, musik, maupun film untuk menarik perhatian dunia. Karya seniman-seniman tersebut timbul-tenggelam bersamaan dengan tragedi penyerangan dan perjanjian damai yang berulang kali digagas dan berulang kali pula digagalkan antara Israel dan Palestina.

Akhir tahun 2008, penyanyi Amerika Serikat keturunan Suriah, Michael Heart, menarik simpati masyarakat dunia lewat sebuah lagu berjudul We Will Not Go Down yang diunggah di situs pribadi miliknya. Hingga saat ini, lagu itu seakan menjadi soundtrack bagi stasiun televisi yang menyiarkan tragedi kemanusiaan yang terjadi di Palestina maupun acara-acara penggalian dana yang dilakukan oleh lembaga-lembaga tertentu.

We Will Not Go Down menggambarkan kegigihan rakyat Palestina di tengah blokade yang terjadi di negaranya. Paling tidak, Michael Heart telah membuka mata saya –yang saat itu masih berstatus pelajar SMA- bahwa masih ada orang Amerika yang peduli terhadap Palestina (saat itu saya berpikir bahwa semua orang Amerika mengamini penyerangan di negara-negara Timur Tengah).

Pada pertengahan tahun 2013, seorang pemuda berkebangsaan Palestina menarik perhatian publik Arab maupun dunia setelah memenangi kontes menyanyi “Arab Idol”. Mohammed Assaf –nama pemuda itu- yang tinggal di kamp pengungsian Khan Younis di jalur Gaza, tidak hanya memiliki suara merdu, namun juga kisah hidup yang dramatis.

Selama mengikuti kontes Arab Idol, Assaf banyak membawakan folk song maupun lagu bertema perjuangan rakyat Palestina. Di salah satu penampilannya, ia tampil membawakan folk song Palestina yang berjudul Ya Teer el Tayeer (Oh Burung yang Terbang) sembari mengenakan keffiyeh –penutup kepala khas Arab (di Indonesia disebut sorban) yang menjadi simbol perlawanan di Palestina. Penampilan tersebut mengundang protes PM Israel. Ia menganggap bahwa lagu tersebut mengandung provokasi, ada beberapa kota yang kini menjadi wilayah Israel di lagu tersebut disebut sebagai wilayah Palestina. Kota-kota itu adalah Acre, Haifa, dan Nazareth.

Di malam final, Assaf kembali mengundang perhatian dunia dengan membawakan lagu Al el Keffiyeh (Sebuah Keffiyeh). Lagu tersebut menceritakan kemenangan yang diidam-idamkan rakyat Palestina. Lagu itulah yang kemudian mengantarkannya menjadi juara.

Jika ada yang mengatakan bahwa kemenangan Assaf semata-mata karena cerita hidupnya sebagai pengungsi Palestina, saya tidaklah setuju. Juni 2013 –saat final Arab Idol dihelat- Mesir menjadi pusat perhatian dunia karena bentrokan yang terjadi antara kelompok pendukung mantan presiden Musi dan militer. Ahmed Gamal, juara kedua Arab Idol yang juga merupakan saingan terberat Assaf berasal dari Mesir dan tidak jauh berbeda dengan Assaf –ia sering membawakan lagu-lagu bertema nasionalisme.

Tidak lama setelah kemenangannya, Assaf didaulat untuk menjadi duta UNRWA (lembaga PBB untuk pengungsi Palestina). Dalam salah satu wawancaranya, Assaf pernah berujar bahwa sebelum menjadi seperti sekarang, ia telah menjadi salah satu penyanyi lokal yang khusus membawakan hymne atau lagu-lagu nasionalis, maka lagu-lagu yang akan dibawakannya tidak akan jauh-jauh seputar tema tersebut. Ia kemudian membuktikannya dengan merilis single Ya Halali Ya Mali (Kekayaan Saya yang Sah) yang menceritakan tentang kekayaan bumi Palestina.

                Nazareth merupakan salah satu kota yang berpenduduk keturunan Arab paling banyak di wilayah Israel. Kota itu pulalah yang menjadi saksi sejarah bagi Assaf yang sukses menggelar konser pertama di kota di utara Tepi Barat itu. Assaf yang menjadi bulan-bulanan di Israel menggelar konser dengan pengamanan khusus.

                Juni 2014, Assaf diundang untuk menyanyi di FIFA Congress yang merupakan rangkaian acara FIFA World Cup Brazil. Awalnya ia didaulat untuk menyanyi bersama penyanyi latin Shakira di acara pembukaan, namun karena lagi-lagi PM Israel melayangkan protes pada FIFA dan berdalih bahwa dengan penampilan Assaf di pembukaan perhelatan akbar sepak bola tersebut akan menimbulkan simpati untuk Palestina dan mengintimidasi Israel. Maka kemudian FIFA mengumumkan bahwa Assaf tidak jadi tampil di pembukaan FIFA World Cup. Namun kekecewaan tersebut terbayar ketika FIFA kembali mengundangnya untuk menyanyi di FIFA Congress sehari sebelum perhelatan FIFA World Cup.

Juli 2014, Gaza porak poranda akibat serangan udara Israel. Serangan yang dilakukan pada saat umat muslim melaksanakan ibadah puasa itu menggugah nurani Assaf untuk mengeluarkan sebuah single berjudul Raise Your Head High. Dalam singlenya ini ia menyertakan subtitle bahasa Inggris agar pesan dalam lagunya dapat tersampaikan pada seluruh dunia –saat ini penggemar Assaf tidak hanya berasal dari Arab, namun telah merambat ke berbagai belahan dunia. Tidak lama setelah itu, Assaf berkolaborasi dengan beberapa penyanyi Palestina dan mengeluarkan single berjudul Gaza War.

Tidak dipungkiri bahwa Assaf telah menumbuhkan kecintaan dunia –khususnya ekspatriat Palestina untuk kembali memalingkan wajah ke bumi Palestina. Mohammed Assaf memang bukanlah satu-satunya seniman Palestina yang menyampaikan pesan perdamaian kepada seluruh dunia. Sebelumnya Lian Bazlamit –penyanyi Yordania keturunan Palestina- yang telah lebih dahulu terjun di dunia tarik suara juga memiliki misi yang sama, meski karya-karya bertema Palestina bukan merupakan prioritas utama baginya.

Bagi saya, kemunculan penyanyi-penyanyi Palestina seiring dengan blokade dan beberapa kali serangan yang dilancarkan Israel, bukan hanya sebagai sarana ekspresi mereka menyuarakan ketidakadilan yang mereka alami, namun juga sebagai sarana estetik untuk melakukan propaganda secara halus setelah berbagai perundingan dan jalan diplomasi yang ditempuh tidak juga membuahkan kemerdekaan bagi rakyat Palestina. Apapun itu, semoga seni yang dihadirkan seniman-seniman Palestina adalah bentuk ekspresi yang positif sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan tanpa memandang ras, agama, dan batas negara.

 

Gresik, 21 Juli 2015

Dini Ardianty

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :