Nguri-uri Budoyo

Kalau bukan kita yang menjaganya, siapa lagi?

Priyayi dan Mimikri Terhadap Belanda dalam Novel “Para Priyayi”

diposting oleh dini-ardianty-fib10 pada 03 November 2012
di Sastra - 0 komentar


Dini Ardianty

121011002

 

“Para Priyayi” merupakan sebuah novel karya Umar Kayam yang menceritakan mengenai seluk-beluk kehidupan priyayi. Priyayi merupakan sebuah kelas sosial tertinggi dalam masyarakat Jawa menurut Clifford Geertz. Geertz dalam bukunya “Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa” (1981) membagi masyarakat Jawa dalam tiga kelas sosial, yaitu priyayi, santri, dan abangan. Kelas yang berkedudukan paling tinggi adalah kelas priyayi. Para priyayi sebagian besar adalah keturunan raja-raja. Kelas yang berada di tengah adalah kelas santri yaitu masyarakat yang teguh menjalankan agama, sedangkan kelas paling bawah disebut kelas abangan atau yang sering disebut dengan istilah wong cilik yang terdiri dari golongan petani, buruh, maupun masyarakat desa dengan pendapatan dan pendidikan rendah.

Sebagai kelas sosial tertinggi dalam struktur sosial masyarakat Jawa, priyayi identik dengan perilaku yang adi luhung, perilaku yang baik dan terpuji sehingga pantas ditiru oleh kelas sosial lainnya. Akan tetapi Umar Kayam dalam novelnya ini mencoba untuk menampilkan sosok priyayi dari sudut pandang yang berbeda. Mengambil latar sebuah kota di Jawa Timur bagian selatan juga dua pusat kebudayaan Jawa, yaitu Yogyakarta dan Solo, membuat budaya dan tradisi Jawa seakan-akan dijabarkan secara lengkap dalam “Para Priyayi” ini. Begitu pula dengan adat istiadat dan kebiasaan priyayi yang menurut masyarakat dikatakan mewakili tradisi agung (Geertz, 1981 : 307).

 

Priyayi Menurut Geertz

 

Geertz (1981 : 308) mendefinisikan priyayi menurut istilah aslinya menunjuk kepada orang yang bisa menyelusuri asal-usul keturunannya sampai kepada raja-raja besar Jawa zaman sebelum penjajahan. Seiring dengan perkembangannya, priyayi tidak hanya mereka yang merupakan keturunan raja-raja, melainkan juga mereka yang menempati posisi terhormat sebagai imbas dari prestasi maupun kerja keras, misalnya saja guru, pegawai pemerintahan, dan lain-lain.

Priyayi sebagai kelas tinggi dalam masyarakat Jawa tentulah berbeda dengan kelas lainnya. Sehingga kemudian muncul istilah pusat dan pinggiran yang melekat pada citra priyayi (raja) dan wong cilik (petani), seperti yang diungkapkan Geertz (1981 : 311)

Kekuatan spiritual mengalir ke luar dan ke bawah dari pancuran kerajaannya, yang makin menipis ketika lemah ke dalam massa petani. Petani dan raja, pusat dan pinggiran, puncak dan dasar, Tuhan dan makhluk, yang sakral dan yang profane – semuanya ini, dan dengan sekedar penafsiran kembali, sekarang merupakan batas koordinat tongkat pengukur metafisik dan sosial priyayi, batas yang diringkaskan menjadi sepasang konsep yang sentral bagi pandangan dunia priyayi: alus dan kasar.

(Geertz, 1981 : 311)

 

Jadi patutlah priyayi benar-benar dianggap sebagai panutan dan seseorang yang dihormati dalam masyarakat. Seperti yang digambarkan pada novel “Para Priyayi”, dimana suara priyayi merupakan sesuatu yang dominan dan dapat merubah suatu keadaan. Misalnya saja pada bagian dimana Ndoro Seten mengusulkan kepada Atmokasan untuk memberi nama Soedarsono untuk bayinya.

Dan Ndoro Seten, menurut bapak, begitu saja menghadiahi nama kepada embok saya waktu diketahuinya Embok hamil tua. “Nanti kalau anakmu itu laki-laki, Mbok, namakan Soedarsono,” kata Ndoro Seten. Embok saya terkejut mendengar nama itu.

……….

Bapak terus membujuk dan meyakinkan Embok bahwa kita tidak usah khawatir akan mengalami bencana itu. “Wong paringan, hadiah, dari priyayi tinggi kok dikhawatirkan,” tutur Bapak. “Mesti baiknya,” tandas Bapak lagi.

(Umar Kayam, 2003 : 31)

 

 

Bahasa Belanda sebagai Penunjuk Identitas Priyayi

 

Yang dimaksud dengan teori postkolonial adalah teori yang digunakan untuk menganalisis berbagai gejala kultural, seperti: sejarah, politik, ekonomi sastra, dan sebagainya, yang terjadi di negara-negara bekas koloni Eropa modern. Secara definitif teori postkolonial lahir sesudah kebanyakan negara-negara terjajah memperoleh kemerdekaannya. Teori postkolonial mencakup seluruh khazanah sastra nasional yang pernah mengalami kekuasaan imperial sejak awal kolonisasi hingga sekarang. Ciri khas postkolonialisme dibandingkan dengan teori-teori postmodernis yang lain adalah kenyataan bahwa objeknya adalah teks-teks yang berkaitan dengan wilayah bekas jajahan imperium Eropa.

Visi postkolonial menunjukkan bahwa pada masa penjajahan yang ditanamkan adalah perbedaan, sehingga jurang pemisah antara kolonial dengan pribumi bertambah lebar. Bahasa pribumi dianggap bahasa mati, bahasa lama, sebaliknya bahasa Belanda dianggap bahasa ilmu pengetahuan, bahasa modern. Dominasi kolonial juga mambawa naskah-naskah lama yang secara fisik seolah-olah dipenjarakan di musium-musium Eropa.

Dalam novel Para Priyayi seringkali digambarkan kehidupan para priyayi yang mendapatkan akses lebih dalam hal pendidikan. Dan pada masa kolonial memang Belanda membuka sekolah-sekolah dengan metode pengajaran Belanda, seperti HIS, Van Deventer School, dan lain sebagainya. Pada masa pemerintahan Belanda sekolah-sekolah tersebut tidak diperuntukkan untuk umum, melainkan hanya untuk kalangan tertentu. Akan tetapi pada pemerintahan Jepang, sistem sekolah tersebut disamaratakan.

Untuk beberapa lama sekolah-sekolah di Wanagalih, termasuk sekolah Ndoro Guru Kakung di Karangdompol, ditutup. Rupanya dibutuhkan waktu agak lama lagi bagi pemerintahan yang baru untuk mengubah sistem pendidikan gaya Hindia Belanda menjadi gaya baru pemerintahan pendudukan Jepang. Sekolah-sekolah dasar yang dulu dikotak-kotak dalam sekolah ongko loro, angka dua, di desa, sekolah schakel, HIS dan ELS, sekolah dasar untuk anak-anak Belanda dan anak pejabat tinggi pribumi, di kota dikocok menjadi satu macam sekolah dasar saja.

(Umar Kayam, 2003 : 124)

 

Anak-anak kami tentu saja tidak kami kirim ke sekolah desa. Sekolah desa diadakan untuk memenuhi keperluan yang sangat terbatas, yaitu untuk mendidik dan mengajar anak-anak desa bisa menjadi pemuka masyarakat desa, bisa menjadi buruh yang tahu membaca dan menulis, bisa menjadi juru tulis kelurahan. Dan kalau anak-anak desa itu beruntung, seperti saya misalnya, bisa mendapat kesempatan yang lebih baik. Anak-anak kami, kami masukkan ke sekolah HIS, sekolah dasar untuk anak-anak priyayi itu, karena sekolah ini diadakan untuk menyiapkan priyayi-priyayi gupermen. Anak-anak yang bersekolah di situ akan diajar bahasa Belanda, bahasa yang sangat penting buat mendapat kedudukan di kantor gupermen dan dapat meneruskan pelajaran ke sekolah menengah dan sekolah menengah atas priyayi, seperti MULO, AMS, atau sekolah-sekolah guru menengah, seperti sekolah Normaal, Kweek-sekul dan sebagainya itu.

(Umar Kayam, 2003 : 52)

 

Dari paragraf di atas membuktikan bahwa sebagai kelas sosial tertinggi dalam masyarakat Jawa, priyayi tidak bisa disamakan dengan kelas sosial lainnya. Misalnya saja dalam hal pendidikan, mereka bersekolah di sekolah khusus anak-anak priyayi yang memang disiapkan untuk menjadi guru maupun pejabat pemerintahan. Dan di sekolah mereka dididik dengan sistem pengajaran Belanda, sehingga mereka terbiasa dengan bahasa Belanda dan gaya hidup ala Barat. Bahasa Belanda bahkan menjadi bahasa yang sangat penting di sekolah-sekolah golongan priyayi tersebut. Di sana juga dibiasakan menyebut guru dengan panggilan “meneer” dan kepala sekolah dengan panggilan “school opziener”.

Di HIS guru-guru dipanggil sebagai “meneer”. Tentu saja saya, tamatan sekolah desa lima tahun ditambah dengan kursus guru bantu dan sedikit pergaulan kesukan dengan priyayi kabupaten dan bahasa Belanda een-twee-drie dari Dik Ngaisah, tidak pernah juga dapat mengucapkan dengan pas kata “meneer” itu. Saya mengucapkan dengan “menir” saja. Apa boleh buat.

(Umar Kayam, 2003 : 65 – 66)

 

Sehingga tidak heran jika golongan priyayi sangat bangga akan bahasa Belandanya. Karena kemampuan akan bahasa Belanda dapat menunjukkan kedudukan mereka sebagai priyayi yang berbeda dengan masyarakat biasa. Selain itu kemampuan bahasa Belanda akan membuat mereka lebih mudah bekerja di sektor pemerintahan.

Noegroho sangat senang dan kuat dalam sejarah dan ilmu bumi, Hardojo kuat dalam bahasa Belanda dan mengarang meskipun kuat juga dalam berhitung, sedang Soemini, mungkin karena anak perempuan menurut saya sangat fasih bahasa Belandanya. Bahasa Soemini bukan sekedar een-twee-drie, tapi menurut kedua menir itu juga, bahasa Belanda yang betul baik. Sering kali kalau kedua menir itu mampir di rumah, Soemini pamer kepinteran Bahasa Belandanya itu dengan banyak berbahasa Belanda dengan guru-gurunya itu. Dia akan mengucapkan salam “goeie napen, meneer.” Dan waktu guru-guru itu pulang “dah, meneer, tot sien”. Dan diantara kalimat basa-basi Belanda itu banyak kalimat Belanda yang tidak saya ketahui. Wah, bangganya hati kami. Menurut istri saya, Soemini bahasa Belandanya sudah seperti nyonyah Belanda betul.

(Umar Kayam, 2003 : 66)

 

Bahkan ketika Hardojo menimbang-nimbang Sumarti untuk menjadi istrinya, ia juga mempertimbangkan kemampuan bahasa Belanda Sumarti dan membandingkannya dengan adiknya, Soemini, yang disebutnya sebagai istri ideal salah satunya karena bahasa Belandanya yang bagus.

Maka seorang anak perempuan Wonogiri yang tamat pendidikan HIS, sekolah dasar untuk anak-anak priyayi, adalah seorang gadis yang lebih dari cukup persiapannya untuk naik jenjang rumah tangga priyayi. Dengan penguasaan bahasa Belanda, sejarah, dan ilmu bumi ia akan tampil sebagai seorang yang cukup algemeen ontwikkeld, berpengetahuan umum. Bila dia akan kawin dengan seorang pangreh praja, dia akan sudah cukup mampu dan tidak kikuk untuk bergaul dengan istri atasan maupun nyonya kontrolir. Adik saya, Soemini, adalah salah seorang contohnya, meskipun pendidikan tambahannya di Van Deventer telah menambah kesiapannya lebih jauh lagi. Sebagai seorang istri asisten wedana dia adalah seorang istri yang ideal. Luwes, micara, bahasa Belandanya baik dan lancar, dan menguasai tata krama priyayi.

(Umar Kayam, 2003 : 155)

 

 

Para Priyayi dan Mimikri Terhadap Gaya Hidup Barat

 

Dalam kajian poststruktural salah satunya ialah mimikri, yaitu peniruan atau pengidentikkan. Yang dimaksud dengan peniruan atau pengidentikkan di sini adalah peniruan dan pengidentikkan diri terhadap Belanda dari segala hal, baik tingkah laku, gaya hidup, makanan, dan lain sebagainya.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa dalam novel “Para Priyayi”, masyarakat golongan priyayi dididik dalam sistem Belanda, maka mau tidak mau mereka akrab dengan bahasa Belanda juga dengan gaya hidup barat. Sehingga tidak heran jika kehidupan priyayi yang diceritakan dalam novel tersebut juga tidak asing dengan gaya hidup barat. Misalnya saja keluarga Noegroho yang sudah terbiasa memakan makanan Belanda karena istrinya dididik dengan cara Belanda, seperti yang terdapat dalam teks

Istri saya yang agak senang dengan makanan cara Belanda karena biasa dimanjakan ibunya yang pensiunan juru rawat Rumah Sakit Elizabeth, jadi agak terpukul dengan keadaan yang merosot itu. Langkah-langkahnya sebagai ibu rumah tangga jadi kikuk menghadapi keadaan yang serba kurang itu. Selama ini dia selalu senang memanjakan kami serumah. Di meja makan kami biefstuk daging has yang lengkap dengan segala kentang dan jus dan slada husar adalah hidangan yang tidak asing. Pagi hari selain sarapan nasi goreng dengan irisan keju dan telur dadar, anak-anak juga dibawakan sangu ke sekolah boterham, roti tawar dengan boter Belanda dan sele merk Betuwe dan entah apa lagi.

(Umar Kayam, 2003 : 179)

 

Dari potongan teks di atas kita dapat melihat bagaimana kehidupan keluarga Noegroho yang sangat meniru gaya hidup barat, terutama dalam hal makanan. Semua makanan yang disebutkan di atas merupakan makanan khas barat yang tidak mungkin dinikmati oleh kalangan tertentu bagi masyarakat Indonesia. Seperti yang telah dijelaskan Susanti atau Suzie, istri Noegroho sudah terbiasa mengkonsumsi makanan barat yang akhirnya juga ia lakukan pada rumah tangganya bersama Noegroho. Mimikri atau peniruan terhadap barat tidak hanya dilakukan keluarga Noegroho dalam hal makanan saja, akan tetapi juga dalam hal pemberian nama panggilan Susanti dan anak-anak Noegroho yang mirip dengan nama nama-nama barat. Misalnya Susanti yang dipanggil Suzie, begitupula dengan anak pertamanya Suhartono yang dipanggil Toni, Sumaryati yang dipanggil Marrie, dan Sutomo yang dipanggil Tommie. Nama-nama mereka sebenarnya merupakan nama Jawa, akan tetapi nama panggilan mereka merupakan nama barat yang sebenarnya tidak berhubungan dengan nama mereka meskipun jika diucapkan cukup mirip. Akan tetapi dapat dibilang berusaha untuk dimirip-miripkan.

Sus, istri saya yang nama lengkapnya adalah Susanti dan sering juga dipanggil Suzie oleh ibunya, tidak habisnya mengeluh dengan keadaan itu.

(Umar Kayam, 2003 : 179)

Saya masih belum bercerita tentang anak-anak saya. Pada tahun 1948 itu anak saya yang sulung, Suhartono, yang kami panggil Toni, sudah berumur enam belas tahun. Dia sudah duduk di kelas dua SMA bagian B di Kotabaru. Anak kami yang kedua adalah Sri Sumaryati, yang lebih akrab kami panggil Marrie, sebaya dengan Harimurti, anak Hardojo. Sedang yang bungsu laki-laki lagi, Sutomo, berumur sebelas tahun. Dia lebih banyak kami panggil sebagai Tommi.

(Umar Kayam, 2003 : 200)

 

Segala perlakuan untuk menyamakan diri dengan barat, baik melalui makanan maupun gaya hidup yang dilakukan oleh Noegroho adalah suatu bentuk mimikri yang merupakan bagian dari postkolonial. Dengan adanya mimikri kita dapat mengetahui seberapa kuat pengaruh kolonial terhadap negara jajahannya, termasuk terhadap Indonesia seperti yang telah dilakukan oleh keluarga Noegroho dalam novel “Para Priyayi”. Dari beberapa contoh dan penjelasan mengenai gejala-gejala postkolonial yang terdapat dalam novel “Para Priyayi”, kita dapat menyimpulkan bahwa Belanda yang berkuasa di Indonesia selama 350 tahun telah mempengaruhi banyak bidang di Indonesia hingga sekarang ini. Awalnya peniruan atau mimikri terhadap kolonial memang lebih banyak dilakukan oleh golongan priyayi, akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman, mimikri kini tidak hanya dilakukan oleh golongan kelas sosial tertentu.

 

Daftar Pustaka

 

Geertz, Clifford. 1983 : cetakan kedua. Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat

    Jawa. Jakarta : Pustaka Jaya.

 

Kayam, Umar. 2003 : cetakan kesembilan. Para Priyayi. Jakarta : Pustaka Utama

    Grafiti.

 

Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Tekhnik Penelitian Sastra.

       Yogyakarta :  Pustakan Pelayar.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :