Belajar Berimaji

Mari Berimaji!

Penyusunan Sejarah Sastra Indonesia dan Politik yang Menyertainya

diposting oleh dini-ardianty-fib10 pada 03 November 2012
di Sastra - 1 komentar

 

Dini Ardianty

121011002

 

 

Sejarah sastra merupakan ilmu yang memperlihatkan perkembangan karya sastra dari waktu ke waktu. Sejarah sastra bagian dari ilmu sastra yaitu ilmu yang mempelajari tentang sastra dengan berbagai permasalahannya. Selain sejarah sastra, dalam ilmu sastra juga terdapat teori sastra dan kritik sastra, dimana ketiga hal tersebut saling berkaitan.

Sejarah perkembangan sastra Indonesia sendiri pada saat ini masih banyak menimbulkan perdebatan di antara ahli. Para ahli tersebut melakukan penyusunan sejarah sastra berdasarkan argumen yang sama-sama kuat. Mereka diantaranya HB Jassin, Ajip Rosidi, Bakri Siregar, dan masih banyak lagi. Penyusunan sejarah memang seringkali bersifat subjektif karena tergantung pada kepentingan si penyusun, sehingga perbedaan-perbedaan tersebut akan selalu ada.

 

Mengenai Batasan Sastra Indonesia

 

Sampai saat ini belum ada kesepakatan mengenai awal kemunculan sastra Indonesia. Hal tersebut disebabkan karena tidak adanya suatu batasan yang jelas mengenai bentuk sastra Indonesia itu sendiri, seperti bahasa yang digunakan serta karakteristik sastra yang menunjukkan keindonesiaan karya itu sendiri. Ditambah lagi Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai suku dan golongan dengan sosial dan budaya yang berbeda. Hal tersebut menambah rumit pemetaan sastra Indonesia itu sendiri. Sehingga kita perlu memetakan kembali batas-batas antara sastra Indonesia dengan sastra daerah.

Mengenai bahasa yang digunakan pada sastra Indonesia sampai sekarang masih mengalami perdebatan, apakah yang dimaksud dengan sastra Indonesia merupakan karya-karya sastra yang menggunakan bahasa Indonesia atau tidak harus menggunakan bahasa Indonesia. Karena jika kita hanya merujuk pada karya sastra yang menggunakan bahasa Indonesia, bagaimana dengan karya sastra yang ditulis oleh pengarang dari luar bangsa Indonesia (Indonesianis) menggunakan bahasa Indonesia?

Pertanyaan di atas terkait dengan boleh tidaknya sebutan karya sastra Indonesia bagi karya dari pengarang asing yang menulis menggunakan bahasa Indonesia. Selama ini masyarakat memahami bahwa sastra Indonesia merupakan karya sastra yang ditulis oleh penulis Indonesia. Akan tetapi, bagaimana jika ada penulis asing yang menuliskan karyanya dalam bahasa Indonesia. Bagaimana pula dengan penulis Indonesia yang menuliskan karyanya dalam bahasa asing? Hal tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam penyusunan sejarah kesusastraan Indonesia.

Kembali ke persoalan bahasa yang digunakan dalam sastra Indonesia, jika kita hanya menggunakan patokan bahasa Indonesia sebagai tolak ukur menentukan awal mula lahirnya sastra Indonesia, kita perlu mengingat bahwa bahasa Melayu merupakan cikal bakal bahasa Indonesia. Sebelum menggunakan bahasa Indonesia, karya sastra yang berada di Indonesia menggunakan media bahasa Melayu maupun bahasa daerah. Jika demikian, apakah karya-karya tersebut tidak dianggap sebagai bagian dari kesusastraan Indonesia?

Hingga sekarang ketimpangan-ketimpangan tersebut memang belum mencapai kesepakatan untuk menentukan batasan mengenai apa yang disebut dengan sastra Indonesia.

 

Sastra Melayu Klasik: Sastra Indonesia Tradisional

 

Tradisi menulis sastra dalam masyarakat Indonesia sebenarnya telah berlangsung sejak lama, bahkan sebelum bahasa Melayu menjadi lingua franca di wilayah Indonesia, terutama Indonesia bagian timur.

Masyarakat Indonesia diperkirakan mulai menulis karya sastra sebagai akibat dari pengaruh India yang masuk bersama agama Hindu. Karya-karya tersebut masih dianggap sebagai sastra Jawa. Kemudian kesusastraan Melayu semakin memberikan pengaruhnya ketika mulai banyak ditemukan pengaruh-pengaruh Melayu dalam sastra daerah. Bentuk-bentuk seperti pantun, gurindam, dan hikayat yang sering kali disebut puisi Indonesia lama merupakan beberapa contoh bentuk-bentuk sastra Indonesia lama (Melayu klasik).

Kesusastraan Melayu klasik kemudian masih dibagi berdasarkan cerita yang mendasarinya, yaitu sastra zaman peralihan Hindu-Islam dan sastra zaman Islam. Bahasa yang digunakan dalam karya-karya sastra Melayu klasik memang belum menggunakan bahasa Indonesia, melainkan masih menggunakan bahasa daerah dan bahasa Melayu. Akan tetapi sastra ini dapat dikatakan merupakan bagian dari sastra Indonesia jika telah ditentukan batasan yang jelas mengenai bahasa yang digunakan dalam sastra Indonesia itu sendiri.

 

 

 

Sastra Indonesia Modern, Balai Pustaka, dan Campur Tangan Belanda

 

Selama ini kita telah dihadapkan pada pemahaman mengenai sejarah Sastra Indonesia yang dimulai pada periode Balai Pustaka yang dimulai pada tahun 1920-an. Sebuah karya dari Merari Siregar yang berjudul “Azab dan Sengsara” (1920) dianggap menjadi tonggak awal kemunculan sastra Indonesia. Dua tahun kemudian, Marah Roesli dengan karyanya yang berjudul “Siti Nurbaya” seakan menjadi karya masterpiece dalam kesusastraan Indonesia. Balai Pustaka atau Kantor Bacaan Rakyat merupakan suatu lembaga penerbitan yang didirikan oleh Belanda tidak semata-mata untuk kepentingan penerbitan karya-karya sastra, akan tetapi juga ada suatu usaha untuk ‘menertibkan’ karya-karya sastra pada zaman tersebut.

Pemerintah Belanda berharap dengan adanya Balai Pustaka, apa yang dibaca masyarakat akan lebih terkontrol dan bebas dari unsur propaganda yang dapat mengembangkan pemikiran masyarakat Indonesia ke arah yang lebih maju. Apalagi pada zaman itu sebagian golongan bangsawan telah mengenyam pendidikan sebagai dampak dari Politik Balas Budi yang dijalankan pada masa itu.

Bahkan Belanda juga mencoba untuk menanamkan pemikiran pada masyarakat bahwa karya-karya yang diterbitkan selain oleh penerbit Balai Pustaka merupakan “sastra liar” yang tidak bermutu dan tidak layak untuk dibaca. Hal tersebut dimaksudkan agar masyarakat tidak berpaling dari bacaan yang diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Bacaan-bacaan yang diterbitkan Balai Pustaka pada masa tersebut kebanyakan berkutat mengenai adat istiadat, berlatar daerah, serta merupakan roman yang menggunakan bahasa Melayu Tinggi. Sedangkan “sastra liar” seperti yang dimaksud oleh Belanda pada masa tersebut adalah karya-karya sastra yang ditulis oleh peranakan Tionghoa yang menggunakan bahasa Melayu rendah. Sastra liar sendiri pada zaman tersebut banyak menerjemahkan karya-karya sastra dari luar negeri dan cerita silat (Mahayana, 2007:102).

Akibat dari usaha untuk mengurung masyarakat Indonesia dari ilmu pengetahuan dan dunia luar, Belanda berusaha untuk mengesampingkan karya-karya sastra masyarakat peranakan Tionghoa ini sehingga karya-karya tersebut tidak banyak diketahui dan tidak dianggap sebagai bagian dari kesusastraan Indonesia. Padahal karya-karya tersebut tidak dimungkinkan juga memiliki kualitas yang sepadan dengan terbitan Balai Pustaka.

Claudine Salmon dalam penelitiannya menyebutkan bahwa keseluruhan karya penulis peranakan Tionghoa antara tahun 1870-1960 yang berhasil dikumpulkan mencapai 3005 judul. Sedangkan Balai Pustaka yang berdiri pada 22 September 1917 hingga tahun 1928, menerbitkan tidak lebih dari 20-an bovel. Sementara penerbit-penerbit partikulir khususnya milik orang peranakan Tionghoa antara tahun 1903-1928 menerbitkan lebih seratusan novel asli karya lebih dari 15-an pengarang peranakan Tionghoa. Bahkan beberapa diantaranya mengalami cetak ulang.

Beberapa sastrawan peranakan Tionghoa yang dicatat oleh Claudine Salmon adalah Probitas (nama pena) berjudul Toedjoe Belas Tahon Dalem Resia. Satoe Tjerita Bagoes Aken Djadi Satoe Katja Bagi Gadis-Gadis Tionghoa Jang Dapet Peladjaran Eropa ( terbit tahun 1916); Tjermin (nama samaran) berjudul Rasianja satoe gadis hartawan atawa perdjalanan Nona Tan, satoe Tionghoa di Weltervreden jang terpeladjar tinggi achirnja mengandoeng baji rasia, lantaran kemerdika’annja dalam taon 1917 ( terbit tahun 1918) (catatan kaki Mahayana, 2007:52).

Sastra Melayu Tionghoa ini tak sedikit yang mengangkat persoalan gender. Bahkan beberapa penerjemah dan pengarang wanita Tionghoa itu mencoba menerbitkan majalah wanita—sejauh pengamatan—pertama yang terbit di Indonesia. Majalah itu bernama Tiong Hwa Wie Sien Po (terbit di Bogor tahun 1906). Pengelolanya adalah Thio Tjio Nio, seorang penerjemah pertama wanita peranakan Tionghoa. Pemimpin redaksinya Lim Titie Nio dan pengarang wanita lain yang karyanya dimuat dalam majalah itu antara lain, Hanna Peng dan Hoedjin Tjan Tjin Bouw.

Jika dianalogikan dengan zaman sekarang, bisa jadi pada zaman tersebut Belanda dan sebagian masyarakat menganggap bahwa karya sastra terbitan Balai Pustaka merupakan sastra kanon, sedangkan karya sastra peranakan Tionghoa merupakan sastra populer yang seringkali dianggap kurang berbobot.

Melihat kontribusi karya sastra yang ditulis oleh masyarakat Tionghoa peranakan, seharusnya kita perlu memberikan apresiasi dengan mengakui keberadaan mereka dalam kesusastraan Indonesia. Hanya saja, mungkin karena keberadaan mereka yang minoritas dan adanya usaha pemecahan oleh Belanda membuat karya mereka sering terlupakan.

 

Daftar Bacaan

 

Fang, Liaw Yock. 1991. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik. Jakarta: Penerbit Erlangga

 

Mahayana, Maman S. 2007. Ekstrinsikalitas Sastra Indonesia. Jakarta: Grafindo.

 

Rosidi, Ajip. 1986. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: Penerbit Binacipta

1 Komentar

1. yogo prakoso

pada : 24 May 2013

"saya mau tahu batasan sastra indonesia itu apa?"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :