Belajar Berimaji

Mari Berimaji!

Namaku Hiroko : Perempuan di Tengah Ikatan Adat dan Modernitas

diposting oleh dini-ardianty-fib10 pada 04 November 2012
di Feminin - 0 komentar

Namaku Hiroko :  Perempuan di Tengah Ikatan Adat dan Modernitas(Disajikan dalam Seminar Maskulinitas dan Femininitas dalam Karya NH Dini)

Dini Ardianty (Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Airlangga)

 

 

Aku mendapat sebutan perempuan simpanan dari mulut masyarakat. Tetapi itu tidak menyinggung perasaanku. Aku dan Yoshida saling membutuhkan.

(NH Dini – Namaku Hiroko)

 

Prolog :

Demikianlah yang dikatakan Hiroko di akhir novel ini. Sebagai individu perempuan juga memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam kebebasan menentukan pilihan hidup, tanpa campur tangan pihak lain. Perempuan seharusnya memiliki kebebasan untuk mengatur kehidupannya sendiri karena kebebasan merupakan hak asasi manusia (Humm, 1986).

            Novel ini mengisahkan kehidupan Hiroko, seorang gadis desa yang mencari peruntungan ke kota. Awalnya ia hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga, kemudian ia meniti karir sebagai pramuniaga toko yang kemudian menempati posisi penting di toko tersebut. Selain itu pada malam hari Hiroko memiliki pekerjaan sampingan sebagai penari telanjang di sebuah kabaret.

            Dalam hidupnya Hiroko dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit yang harus diambilnya guna menyambung hidup. Pilihan-pilihan itu tidak hanya berkaitan dengan karirnya, namun juga mengenai urusan percintaannya. Kehidupan kota telah merubahnya menjadi seorang perempuan yang materealis dan liberalis. Ia selalu memandang segala hal dengan hitungan untung-rugi.

            NH Dini mencoba menyajikan realitas sosial yang terjadi di masyarakat yang hidup di tengah kebudayaan yang masih dijunjung tinggi, yang mana di dalam budaya tersebut terdapat batasan-batasan mengenai perilaku perempuan. Namun sosok Hiroko hadir sebagai perempuan modern yang bebas menentukan hidupnya sendiri sebagai upaya untuk memuaskan dirinya sendiri.

 

 

 

Maskulinitas dalam Budaya Jepang dan Diskriminasi Perempuan

 

            Seperti isu yang terjadi di sebagian besar negara-negara Timur, kearifan lokal negara Jepang yang cenderung menomorduakan perempuan banyak mendapat kritikan dari berbagai pihak, terutama aktivis perempuan. Kebanyakan nilai tradisional di negara-negara Timur sendiri perempuan memang dianggap sebagai masyarakat yang tidak berkembang dan bertugas sebagai penunjang kebutuhan-kebutuhan laki-laki.

            Jepang merupakan negara dengan sistem patriarki. Masyarakat Jepang selalu menyebutkan nama keluarga terlebih dahulu yang kemudian diikuti dengan nama dirinya sendiri. Aliran feminisme radikal menyatakan bahwa penindasan terhadap perempuan sejatinya bersumber pada sistem patriarki. Hiroko sendiri lebih senang menyebut nama diri terlebih dahulu daripada nama keluarga seperti yang lazim dilakukan oleh masyarakat Jepang.

                        Jika orang menanyakan nama di negeriku, adat kami menyebutkan

nama keluarga lebih dahulu, baru disusul nama diri. Tetapi sejak kecil

mula aku begitu menyukai nama diriku, sehingga di sekolah guruku

sering menegur karena aku menyebut nama keluarga di belakang

nama diri (halaman 12).

 

Selain itu perempuan juga dituntut untuk melayani suami serta keluarga sebaik-baiknya. Seperti yang dilakukan oleh majikan Hiroko yang senantiasa menunggu ketika suaminya pulang lebih malam. Ia juga berusaha memendam rasa cemburunya akibat terlalu seringnya suaminya pulang larut malam sebagai bentuk kesopanan seorang istri kepada suaminya. Perempuan seakan harus menata dirinya sebaik mungkin di depan suaminya untuk menyenangkannya.

Jika mereka pergi, nyonya tidak tidur semalaman menunggunya. Segera setelah terdengar suaranya di lorong samping, nyonya melompat lalu menunggu di depan pintu, bersimpuh menurut cara negeri kami. Wanita setengah umur itu membiarkan si pemuda asing masuk ke dalam rumah. Kemudian nyonya membuka tali sepatu tuan sambil mengucapkan pertanyaan-pertanyaan yang beruntun seraya mendengar jawabannya. (halaman 17).

 

Hiroko dilahirkan dalam keluarga yang sangat menjunjung tinggi tata krama, seperti halnya keluarga masyarakat Timur lainnya. Bahkan terkadang ia seakan terikat oleh adat yang mengharuskan anak patuh terhadap orang tua, meskipun ia harus melakukan sesuatu yang tidak ia senangi. Bahkan ketika orang tuanya memerintahkan untuk mencari pekerjaan di kota, ia menurut saja. Akhirnya ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Sudah dua tahun aku tidak bersekolah. Keputusan yang diambil ayahku merupakan peraturan yang harus diturut tanpa dirunding pihak yang bersangkutan. Pada waktu itu aku menerimanya dengan dengan kewajaran abadi penuh ketaatan. Ayahku orang yang menentukan dalam kehidupan kami. Dan aku yang dibesarkan dalam lingkungan adat kepala tunduk mengiyakan semua perintah orang tua, tidak melihat

alasan apa pun buat membantahnya (halaman 15).

 

Kepatuhan terhadap keluarga juga berlaku dalam keputusan untuk memilih pasangan hidup. Natsuko, seorang teman Hiroko hanya bisa menuruti kemauan orang tuanya ketika ia dinikahkan dengan lelaki pilihan keluarganya yang dianggap memiliki status sosial yang sama dengan mereka.

Natsuko sendiri, sebagaimana mestinya, dipertunangkan oleh keluarganya dengan anak seorang pengusaha perkapalan terbesar di Kobe, yang kelak akan menjadi direktur perusahaan pula. Dapatlah dilihat dari lingkungan tertutup segolongan masyarakat di negeri kami. Perkawinan seorang dengan lainnya tidak keluar dari lingkungan atau tingkat masyarakat masing-masing (halaman 128).

 

Ketika bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kota, Hiroko berkali-kali mengalami pelecehan seksual sampai kekerasan seksual oleh laki-laki di dalam lingkungan rumah tangga majikannya. Karena ia perempuan dan dianggap hanya sebagai pembantu, ia boleh diperlakukan apa saja oleh majikan laki-lakinya.

Selama delapan hari aku menanggung tingkah kerewelan tuan. Selama itu kualami kejadian yang sebelumnya tidak pernah kubayangkan. Dengan sikap kelaki-lakiannya yang memerintah ia menyuruh aku mengerjakan segala khayal yang dikehendakinya. Ditunjukkannya kepadaku sebuah buku, kertasnya kuning ketuaan, di mana dilukiskan gambar serta keterangan-keterangan letak badan dalam pergaulan intim

maupun percintaan (halaman 75).

 

Awalnya ia berhubungan dengan Sanao. Hiroko tidak keberatan berhubungan dengan Sanao karena ia memiliki ketertarikan pada adik dari majikannya itu. Sedangkan ketika berhubungan dengan majikannya, ia merasa sebagai pihak yang dirugikan. Hiroko mencoba untuk meminta imbalan sebagai ganti rugi akan tetapi majikannya menolak untuk memberinya.

Setelah beberapa waktu berlalu, aku semakin menyadari bahwa tidur dengan dia tidak lagi merupakan kenikmatan, melainkan siksaan yang mengesalkan. Dua kali aku mencoba mengatakan padanya bahwa seharusnya dia memberiku sedikit uang saku. Hal tersebut kuanggap sewajarnya. Pihakku tidak lagi mendapat kepuasan. Tetapi dia, ternyata setiap kali bersenang hati dapat menaklukkanku. Bagiku, itu tidak adil. Aku hanya merupakan alat guna mencapai kenikmatan tertinggi yang barangkali tidak dapat dicapainya dari isterinya, karena perut yang semakin gendut (halaman 77).

 

Akan tetapi setelah peristiwa itu ia mendapat pengalaman mengenai cara mendapat kepuasan saat berhubungan dengan laki-laki. Tidak terhitung berapa laki-laki yang telah menikmati kemolekan tubuhnya, namun ia hanya berhubungan dengan laki-laki yang ia sukai. Ia tidak mau mengulangi pengalaman ketika berhubungan dengan laki-laki yang tidak disukainya, yang tidak lain adalah majikannya sendiri.

Barangkali rekan-rekanku itu benar. Tetapi aku tidak dapat mengingkari hatiku sendiri. Aku telah mengalami dua kali berhubungan dengan laki-laki yang tidak kusukai. Itu sudah lebih dari cukup bagiku. Aku tidak terlalu memerlukan uang. Kalau ke hotel bersama seorang laki-laki, aku harus telah mendapat kepastian bahwa aku juga akan merasakan kenikmatan sejenak seperti pasanganku. Dan itu hanya kuperoleh sepenuhnya jika aku tertarik oleh laki-laki tersebut (halaman 205).

 

            Dari situlah Hiroko berusaha merubah pandangan bahwa Dalam berhubungan intim bukan hanya lelaki yang punya inisiatif, perempuan pun punya hak yang sama untuk mengambil prakarsa dan mendapatkan kenikmatan darinya, perempuan bukan hanya sebagai objek seksual yang pasif dan pihak yang selalu dirugikan. Hiroko yang telah merasakan kehidupan kota telah meninggalkan sikap gadis desa yang lugu dan sopan, dan menjadi perempuan yang bebas menikmati hidupnya.

            Laki-laki yang pernah menjalin hubungan dengan Hiroko digambarkan mewakili sisi maskulinitas dengan pekerjaan yang mapan dan kemampuan finansial untuk menarik lawan jenisnya. Mereka seakan membeli Hiroko dengan mencukupi keperluannya asalkan Hiroko bersedia memuaskan kebutuhan seksualnya. Seperti Yoshida yang membeli rumah untuk Hiroko asalkan ia tidak meninggalkannya. Hal itu juga terjadi pada ayah Natsuko yang memberikan segalanya untuk perempuan simpanannya seperti yang terdapat dalam paragraf berikut ini

Ayah Natsuko tidak pernah memiliki satu kekasih saja. Perempuan simpanannya banyak. Dalam masyarakat kami telah menjadi dalil bahwa laki-laki yang berharta biasanya memiliki rumah tangga lebih dari satu. Yang keluar dari kebiasaan itu amat sedikit jumlahnya. Dengan keroyalan yang berlebihan, ayah Natsuko membiayai semua perempuannya. Semua dibelikan rumah. Termasuk keluarganya (halaman 240-241).

 

Pernyataan di atas juga menjelaskan bahwa laki-laki di negara Jepang cenderung menganggap perempuan sebagai aset yang dapat dibeli sebagai penanda identitas sosial mereka.

Bahkan Suprapto yang mewakili sikap maskulinitas dalam novel ini berpendapat bahwa perempuan harus menjaga penampilan agar tetap menarik di mata pasangannya. Berbeda dengan laki-laki yang tidak masalah jika ia tidak menjaga penampilannya. Hal tersebut sangat disayangkan Hiroko karena baginya laki-laki juga harus menjaga penampilan agar tetap menarik, seperti yang diungkapkannya berikut

Aku menyesali pendapat Suprapto yang mengatakan bahwa lelaki boleh menjadi gemuk, sedangkan perempuan tidak. Kalimat yang barangkali sederhana tanpa mengandung maksud buruk itu bagiku amat menyakitkan hati. Bagi dia seorang perempuan gemuk tampak jelek. Pada kesempatan-kesempatan kemudian, kukemukakan pendapatku bahwa laki-laki pun harus memelihara tubuhnya agar tetap menarik pandang. Dia hanya tertawa (halaman 170).

 

Tidak hanya di Jepang, berdebatan mengenai kebudayaan lokal yang dianggap sebagai hasil dari bentukan budaya patriarki juga terdapat di berbagai negara lainnya, terutama negara-negara Timur yang sedang berkembang.

 

Kebebasan Menentukan Hidup Bagi Perempuan

 

Sebagai individu perempuan juga mempunyai hak yang sama dengan laki-laki dalam kebebasan menentukan pilihan hidup, tanpa campur tangan pihak lain. Perempuan seharusnya memiliki kebebasan untuk mengatur kehidupannya sendiri karena kebebasan merupakan hak asasi manusia (Humm, 1986).

            Hiroko memutuskan untuk bekerja sampingan sebagai penari telanjang guna mendapatkan penghasilan lebih. Ia berpendapat bahwa pekerjaan sebagai penari telanjang adalah pekerjaan yang sah dan tidak perlu dipermasalahkan karena ia telah memilih pekerjaan itu sebagai bagian dari pilihan hidupnya. Ia juga tidak peduli dengan anggapan negatif orang lain mengenai pekerjaan sebagai penari telanjang, seperti yang terdapat dalam paragraf berikut,

Natsuko tidak kuberitahu. Demikian pula kebanyakan teman sekerja dan sepergaulan. Bukan karena aku malu akan pekerjaan itu. Tidak. Bagiku, itu merupakan salah satu pekerjaan yang memberi aku gaji secara jujur. Aku tidak mengganggu orang lain, tidak merugikan orang lain, juga tidak mencuri siapa pun. Pertimbangan moril atau kesopanan bagiku sama sekali tidak kuperlukan. Seseorang seperti Natsuko yang ditumbuhkan dalam keluarga serba beradat, tidak dapat atau sukar menerima pandanganku terhadap pekerjaan itu. Aku tidak memberitahukan kepada kebanyakan temanku karena pada umumnya orang berpendapat, jika seorang wanita memperlihatkan bagian rahasianya kepada penonton, tentulah dia juga menjajakannya kepada siapa pun ( halaman 148-149).

 

Di akhir cerita diceritakan Hiroko memilih menjalani hidupnya sebagai ibu dari kedua anak hasil hubungannya dengan Yoshida yang merupakan suami dari temannya sendiri. Ia akhirnya memilih Yoshida dengan pertimbangan perasaan cintanya kepada Yoshida dan kebahagiaan-kebahagiaan yang diberikan kepadanya baik dalam hal rohani maupun materiil. Ya, Hiroko memang menjadi materealistis setelah kepindahannya ke kota. Segala perkara selalu ia ukur dengan ukuran materi. Hal tersebut terjadi karena kenangan masa kecilnya dimana ia hidup dalam kesederhanaan, serta kehidupan perkotaan yang telah membuatnya menjadi ambisius dalam memperoleh sesuatu.

Kehidupanku lancar, seperti perahu yang dihembus angin menuju laut pilihan. Barangkali akan segera sampai ke pelabuhan yang damai dan terlindung dari badai. Karena aku bahagia. Tidak ada perkataan lain yang kukenal. Selain rumah yang kudiami, Yoshida memberiku bar Manhattan dan apartemen di atasnya (halaman 242).

 

Hiroko sadar akan menjadi bahan perbincangan ketika ia memutuskan untuk bersama Yoshida. Akan tetapi ia menjawabnya dengan mantap bahwa ia tidak mempermasalahkan hal tersebut seperti yang dikatakannya,

Aku mendapat sebutan perempuan simpanan dari mulut masyarakat. Tetapi itu tidak menyinggung perasaanku. Aku dan Yoshida saling membutuhkan. Dia memberiku semua yang kuminta. Tetapi aku tidak pernah mengganggu ketentraman orang lain, tidak merugikan siapa pun. Bahkan aku menolong banyak kawan dan kenalan dengan hartaku (halaman 242).

 

Epilog

 

Penulis menitipkan pesan dalam novel ini melalui tokoh Hiroko untuk melakukan apa yang mereka inginkan karena kehidupan yang mereka alami bukanlah ditentukan oleh orang lain melainkan dari diri kita sendiri, seperti yang diungkap Hiroko di akhir cerita, “Ya. Aku puas dengan kehidupanku. Hidup di tengah kota yang beragam. Dan aku tidak menyesali pengalaman-pengalamanku” (halaman 242).

 Di akhir cerita diceritakan perenungan Hiroko

Dari jendela rumahku, aku sering melayangkan pandangh ke arah Gunung Rokko, pemandangan pertama yang tersuguh ketika aku datang ke kota itu. Tapi kini pohonan di sana seperti terhapus dari atas kain dekor. Diganti oleh bangunan beton dan cerobong-cerobong besi berjuluran.

Kota telah mendesak ke luar. Hingga suatu saat nanti tidak akan bisa ditemukan warna hijau daunan segar (halaman 243).

 

Dari paragraf tersebut dapat diartikan bahwa modernisasi telah menjalar hingga ke pelosok negeri dan mengakibatkan perubahan yang sangat pesat baik dalam hal pembangunan maupun pola pikir masyarakatnya. Paragraf tersebut juga dapat diartikan sebagai penggambaran kehidupan Hiroko yang awalnya merupakan gadis desa yang masih memegang teguh nilai-nilai budaya hingga menjadi perempuan kota yang modern, materialistis, liberalis, dan mulai melupakan nilai-nilai tradisional tersebut sebagai upaya untuk menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitarnya.

Di satu sisi novel ini mewakili usaha untuk melestarikan nilai-nilai budaya yang mulai terkikis oleh kehidupan perkotaan yang rumit, namun di sisi lain -masih dengan nafas menyuarakan femininitas- NH Dini ingin memberikan gambaran terhadap realita yang terjadi di perkotaan sebagai poros modernisasi dan upaya seorang perempuan dalam memperoleh kenikmatan dalam kehidupannya.

 

 

 

 

Daftar Bacaan

 

Dini, Nh. 2002. Namaku Hiroko (cetakan kedelapan). Jakarta : Gramedia.

 

Humm, Maggie. 1986. Feminist Criticism: Woman as Contemporary Critics. London:

The Harvester Press.

 

Haryatmoko, “Dominasi Laki-Laki Melalui Wacana” dalam Feminis Laki-Laki: Solusi

atau Persoalan?, Jakarta, Yayasan Jurnal Perempuan, 2001.

 

Srinarti, Dominic. 2009. Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer.

Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.



[1] Disajikan dalam Seminar Femininitas dan Maskulinitas Dalam Karya-Karya NH Dini, Auditorium Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Surabaya, 2 Desember 2011

[2] Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Airlangga Surabaya

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :