Belajar Berimaji

Mari Berimaji!

Fenomena Sastra Islam Sebagai Produk Budaya Masa

diposting oleh dini-ardianty-fib10 pada 03 November 2012
di Sastra - 0 komentar


Dini Ardianty

121011002

 

Sebuah karya sastra lahir dari keadaan sosial budaya masyarakat yang menjadi lingkungan penciptaannya. Renne Wellek dan Austin Warren (1989: 111) menyebutnya sebagai sosiologi pengarang—yang diantaranya adalah latar belakang sosial dan ideologi pengarang—yang terlihat dari berbagai kegiatan pengarang di luar karya sastra. Berdasarkan uraian tersebut maka wajarlah jika banyak aliran sastra muncul dari banyak pengarang yang dipengaruhi oleh ekspresi dari dalam diri dan sosiologi masyarakatnya.

Misalnya Chairil Anwar dengan tema-tema patriotism dan puisi-puisi ekspresif saat kondisi Indonesia dalam masa-masa perjuangan, tema kemiskinan dan masyarakat kelas bawah yang banyak diangkat pada tahun 1960-an. Keberagaman tema karya sastra semakin variatif setelah reformasi. Sebut saja Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu dkk. dengan sastra wanginya, termasuk sastra Islami yang booming dengan label ‘Islami’ pada kemasannya.

Sastra Islam di Indonesia sebetulnya sudah lama ada, bahkan karya-karya sastra bernafaskan Islam digunakan oleh wali sanga dan tokoh-tokoh penyebar agama Islam lainnya untuk menyebarkan agama Islam di Indonesia. Setelah berdirinya Balai Pustaka yang juga merupakan tonggak awal sastra Indonesia, sudah banyak penulis yang membawa aliran ‘sastra Islam’ ini, seperti AA Navis dan Hamka. Setelah tahun 2000-an semakin banyak penulis yang mengatas namakan karyanya dengan label Islami.

Akan tetapi jika diteliti lebih jauh nilai keislaman yang ditonjolkan antara kedua zaman karya tersebut ditulis sangatlah berbeda. Karya sastra yang melabeli dirinya dengan ‘sastra Islam’ belakangan ini lebih banyak mengungkap percintaan dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan agama Islam. Sedangkan ‘sastra Islam’ klasik yang memang ditujukan untuk dakwah Islam. Untuk itu diperlukan batasan yang jelas mengenai sastra Islam ini, apakah sastra Islam merupakan sastra yang ditujukan untuk dakwah agama ataukah Sastra Islam merupakan semua sastra yang terdapat unsur-unsur keislaman di dalamnya.

 

 

Mempertanyakan Batasan ‘Sastra Islam’

 

Hingga sekarang memang tidak ada batasan secara pasti mengenai definisi sastra Islam. Liaw Yock Fang dalam “Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik” mengungkapkan bahwa pernah terjadi perdebatan mengenai batasan sastra Islam itu sendiri. Permasalahan yang diperdebatkan adalah pada apa yang dimaksud dengan sastra Islam apakah harus "mendukung nilai-nilai Islam", ataukah "berdasarkan kisah-kisah yang tersela dalam Al Qur'an dan Hadits" ataukan "hasil tulisan yang berdasarkan tauhid". Seperti yang terdapat pada petikan berikut

Apakah yang sebenarnya dimaksud dengan harus “mendukung nilai-nilai Islam”, “berdasarkan kisah-kisah yang terselah dalam Al-Quran dan Hadist” dan merupakan “hasil tulisan yang berdasarkan tauhid”? Kalau kita menggunakan npatokan ini untuk menilai hasi; sastra Melayu lama, kita mungkin terpaksa menolak sebagian besar khazanah sastra Melayu lama ini. Sebabnya tidak lain karena sebagian besar dari karya sastra ini, termasuk cerita Al-Quran, banyak mengandung nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam.

(Liaw Yock Fang, 1991 : 204)

 

Akan tetapi kemudian sastra Islam tidak hanya dipahami dalam artian sempit, sastra Islam dianggap sebagai karya sastra yang terpengaruh oleh ajaran Islam serta mengajarkan hal-hal yang bersifat Islami (baik dogma maupun tidak). Sastra Islam tidak hanya dipahami sebagai karya sastra yang terinspirasi dari cerita-cerita dalam Al-Quran maupun hadits saja.

 

 Fenomena Sastra Islam Periode 2000-an

 

Bahkan pada periode 2000-an ini sastra Islam seakan memberikan warna tersendiri pada dunia kesusastraan Indonesia. Bahkan pada awal tahun 2000-an selera masyarakat seakan disamaratakan dengan hal-hal yang berbau religi, baik film, sinetron, buku bacaan, karya sastra, sampai para musisipun berlomba-lomba untuk membuat album religi agar tidak ketinggalan tren.

Kita tentu sudah tidak asing lagi dengan nama-nama seperti Habiburrahman El Shirazy, Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Izzatul Jannah, dan masih banyak sederet nama-nama lainnya yang melebeli karyanya dengan sastra Islam. Kemunculan karya-karya sastra pada periode 2000-an ditengarai dimulai pada saat Forum Lingkar Pena(FLP) yang dipimpin oleh Helvy Tiana Rosa berdiri pada tahun 1997. Forum Lingkar Pena ini memiliki misi untuk menjadikan setiap karya penulis-penulis yang menjadi anggotanya sebagai dakwah akan ajaran Islam yang dikemas dengan cara-cara yang ringan dan menarik sehingga tidak membosankan

Seperti yang diungkapkan Helvy Tiana Rosa (2003:7) yang menjadikan sastra sebagai sarana dakwah yang bukan saja memberikan pencerahan fikriyah namun juga pencerahan ruhiyah bagi para pembacanya. Di sinilah peran sastra sebenarnya yakni turut mengambil bagian dalam membenahi masyarakatnya.

Kemunculan FLP mendapatkan perhatian khusus dari kalangan masyarakat. Apalagi beberapa penulis FLP telah mendapat berbagai penghargaan bergengsi dalam bidang sastra misalnya saja Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Sinta Yudisia, Gola Gong, dan masih banyak lagi.

Kehadiran sastra Islam dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat karena sebagian besar jumlah penduduk Indonesia beragama Islam yang menjadikannya sebuah pasar yang menjanjikan. Apalagi di tengah ketidakstabilan kondisi ekonomi, sosial, dan politik seperti sekarang ini masyarakat seakan-akan merindukan suatu hiburan yang dapat mendekatkan kembali dirinya dengan Sang Pencipta.

Mengenai pandangan bahwa sastra Islam yang dinilai kurang memiliki estetika sastra yang mumpuni, agaknya kita perlu berpikir ulang karena bagaimanapun bacaan-bacaan Islami masih memiliki tempat khusus di hati masyarakat. Mungkin saja ujaran tersebut merupakan pendapat dari beberapa pihak yang memang bertujuan untuk menciptakan suatu karya sastra murni sebagai hasil kesenian, sedangkan bagi penulis sastra Islam memiliki misi khusus untuk menanamkan nilai-nilai keislaman.

Sebab lain mengapa sastra Islam masih menempati tempat khusus di hati masyarakat adalah tema-tema yang dibawa dalam karya-karya sastra tersebut tidak bersifat menggurui, dekat dengan kehidupan sehari-hari, serta dibawakan dengan penceritaan yang relative mudah dipahami. Misalnya saja novel “Ayat-ayat Cinta” dan “Ketika Cinta Bertasbih” yang mengambil permasalahan percintaan dalam perspektif Islam. Percintaan antara laki-laki dengan perempuan dalam Islam memang merupakan isu yang relevan karena seiring dengan perkembangan zaman nilai-nilai keislaman mulai tidak tampak dalam kehidupan sehari-hari. Juga pergaulan kawula muda semakin mengkhawatirkan dan tidak terkontrol. Penulis mencoba untuk mengarahkan kembali nilai-nilai keislaman yang selama ini banyak dilupakan dan memperlihatkan bahwa dalam Islam kita tetap bisa mencintai lawan jenis akan tetapi tentu saja dengan cara-cara yang tetap berada dalam koridor keislaman. Selain tema percintaan, banyak pula tema-tema lainnya yang diangkat oleh sastra Islam, diantaranya adalah tema sosial yang banyak ditulis oleh Asma Nadia.

Dengan kehadiran sastra Islam yang turut menyemarakkan dunia sastra Indonesia juga menjadi semakin menyamarkan batasan mengenai sastra kanon yang selama ini sering diperdebatkan oleh masyarakat khususnya pemerhati sastra. Mengingat animo masyarakat untuk membaca karya-karya sastra Islam dan keberadaan sastra Islam yang semakin mendominasi dunia penerbitan di Indonesia, tentunya kita tidak bisa memandang sastra Islam sebelah mata. Sastra Islam juga nyatanya banyak memberikan pengaruh terhadap dunia industri penerbitan, perfilman, serta mempengaruhi tren dalam masyarakat. Sehingga perlu dirumuskan kembali batasan estetika sastra yang kemudian melahirkan istilah sastra populer dan sastra kanon pada periode 2000-an ini.

 

Daftar Bacaan

 

 

Fang, Liauw Yock. 1991. Sejarah Kesusasteraan Melayu Klasik. Jakarta: Erlangga.

 

Rosa, Helvy Tiana. 2003. Segenggam Gumam. Bandung: Syaamil Cipta Media.

 

Wellek, Renne dan Austin Warren.1989. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :