Belajar Berimaji

Mari Berimaji!

Senjakala Permainan Tradisional di Era Globalisasi

diposting oleh dini-ardianty-fib10 pada 21 February 2013
di Filologi - 0 komentar

Senjakala Permainan Tradisional di Era Globalisasi

Dini Ardianty

121011002

 

Prolog

Hompimpa alai hom gambreng!

 

Tentu kita sudah akrab dengan kalimat yang biasa dilagukan setiap kali hendak bermain-untuk menentukan kalah-menang, juga siapa yang lebih dulu bermain. Mungkin sebagian dari kita menganggap bahwa kalimat tersebut hanya sebatas lirik yang dilagukan setiap akan bermain. Akan tetapi jika diartikan, kalimat tersebut mengacu pada sebuah pitutur. Menurut Zaini (salah satu penggiat komunitas Hong! dalam sebuah pernyataan di seminar Permainan Tradisional), kata ‘hom’ jika diruntut dari berbagai bahasa mengacu pada arti Tuhan. Dan kalimat ‘hompimpa alai hom’ mirip dengan sebuah mantra Hindu kuno yang berarti ‘dari Tuhan kembali ke Tuhan’. Sedangkan ‘gambreng’ merupakan sebuah sentakan atau peringatan akan arti dari kata-kata sebelumnya. Jadi, ‘hompimpa alai hom gambreng’ adalah sebuah kalimat yang menyerukan agar kita senantiasa mengingat Tuhan karena nantinya setiap manusia akan kembali pada Tuhan.

 

Permainan Tradisional dan Filosofinya

Bukan hanya melalui lagu pengiring seperti ‘hompimpa’, kita dapat menemukan pitutur maupun penanaman karakter bangsa melalui permainan tradisional yang sering kita mainkan sewaktu masih kecil dulu. Setiap permainan tradisional memiliki filosofi dan tujuan tertentu. Misalnya saja permainan ‘Cublek-cublek Suweng’ yang memiliki makna yang sangat filosofis baik dari lagu maupun permainannya. Lirik lagu pengiring permainan ‘Cublek-cublek Suweng’ sendiri sebagai berikut

Cublak-cublak suweng,

suwenge teng gelenter,

mambu ketundhung gudhel,

pak empo lera-lere,

sopo ngguyu ndhelikake,

Sir-sir pong dele kopong, sir-sir pong dele kopong

 

Jika artikan, lirik lagu di atas akan membentuk sebuah cerita mengenai seseorang yang memiliki keberlimpahan harta tempat yang menyimpan harta yang berharga, akan tetapi meski sudah diletakkan dalam tempat harta tersebut tercecer di mana-mana. Hal tersebut menggambarkan keberlimpahan hidup. Lalu orang-orang bodoh mendengar kabar mengenai harta tersebut dan mencarinya. Sedangkan orang yang mendapatkannya hanya bisa tertawa.

Permainan ‘Cublek-cublek Suweng’ biasanya dimainkan oleh jumlah pemain ganjil, salah seorang pemain telungkup sedangkan yang lainnya meletakkan tangan mereka ke punggung teman yang sedang telungkup tersebut. Kemudian sambil menyanyikan lagu pengiring, mereka menyembunyikan kerikil di salah satu tangan pemain dan pemain lainnya harus menebak siapa yang membawa kerikil tersebut. Permainan ini mengajarkan untuk memanfaatkan harta yang kita miliki dengan baik agar tidak mudah dibodohi orang lain. Selain itu permainan ini juga mengajarkan kita untuk tidak memperlihatkan kekayaan yang dimiliki dan menyimpannya sebaik mungkin.

Selain permainan ‘Cublek-cublek Suweng’, masih banyak permainan tradisional lainnya yang memiliki fungsi pendidikan dan penanaman nilai pada anak sehingga selain berfungsi sebagai hiburan permainan tradisional juga memiliki fungsi edukasi. Tidak hanya berfungsi edukasi, permainan tradisional juga dapat merangsang gerak motorik, kecepatan berpikir, kerja sama dengan orang lain, serta menumbuhkan interaksi sosial dengan teman sebaya yang dapat menimbulkan kepekaan terhadap lingkungan sekitar.

Maka tidak heran orangtua zaman dulu tidak melarang anak-anaknya berlama-lama bermain di lapangan, karena banyak pelajaran yang didapat hanya dengan bermain dengan teman sebayanya.

 

Permainan Tradisional vs Permainan Modern

Seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat seakan dimanjakan oleh segala kemudahan sebagai dampak dari kemajuan teknologi yang tidak hanya menawarkan kemudahan-kemudahan, namun juga kemunduran dalam masyarakat. Kemunduran tersebut terutama tampak pada interaksi sosial yang terjadi di masyarakat. Dengan adanya telepon selular misalnya, orang tidak perlu saling bertemu untuk berkomunikasi. Hanya dengan mengabarkan lewat sambungan telepon atau mengirim pesan singkat saja segala informasi dapat tersampaikan. Berbeda dengan era sebelum adanya telepon maupun telepon selular yang mengharuskan pertemuan untuk menyampaikan suatu informasi kepada orang lain sehingga menimbulkan suatu kedekatan antar individu. Yang terjadi sekarang justru  masyarakat menjadi lebih individualis, mereka lebih suka berkomunikasi lewat telepon maupun media sosial. Bahkan tidak jarang mereka terlihat asyik sendiri dengan komunikasi ‘nirkabel’ tersebut.

Kecanggihan teknologi juga berimbas pada permainan anak. Zaman sekarang anak tidak perlu bermain-main di lapangan untuk mendapat kesenangan karena play station dan game online sudah menjamur dimana-mana. Memang permainan-permainan modern tersebut lebih praktis dibanding dengan permainan tradisional, akan tetapi perlu diperhatikan beberapa dampak yang ditimbulkannya. Seperti anak menjadi lebih individualis karena mereka sibuk bermain permainan modern yang jarang melibatkan permainan dengan orang lain, sehingga kurang adanya interaksi antar individu. Selain itu, tidak dapat dipungkiri bahwa permainan yang ditawarkan di play station maupun game online sebagian besar menampilkan kekerasan, sadisme, dan juga hasrat untuk memenangkan permainan dengan cara memusnahkan orang lain. Hal tersebut akan berpengaruh pada perkembangan psikis anak yang akrab dengan permainan tersebut, seperti anak akan menjadi  lebih keras dan cenderung ingin mendapatkan sesuatu dengan mengalahkan orang lain dengan cara menyingkirkannya.

Permainan modern juga umumnya hanya dilakukan di tempat sehingga anak menjadi kurang bergerak, akibatnya kurang adanya rangsangan gerak motorik pada anak dan anak menjadi jarang keluar rumah. Padahal salah satu hal yang menarik dari aktivitas bermain adalah berlarian di tanah lapang. Akan tetapi tidak dipungkiri bahwa sekarang ini tanah lapang memang jarang ditemui karena banyak yang sudah beralih fungsi menjadi perumahan maupun pusat-pusat bisnis. Sehingga anak-anak sulit menemukan tempat bermain dan akhirnya kita sering menemukan anak-anak yang bermain bola di jalan raya.

Semakin padatnya aktivitas harian anak juga menjadi salah satu sebab mengapa anak lebih memilih permainan modern yang praktis. Semakin banyak sekolah yang menerapkan sistem full day, sehingga anak tidak memiliki waktu bermain yang cukup. Belum lagi ditambah dengan tambahan belajar (bimbel) maupun kursus atau aktivitas lainnya yang semakin memangkas jadwal anak untuk bermain dan berinteraksi dengan teman di sekitarnya.

 

Epilog

Kemajuan teknologi sering dituduh menjadi penyebab dari beralihnya perhatian masyarakat dari permainan tradisional maupun sub-sub kebudayaan lainnya. Akan tetapi kita tidak bisa semerta-merta hanya menyalahkan kemajuan teknologi, karena ada faktor-faktor lain yang menjadi penyebab permainan tradisional semakin terpinggirkan.

Selain faktor-faktor yang telah disebutkan sebelumnya, peran orangtua dan generasi sebelumnya dalam menurunkan tradisi dalam hal ini permainan tradisional juga perlu dipertanyakan. Karena suatu tradisi tidak akan hidup jika tidak diturunkan secara baik oleh generasi sebelumnya dan dilaksanakan oleh generasi penerus. Bisa jadi pudarnya perhatian terhadap permainan tradisional merupakan akibat dari tidak diturunkan atau diwariskannya permainan tradisional secara baik oleh generasi sebelumnya –dalam hal ini orangtua- terhadap generasi penerus (anak). Sehingga tidak terjadi keberlangsungan terhadap permainan tradisional tersebut.

Permainan tradisional perlu dihidupkan kembali, karena selain sebagai media pendidikan dan penanaman nilai, permainan tradisional juga merupakan ciri khas dari masing-masing daerah di nusantara. Untuk menghidupkan kembali permainan tradisional diperlukan langkah-langkah nyata baik dari masyarakat maupun pemerintah. Misalnya saja dengan memasukkan permainan tradisional dan budaya tradisional ke dalam suatu mata pelajaran khusus sebagai upaya penanaman karakter bangsa. Tidak hanya permainan tradisional yang ditekankan dalam mata pelajaran tersebut, namun juga penanaman karakter bangsa dengan media lainnya seperti cerita rakyat maupun kesenian tradisional.

Selain itu perlu ditanamkan rasa bangga bermain permainan tradisional dan mengimbangi permainan modern dengan permainan tradisional. Memang upaya tersebut tidak langsung memperlihatkan perubahan terhadap keberadaan permainan tradisional, namun setidaknya kita ikut berupaya untuk menjaga kelangsungan permainan tradisional yang menyimpan banyak filosofi dan manfaat.

 

Daftar Rujukan

http://pendidikanrumah.com/mengangkat-kembali-nilai-nilai-filosofis-pada-permainan-tradisional-bagian-1/

 

Wawancara : Tribrata, seniman tradisi

 (untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Folklor)

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :