Belajar Berimaji

Mari Berimaji!

Ronggeng Dukuh Paruk : Kecintaan, Kekecewaan, dan Kemarahan Rasus akan Srintil dan Tanah Kelahirannya

diposting oleh dini-ardianty-fib10 pada 21 February 2013
di Sastra - 0 komentar

Ronggeng Dukuh Paruk :

Kecintaan, Kekecewaan, dan Kemarahan Rasus akan Srintil dan Tanah Kelahirannya

Dini Ardianty

121011002

 

Prolog

Pada dasarnya, sastra merupakan dokumen sosial yang menggambarkan keadaan masyarakat atau individu pada suatu kelompok kebudayaan tertentu. Hubungan antara seni, dalam hal ini sastra, dan kenyataan bukanlah hubungan searah. Hubungan itu merupakan interaksi yang kompleks dan tak langsung yang ditentukan oleh konvensi bahasa, konvensi sosio-budaya, dan konvensi sastra. Merujuk pada pendapat tersebut, kita dapat memetakan kajian sastra yang dapat dianalisis melalui dua hal, yaitu melalui kondisi sosial suatu masyarakat dalam karya sastra, yang disebut dengan pendekatan sosiologi sastra, serta melalui kondisi kejiwaan tokoh atau individu dalam suatu karya sastra yang disebut dengan psikologi sastra.

Psikologi sastra bukanlah suatu pendekatan psikologi yang memanfaatkan media sastra sebagai objek. Justru sebaliknya, psikologi merupakan suatu pendekatan dalam ilmu sastra untuk mengkaji suatu objek (dalam hal ini karya sastra), dengan ilmu bantu psikologi. Tokoh-tokoh dalam karya sastra memang bersifat fiktif, akan tetapi merujuk pada pernyataan sebelumnya bahwa sastra merupakan dokumen sosial yang menggambarkan masyarakat atau individu pada suatu kelompok kebudayaan tertentu, maka kita dapat memanfaatkan ilmu psikologi untuk membaca kondisi kejiwaan suatu individu dalam masyarakat yang dalam hal ini diwakilkan oleh tokoh dalam karya sastra.

Psikologi sastra, sebagaimana dikatakakan oleh Endaswara (2011: 5), ditopang oleh tiga pendekatan, yaitu pendekatan tekstual, yang mengkaji aspek psikologi tokoh dalam karya sastra, pendekatan reseptif-pragmatik yang mengkaji psikologi pembaca sebagai penikmat karya sastra yang terbentuk dari pengaruh karya sastra yang dibacanya, serta proses resepsi pembaca dalam menikmati karya sastra dan pendekatan ekspresif, yang mengkaji aspek psikologi sang penulis ketika melakukan proses kreatif yang terproyeksi lewat karyanya, baik penulis sebagai pribadi maupun wakil masyarakat.

Tulisan ini akan menekankan pada aspek kejiwaan tokoh dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk, yaitu dua tokoh utama, Rasus dan Srintil. Ronggeng Dukuh Paruk merupakan novel ketiga karya Ahmad Tohari. Novel tersebut merupakan buku pertama dari rangkaian “Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk”, yang terdiri dari “Ronggeng Dukuh Paruk” (1982), “Lintang Kemukus Dini Hari” (1985), dan “Jantera Bianglala” (1985).  Novel ini sendiri sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, seperti bahasa Jepang, Belanda, Jerman, Perancis, dan lain-lain. Sebelum diterbitkan ke dalam sebuah novel, Ronggeng Dukuh Paruk terlebih dahulu merupakan sebuah cerita bersambung di surat kabar Kompas mulai 17 Juli sampai 21 Agustus 1981.

Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk pernah diadaptasi dalam bentuk film dengan judul “Sang Penari” pada tahun 2011 dan mendapat empat penghargaan Piala Citra dalam Festival Film Indonesia 2011. Melalui trilogi ini Ahmad Tohari memperoleh penghargaan dari Yayasan Buku Utama di tahun 1986. Selain itu Ahmad Tohari juga memperoleh banyak penghargaan lainnya berkat karya-karyanya yang selalu bernuansa etnologi dan kental dengan suasana pedesaan yang khas. Karya-karya lainnya adalah Bekisar Merah, Kubah, Di Kaki Bukit Cibalak, Belantik, dan masih banyak lagi.

 

Kecintaan, Kekecewaan, dan Kemarahan Rasus yang Tidak Tersalurkan

Secara garis besar, novel ini menceritakan kehidupan seorang ronggeng yang berasal dari Dukuh Paruk bernama Srintil yang mengalami pergolakan hidup sebagai ronggeng. Sejatinya ia dipuja dan dimuliakan oleh masyarakat Dukuh Paruk karena bagi masyarakat di desanya, ronggeng dianggap sebagai sesuatu yang sakral karena berhubungan dengan hubungan masyarakat Dukuh Paruk dengan sesepuh mereka, yaitu Ki Secamenggala, seperti yang terdapat dalam petikan berikut ini

Sakarya tersenyum. Sudah lama pemangku keturunan Ki Secamenggala itu merasakan hambarnya Dukuh Paruk karena tidak terlahirnya seorang ronggeng di sana. “Dukuh Paruk tanpa ronggeng bukanlah Dukuh Paruk. Srintil, cucuku sendiri, akan mengembalikan citra sebenarnya pedukuhan ini,” kata Sakarya kepada dirinya sendiri. Sakarya percaya, arwah Ki Secamenggala akan terbahak di kuburnya bila kelak tahu ada ronggeng di Dukuh Paruk.

Tak seorang pun menyalahkan pikiran Sakarya. Dukuh Paruk hanya lengkap bila di sana ada keramat Ki Secamenggala, ada seloroh cabul, ada sumpah serapah, dan ada ronggeng bersama perangkat calungnya. Gambaran tentang Dukuh Paruk dilengkapi oleh ucapan orang luar yang senang berkata misalnya, “Jangan mengabadikan kemelaratan seperti orang Dukuh Paruk.” Atau, “Hai anak-anak, pergilah mandi. Kalau tidak nanti kupingmu mengalir nanah, kakimu kena kudis, seperti anak-anak Dukuh Paruk.”

(Tohari, 1982 : 15-16)

 

Semenjak sebelum menjadi seorang ronggeng, Rasus, salah seorang teman bermain Srintil telah mengagumi dan mencintai Srintil. Awalnya Rasus hanya merasa sedih lantaran ia kehilangan teman bermain.

Yang merisaukanku adalah ulah suami-istri Sakarya. Mereka melarang Srintil keluar bermain-main di tepi kampung atau di bawah pohon nangka. Bila ingin melihatnya, aku harus datang ke rumah Sakarya. Atau mengintip Srintil selagi dia mandi di pancuran.

(Tohari, 2011 : 36)

 

Rasus kemudian mencoba untuk menarik perhatian Srintil dengan membawakannya jeruk keprok, akan tetapi Srintil justru bersikap dingin. Hal ini membuat Rasus sedikit sebal, karena ia merasa Srintil yang sekarang bukanlah Srintil seperti yang ia kenal dulu. Srintil telah berubah karena keistimewaan-keistimewaan yang didapatnya sebagai seorang ronggeng.

Perempuan-perempuan Dukuh Paruk begitu memanjakan Srintil sehingga dia seakan tidak lagi memerlukan teman bermain. Tampaknya Srintil tidak merasa perlu meemberi perhatian kepadaku atau kepada siapa pun karena semua orang telah memperhatikannya. Ah. Perhatian Srintil itulah yang terasa hilang di hatiku.

Sekali aku menemukan cara licik untuk memperoleh kembali perhatian ronggeng Dukuh Paruk itu. Sebuah pepaya kucuri dari ladang orang. Pada saat yang baik, ketika Srintil seorang diri di pancuran, buah curian itu kuberikan kepadanya. Tak kukira aku akan memperoleh ucapan terima kasih yang menyakitkan.

“Sesungguhnya aku menginginkan jeruk keprok,” kata Srintil dingin. “Tetapi buah pepaya pun tak mengapa.”

(Tohari, 2011 : 37)

 

Meski sedikit kecewa, perasaannya pada Srintil tidak berkurang. Justru perasaan Rasus kemudian perasaannya berkembang menjadi perasaan ingin memiliki. Sayang Rasus harus menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa memiliki Srintil karena ia telah menjadi seorang ronggeng, itu artinya Srintil bukan lagi menjadi milik pribadi melainkan telah menjadi milik bersama. Belum lagi, ia merasa gerah terhadap ulah para lelaki yang memasukkan uang ke dada Srintil dan menjadikan Srintil sebagai pelampiasan birahinya.

Pokoknya, pada usia empat belas tahun aku berani mengatakan Srintil cantik. Boleh jadi ukuran yang kupakai buat menilai Srintil hanya patut bagi selera Dukuh Paruk. Namun setidaknya pengakuanku itu sebuah kejujuran. Maka pengakuan ini berkelanjutan dan aku tidak merasa bersalah telah bersikap semacam itu. Artinya, aku mulai merasa benci terhadap siapa saja yang menganggap Srintil adalah wewenangnya, terutama suami-istri Sakarya. Terutama pula kepada pemuda-pemuda yang memasukkan uang ke dada Srintil bila ronggeng itu menari tole-tole.

(Tohari, 2011 : 36)

 

Rasus kemudian memberi Srintil sebuah keris untuk menarik simpati Srintil. Dan usahanya berhasil. Semenjak itu Srintil memahami perasaan khusus Rasus padanya, meskipun Rasus tidak mengungkapkannya secara gamblang. Rasus tidak berani mengungkapkan perasaannya karena ia merasa Srintil tidak bisa ia miliki sepenuhnya, sebagai ronggeng, ia adalah milik orang banyak. Sehingga Rasus kemudian mencari ‘sosok’ ibunya dalam diri Srintil. Ia mencari kehangatan, kelembutan, dan kasih sayang seorang ibu yang tidak pernah ia dapatkan semenjak ibunya meninggal akibat racun tempe. Rasus selalu mengandaikan Srintil sebagai penjelmaan ibunya, perempuan tempat ia berteduh.

Tidak bisa kupastikan yang kurindukan adalah seorang perempuan sebagai kecintaan atau seorang perempuan sebagai citra seorang emak. Emakku. Ataub kedua-duanya. Tetapi jelas, penampilan Srintil membantuku mewujudkan angan-anganku tentang pribadi perempuan yang telah melahirkanku. Bahkan juga bentuk lahirnya. Jadi sudah kuanggap pasti, Emak mempunyai senyum yang bagus seperti Srintil. Suaranya lembut, sejuk, suara seorang perempuan sejati. Tetapi aku tidak bisa memastikan apakah Emak mempunyai cambang halus di kedua pipinya seperti halnya Srintil. Atau, apakah juga ada lesung pipi pada pipi kiri Emak. Srintil bertambah manis dengan lekuk kecil di pipi kirinya, bila ia sedang tertawa. Hanya secara umum Emak mirip Srintil. Sudah kukatakan aku belum pernah atau takkan pernah melihat Emak. Persamaan itu kubangun sendiri sedikit demi sedikit. Lama-lama hal yang kureka sendiri itu kujadikan kepastian dalam hidupku.

(Tohari, 2011 : 45)

 

Dalam hal ini ada kecenderungan supresi yang dilakukan oleh Rasus. Rasus secara sadar telah mendeskripsikan Srintil sebagai perempuan yang ia rindukan, dalam hal ini ibunya. Dalam imajinasi Rasus, ia bebas memiliki Srintil, karena Srintil adalah ibunya. Rasus menciptakan imajinasi demikian karena ia merasa ia memerlukan sebuah kenyamanan yang seharusnya ia peroleh dari seorang perempuan, akan tetapi ia tidak dapat memperolehnya karena ibunya telah meninggal sedangkan ia tidak mungkin memiliki Srintil. Khayalan-khayalan seperti ini lazim dimiliki oleh manusia, terutama jika ia tidak dapat meraih apa yang sangat diinginkannyan. Maka ia kemudian menghayalkannya dalam imajinasinya. Menghayalkan bahwa ia dapat memiliki apa yang dalam dunia nyata tidak dapat dimilikinya.

Perasaan Rasus menjadi kalut ketika ia mengetahui bahwa ada satu hal lagi yang harus dilakukan Srintil sebelum ia benar-benar menjadi seorang ronggeng, yaitu ia harus melepas keperawanannya pada malam bukak klambu. Rasus tidak rela Srintil, yang kala itu masih berusia sebelas tahun, seakan diperjual belikan kepada lelaki yang memenangkan malam bukak klambu tersebut. Apalagi, Rasus telah menciptakan sebuah imajinasi mengenai ‘sosok’ ibunya yang bersemayam di dalam tubuh Srintil.

Bagiku, tempat tidur yang akan menjadi tempat pelaksanaan malam bukak-klambu bagi Srintil, tak lebih dari sebuah tempat pembantaian. Atau lebih menjijikkan lagi. Di sana tiga hari lagi akan berlangsung penghancuran dan penjagalan. Aku sama sekali tidak berbicara atas kepentingan berahi atau sebangsanya. Di sana, di dalam kurung kelambu yang tampak dari tempatku berdiri, akan terjadi pemusnahan mustika yang selama ini amat kuhargai. Sesudah berlangsung malam bukak-klambu, Srintil tidak suci lagi. Soal dia kehilangan keperawanannya, tidak begitu berat kurasakan. Tetapi Srintil sebagai cermin tempat aku mencari bayangan Emak menjadi baur dan bahkan hancur berkeping.

Membayangkan bagaimana Srintil tidur bersama seorang laki-laki, sama menjijikkannya dengan membayangkan Emak melarikan diri bersama mantri itu. Aku muak. Aku tidak rela hal semacam itu terjadi. Tetapi lagi-lagi terbukti seorang anak dari Dukuh Paruk bernama Rasus terlalu lemah untuk menolak hal buruk yang amat dibencinya. Jadi aku hanya bisa mengumpat dalam hati dan meludah. Asu buntung!

(Tohari, 2011: 53)

 

   Selain karena ia merasa citra ibu yang dibangunnya dalam diri Srintil rusak, kemarahan Rasus juga merupakan kemarahan pada dirinya sendiri karena tidak mampu menjaga serta memiliki Srintil. Dan yang terpenting, ia tidak memiliki banyak uang untuk memenuhi syarat yang diajukan Kartareja bagi lelaki yang ingin tidur dengan Srintil dalam malam bukak-klambu. Akan tetapi, ketika Srintil membuka pakaiannya dan mempersilahkan Rasus untuk menyetubuhinya, Rasus tidak segera melakukannya. Hal tersebut lagi-lagi karena Rasus terlanjur membenamkan ‘sosok’ ibunya ke dalam diri Srintil, hingga ia tidak sampai hati untuk menyetubuhi Srintil walaupun nalurinya lain.

Aku percaya; hanya aku yang sejak anak-anak menghayalkan demikian dalamnya tentang seorang emak karena aku sangat ingin melihatnya. Khayalan demikian yang hampir sepanjang usia, akhirnya mampu mendatangkan ilusi; bahwa yang berdiri telanjang di depanku bukan Srintil, bukan pula ronggeng Dukuh Paruk, melainkan perempuan khayali yang melahirkan diriku. Di sana, di bagian dada kulihat sepasang puting di mana aku menetek hampir selama dua tahun. Di sana, di balik pusar, aku pernah bersemayam selama sembilan bulan dalam rahimnya. Dan ketika aku melihat jalan yang kulewati ketika lahir, mataku berkunang-kunang. Badanku basah oleh keringat dingin. Kemudian aku tak bisa berbuat lain kecuali menutup muka dengan dua telapak tangan.

(Tohari, 2011 : 67)

 

Perasaan itu pula yang kemudian tumbuh ketika Srintil akhirnya memutuskan untuk menyerahkan keperawanannya pada Rasus. Rasus awalnya menolak, akan tetapi ia kemudian tidak dapat berbuat apa-apa. Sesudah malam bukak-klambu, pikiran Rasus menjadi kalut. ‘Sosok’ ibu yang selama ini ada dalam diri Srintil hancur. Ia merasa muak karena merasa ialah yang merusak sosok tersebut dengan memerawani Srintil. Selain itu ada perasaan bersalah karena telah menyalahi adat yang seharusnya berlaku, yaitu dengan menyetubuhi Srintil, meski ia bukan lelaki yang ‘membeli’ Srintil pada malam bukak-klambu tersebut. Dan yang terakhir, Rasus merasa semakin membenci Dukuh Paruk dan segala isinya, karena setelah malam bukak-klambu tersebut Srintil telah dinafsihkan menjadi ronggeng. Dengan begitu akan semakin banyak lelaki yang menikmati tubuh Srintil, baik di atas pentas maupun di dalam kamar.

Rasus kemudian memilih untuk meninggalkan Dukuh Paruk sebagai tindakan atas kekalutannya, dengan konsekuensi ia harus meninggalkan neneknya hidup sebatang kara. Perubuatan Rasus ini tergolong nekat, karena sebelumnya ia tidak pernah meninggalkan Dukuh Paruk, akan tetapi kemudian ia memutuskan untuk meninggalkan tempat kelahiran dan neneknya sebagai cara untuk melarikan diri dari semua perasaan marah dan kecewanyanya kepada Srintil yang tidak bisa ia ungkapkan.

Tetapi Dukuh Paruk dan orang-orangnya di sana tak ada yang mengerti diriku yang sakit. Memang Dukuh Paruk memberi kesempatan kepadaku mengisi bagian hati yang kosong dengan seorang perawan kecil bernama Srintil. Tidak lama, sebab sejak peristiwa malam bukak-klambu itu Srintil diseret keluar dari dalam hatiku. Dukuh Paruk bertindak semena-mena kepadaku. Aku bersumpah takkan memaafkannya.

Jadi ketika Dukuh Paruk bergembira ria dengan suara calung dan joget Srintil yang telah resmi menjadi ronggeng, aku malah mulai membencinya. Pengikat yang membuatku mencintai Dukuh Paruk telah direnggut kembali. Aku tidak lagi mempunyai cermin tempat aku mencari bayang-bayang Emak. Sakitku terasa lebih perih daripada saat aku belum mengenal Srintil.

(Tohari, 2011 : 80)

 

Keputusan untuk melarikan diri dan meninggalkan keadaan yang membuat pikiran kalut memang terkesan menghindar dan tidak berani menghadapi kenyataan yang ada. Akan tetapi ketika pikiran manusia sudah dalam titik puncak kejenuhan atau kekalutan, manusia cenderung memilih untuk meninggalkan sejenak ataupun terkadang benar-benar meninggalkan dan tidak lagi peduli akan hal tersebut. Misalnya saja Rasus yang mengalami kekecewaan dan kemarahan kepada Srintil, masyarakat sekitarnya, dan sistem di Dukuh Paruk mengenai ronggeng, memilih untuk meninggalkan Dukuh Paruk walaupun dengan resiko ia harus meninggalkan neneknya seorang diri dan juga Srintil, perempuan yang dicintainya.

Bahkan pada saat itu ia dengan entengnya meninggalkan neneknya meskipun neneknya sudah berusaha untuk memintanya tetap tinggal. Rasus seakan tidak peduli. Ia tidak lagi memiliki perasaan iba akan kehidupan neneknya setelah ia meninggalkan Dukuh Paruk.

Salah seekor kambing kutuntun ke luar Dukuh Paruk pada suatu pagi. Sebelum berangkat aku berkata kepada Nenek, aku akan mencari paman di luar kampung dan mungkin tidak kembali lagi. Nenek menangis. Terbata-bata Nenek meminta agar aku tetap tinggal. “Siapa yang akan mengurusiku bila aku sakit dan mati,” katanya.

Nenek menjadi korban balas dendamku terhadap Dukuh Paruk. Dia kutinggalkan bersama beberapa ekor kambing. Biarlah. Nenek adalah milik Dukuh Paruk. Kukira Dukuh Paruk tetap mengakui nenek sebagai warga sampai dia bergabung dengan Ki Secamenggala di pekuburan.

(Tohari, 2011 : 80)

 

Nenek Rasus seakan menjadi korban pelampiasan atas segala kekecewaan dan kemarahannya terhadap Srintil dan Dukuh Paruk. Dalam hal ini Rasus telah melakukan penempatan atau pelampiasan yang keliru terhadap neneknya, karena ia tidak bisa melampiaskannya langsung kepada Srintil dan Dukuh Paruk. Ia sadar bahwa ia bukan siapa-siapa dan ia tidak berhak untuk memprotes Srintil dan segala adat Dukuh Paruk mengenai ronggeng. Srintil telah menjadi milik bersama. Lagipula Srintil sangat menikmati status barunya sebagai seorang ronggeng yang dielu-elukan.

 

Prinsip Rasus untuk Tidak Menikahi Srintil

Srintil dan Dukuh Paruk telah membuat hati Rasus menjadi keras. Kekerasan hatinya juga karena di dalam hatinya ia sadar bahwa ia tidak bisa bersama Srintil karena Srintil sangat menikmati posisinya sebagai ronggeng, serta dengan posisinya sebagai ronggeng, ia telah menjadi milik bersama. Selain itu dalam pandangan masyarakat Dukuh Paruk, seorang ronggeng akan kehilangan karirnya sejak ia mengandung kehamilan pertama. Maka dari itu, ketika Srintil mengatakan kepada Rasus mengenai keinginannya untuk menikah dan berkeluarga dengannya, Rasus hanya menanggapinya sebagai suatu hal yang bersifat manusiawi dari setiap manusia, terutama perempuan. Namun ia tidak bisa melakukan apa-apa, karena ronggeng tetaplah ronggeng, seorang perempuan yang merelakan dirinya untuk menjadi milik bersama. Rasus hanya mampu menanggapi penyataan Srintil dengan perasaan iba.

Aku menduga keras Srintil mulai dihantui kesadaran bahwa Nyai Kartareja telah memijit hingga mati indung telurnya, peranakannya. Suami-istri dukun ronggeng itu merasa perlu berbuat demikian sebab hukum Dukuh Paruk mengatakan karier seorang ronggeng terhenti sejak kehamilannya yang pertama. Kukira Srintil mulai sadar kemandulan adalah hantu mengerikan para ronggeng yang tak pernah mencapai hari tua karena keburu dimakan raja singa atau penyakit kotor lainnya.

Entahlah.

Yang jelas celoteh Srintil tentang bayi dan perkawinan hanya kuanggap sebagai ungkapan perasaan secara emosional, tanpa suatu alasan yang mendukungnya. Lagi pula aku merasa rendah diri karena Srintil telah menjadi ronggeng yang benar-benar kaya. Namun seandainya benar keinginan Srintil memperoleh seorang bayi terdorong ketakutannya menghadapi hari tua, aku tak bisa berbuat lain kecuali iba. Sangat iba!

(Tohari, 2011 : 90)

 

Dari petikan di atas, salah satu alasan yang juga melatari Rasus untuk tidak menerima permintaan Srintil yang ingin menikah dengannya yaitu karena kedudukan Srintil. Setelah menjadi ronggeng, Srintil menjadi sangat kaya. Bahkan ia sering mendapat upah berupa uang maupun barang secara berlebihan dari lelaki yang tidur dengannya. Bahkan para lelaki yang menggendak Srintil tidak hanya berasaln dari masyarakat kelas biasa, melainkan juga lelaki yang memiliki kedudukan tinggi, seperti lurah bahkan pejabat daerah.

Rasa rendah diri yang dialami Rasus memang wajar dialami oleh sebagian besar kaum lelaki. Hal tersebut terkait dengan pandangan masyarakat mengenai lelaki sebagai tulang punggung keluarga. Kaum lelakilah yang nantinya akan menjadi penopang atas segala kebutuhan dalam suatu keluarga, terutama kebutuhan ekonomi. Dalam masyarakat tradisional Jawa, kedudukan lelaki harus lebih tinggi daripada perempuan. Termasuk dalam hal ekonomi. Bahkan dalam menentukan pasangan, anak perempuan keluarga priyayi tidak akan mau bersanding dengan laki-laki yang bukan berasal dari keluarga priyayi atau laki-laki yang tidak memiliki kedudukan ekonomi yang lebih tinggi darinya. Sehingga akan sangat aneh jika ada lelaki yang mempunyai kedudukan ekonomi yang lebih rendah daripada perempuan dalam sebuah rumah tangga. Perasaan itulah yang kemudian juga dialami oleh Rasus.

Bahkan saat Rasus sudah menjadi seorang tentara, ia tetap mempertahankan pendapatnya untuk tidak menikahi Srintil. Hal yang paling ia pegang teguh adalah alasan ekonomi, hukum adat, dan kedudukan Srintil sebagai ronggeng. Srintil yang sangat menginginkan Rasus tinggal bersamanya juga mengatakan bahwa ia akan memberikan sawah untuk Rasus, hal itulah yang kemudian membuat Rasus tetap menolak keinginan Srintil. Alasan lainnya adalah nalurinya sebagai seorang tentara yang merasa dibutuhkan oleh masyarakat. Rasus begitu bangga akan kedudukannya sebagai tentara, karena hanya ia satu-satunya masyarakat Dukuh Paruk yang berhasil mendapat predikat seorang tentara yang ia dapatkan dengan susah payah.

Malam terakhir di Dukuh Paruk aku hampir gagal memejamkan mata hingga pagi hari. Sepanjang malam itu aku menghadapi ulah seorang perempuan yang sedang dituntut oleh nalurinya. Seorang perempuan yang ingin kuanggap tanpa sebutan apa pun, baik sebutan ronggeng atau sebutan perempuan Dukuh Paruk. Srintil hanya ingin disebut sebagai seorang perempuan utuh. Dia sungguh-sungguh ingin melahirkan anakku dari rahimnya. Dia ingin aku tetap tinggal bersamanya di Dukuh Paruk, atau ikut bersamaku, pergi bergabung dengan kelompok Sersan Slamet.

.......

Masih segudang alasan dan janji yang diucapkan Srintil padaku. Sebagai laki-laki usia dua puluh tahun aku hampir dibuatnya menyerah. Tetapi sebagai anak Dukuh Paruk yang telah tahu banyak akan dunia luar, aku mempunyai seribu alasan untuk dipertimbangkan, bahkan untuk menolak permintaan Srintil. Srintil boleh mendapatkan apa-apa dariku selain bayi dan perkawinan. Aku tahu hal ini sudah cukup memadai bagi seorang perempuan Dukuh Paruk. Permintaan Srintil yang berlebihan pasti hanya didorong keinginan sesaat yang kebetulan sejalan dengan nalurinya sebagai perempuan.

(Tohari, 2011 : 106)

 

Penolakan Rasus tersebut akhirnya berdampak pada diri Srintil, yaitu ia mengandaikan dirinya menjadi ibu dari Goder, anak tetangganya. Dalam hal ini Srintil juga melampiaskan perasaannya yang tidak terwujud (displacement) untuk mencintai Rasus serta keinginannya untuk memiliki anak kepada Goder. Penolakan Rasus juga berakibat tergunjangnya jiwa Srintil. Selama beberapa saat ia tidak mau menari, maupun melayani tamunya dengan iming-iming upah apa pun. Ia hanya ingin mengurus Goder dan melakukan pekerjaan rumah seperti layaknya perempuan Dukuh Paruk.

Rasus telah menanamkan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan menikahi Srintil, walaupun dalam hati ia mencintai Srintil. Seperti yang telah banyak disinggung sebelumnya, Rasus berusaha untuk menampik kenyataan untuk bersama Srintil karena mereka berdua masih terikat adat Dukuh Paruk, serta ada beberapa faktor lain yang menghalangi mereka untuk bersama.

       

“Pergi untuk Mencari Jalan Pulang”

Ibarat pepatah, pergi untuk mencari jalan pulang. Begitulah kiranya yang dialami oleh Rasus. Ia pergi meninggalkan Dukuh Paruk dengan sumpah serapah dan segala kekecewaan serta kemarahan terhadap Srintil, masyarakat, dan adat Dukuh Paruk yang tidak dapat ia ungkapkan secara langsung, hanya ia simpan di dalam hatinya. Ia sudah tidak tahan lagi terhadap segala sesuatu yang memenuhi pikirannya dan akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan tanah kelahirannya, seorang nenek yang sudah tua, dan memendam dalam-dalam perasaannya terhadap Srintil.

Selama pelariannya dari Dukuh Paruk, Rasus menemukan dunia yang lebih luas. Ia bertemu dengan masyarakat dan kebudayaan yang sangat berbeda dengan Dukuh Paruk yang dikatakannya sebagai sebuah desa yang sakit, melarat, dan cabul. Akan tetapi dalam hati Rasus yang paling dalam, ia tetap menganggap Dukuh Paruk sebagai tanah kelahirannya, tempat yang telah memberinya kehidupan dan kenangan masa kecil. Setelah ia menjadi seorang tentara dan tersiar kabar bahwa ada sekelompok penjahat yang mengincar pedukuhannya itu, ia sendiri yang kemudian menangani semuanya. Apalagi komplotan penjahat tersebut mengincar harta Srintil. Selain karena bentuk profesionalisme-nya sebagai prajurit penjaga keamanan, hal tersebut juga sebagai bentuk kecintaannya kepada Dukuh Paruk.

Setelah mendengar bahwa Dukuh Paruk, tempat kelahirannya, dibakar dan sempat terjadi kerusuhan yang mengakibatkan ditahannya beberapa penduduk, Rasus memohon izin kepada komandannya untuk pergi menengok Dukuh Paruk dengan segala konsekuensi yang harus ditanggungnya. Dari sanalah Rasus mengetahui bahwa Dukuh Paruk seakan mati suri setelah ronggengnya, Srintil, ditahan oleh pihak keamanan entah dimana. Rasus kemudian mencari Srintil, namun tidak banyak yang dapat ia lakukan untuk membebaskan Srintil.

Rasus yang dulu pernah tidak mempedulikan perasaan neneknya juga ternyata masih memiliki ikatan batin yang cukup kuat dengan neneknya tersebut. Rasus datang tepat sebelum ajal menjemput neneknya. Akan tetapi, dengan segala kebesaran hati ia menerima kematian perempuan yang mengasuhnya sejak kecil, sejak ibunya meninggal.

Pada bagian akhir dari novel ini diceritakan bahwa Rasus yang sebelumnya ditugaskan di luar Jawa, kembali ke Dukuh Paruk dan melihat betapa tanah kelahirannya itu tengah bersolek dengan adanya pembangunan. Akan tetapi ia juga menemukan bahwa masyarakat Dukuh Paruk tidak banyak berubah, malah semakin tidak bergairah. Rupanya, ronggeng yang selama ini mereka elu-elukan, Srintil, sedang berada dalam puncak kekecewaannya.

Kejiwaan Srintil terganggu karena impiannya untuk menjadi istri dari seorang mandor bernama Bajus sirna. Bajus yang selama ini bersikap baik dan mengeluarkan banyak uang untuk Srintil, sehingga Srintil menganggap bahwa Bajus adalah pelabuhan terakhir bagisnya ternyata salah. Bajus justru menyerahkan Srintil kepada laki-laki lain untuk disetubuhi. Srintil yang saat itu teguh bahwa ia hanya akan menyerahkan tubuhnya untuk lelaki yang benar-benar ia cintai menjadi marah dan jatuh. Srintil sangat marah pada Bajus karena ternyata Bajus memanfaatkannya untuk mendapatkan keuntungan dari pihak lain. Sekaligus ia kecewa karena lagi-lagi impiannya untuk menikah dan memiliki anak sirna.

Rasus merasa iba kepada Srintil. Ia juga merasa bersalah karena ia merasa bahwa jika dulu ia tidak meninggalkan Srintil, maka pastilah perempuan yang dicintainya itu tidak seperti sekarang ini. Rasus lalu membawa Srintil ke rumah sakit jiwa dan di sanalah ia meruntuhkan prinsip dan kekerasan hatinya untuk mengakui bahwa ia benar-benar mencintai Srintil dan ingin terus bersama Srintil.

Di akhir cerita, Rasus mengakui bahwa Dukuh Paruk bukan sekedar tanah kelahirannya, Dukuh Paruk adalah jiwanya. Untuk itu ia bertekad untuk membenahi Dukuh Paruk dan mengembalikannya seperti dulu, seperti yang diucapkannya,

Malam hari ketika sudah berada kembali di Dukuh Paruk aku berdiri tanpa teman di luar rumah. Sekelilingku adalah tanah air yang kecil dan sengsara. Ditambah dengan nestapa yang sedang menimpa Srintil, Dukuh Parukl bertambah sakit. Sekelilingku adalah Dukuh Paruk yang sedang lelap dalam gubuk-gubuk ilalang, Dukuh Paruk yang sejak kelahirannya tak pernah mampu menangkap maksud tertinggi kehidupan. Tanah airku yang kecil tak pernah bersungguh-sungguh mengembangkan akal budi sehingga tidak tahu bahwa dia seharusnya menyingkirkan kurap dan cacing yang menggerogoti anak-anak, serta kebodohan yang hanya membawa kemelaratan turun-temurun. Karena tak pernah atau tak mampu mengembangkan akal budi pula, tanah airku yang kecil sesungguhnya tak pernah berusaha menyelaraskan diri dengan selera Ilahi. Ibuku telah sekian lama terlena dalam krida batin yang naif, kenaifan mana telah melahirkan antara lain ronggeng-ronggeng Dukuh Paruk. Ronggeng sendiri mestinya tiada mengapa bila dia memungkinkan ditata dalam keselarasan agung. Namun ronggeng yang mengembangkan wawasan berahi yang primitif ternyata tidak mendatangkan rahmat kehidupan.

(Tohari, 2011 : 403)

 

Dan akhirnya Rasus telah menemukan jalan pulang.

 

Epilog

Rasus, seorang anak Dukuh Paruk yang sejak kecil hidup diantara kemelaratan dan adat Dukuh Paruk yang sakral dan tidak ada satupun yang berani melanggarnya, termasuk dirinya sendiri. Rasus harus menahan rasa cintanya pada Srintil karena segala aturan dan adat istiadat yang berlaku di tanah kelahirannya itu. Rasus kecewa dan marah, namun ia tidak tahu dan tidak bisa meluapkan perasaannya. Akhirnya ia memilih untuk meninggalkan Dukuh Paruk. Dan dari sanalah ia rasa cintanya terhadap Srintil dan Dukuh Paruk semakin berkembang, ibarat pepatah, Rasus pergi untuk menemukan jalan pulang. Yaitu Srintil dan Dukuh Paruk.

Ronggeng Dukuh Paruk menyajikan konflik batin antar tokoh yang sangat kompleks. Tokoh-tokoh dalam novel ini memiliki dua pilihan, yaitu menuruti hawa nafsu atau menuruti adat yang disakralkan oleh masyarakat dan secara tidak langsung juga disakralkan oleh dirinya sendiri. Selain itu, novel ini juga banyak menggambarkan kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan budaya masyarakat Dukuh Paruk di sekitaran tahun 1965, dimana pada era tersebut Indonesia sedang diguncang oleh peristiwa politik yang sangat mempengaruhi keberlangsungan Indonesia sebagai sebuah negara.

Hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan dan masa lalu seseorang sejatinya sangat menarik untuk dituliskan dan dinikmati oleh khalayak. Ronggeng Dukuh Paruk menyajikan sebuah bacaan menarik yang mengingatkan kita untuk tidak lupa sejarah serta hidup selaras dengan alam dan garis Ilahi.

 

Daftar Bacaan

 

Bertens, K. 1979. Memperkenalkan Psikoanalisa Sigmund Freud. Jakarta : PT Gramedia.

 

Endraswara, Suwardi. 2011. Metodologi Penelitian Sastra-Epistemologi, Model, Teori, dan

Aplikasi. Yogyakarta : CAPS.

 

Semiun, Yustinus. 2006. Teori Kepribadian dan Terapi Psikoalalitik Freud. Yogyakarta :

Kanisius.

 

Siswanto, Wahyudi.2008.Pengantar Teori Sastra.Jakarta:Grasindo.

 

Tohari, Ahmad. 2011. Ronggeng Dukuh Paruk, cetakan keenam. Jakarta : PT Gramedia

Pustaka Utama.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :