Belajar Berimaji

Mari Berimaji!

Penari Izu (Izu no Odoriko), Sebuah Penyampaian Perasaan yang Sederhana : Analisis Isi dan Pesan

diposting oleh dini-ardianty-fib10 pada 16 September 2013
di Sastra - 0 komentar

Oleh : Dini Ardianty (121011002)

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

 

Penari Izu (Izu no Odoriko) merupakan salah satu karya Kawabata Yasunari yang ditulis tahun 1926. Karya ini jugalah yang menjadikan nama Kawabata Yasunari dikenal oleh masyarakat. Yasunari Kawabata, lahir di Osaka 14 Juni 1899, meninggal di Kamakura 16 April 1972. Novelis Jepang yang prosa liriknya memenangkan Nobel Sastra 1968.

Penari Izu (Izu no Odoriko) menceritakan mengenai kisah seorang pemuda yang bertemu dengan rombongan penari di perjalanan menuju Semenanjung Izu. Pemuda tersebut merasa tertarik dengan kehidupan rombongan penari itu sehingga ia kemudian mengikuti mereka.

Rombongan tersebut terdiri atas seorang lelaki yang bernama Eikichi, istrinya yang bernama Chiyoko, adik Eikichi yang bernama Kaoru, seorang gadis bernama Yuriko, serta ibu dari Eikichi. Pemuda tersebut menaruh perhatian lebih pada Kaoru, si penari dalam rombongan tersebut, karena kepolosan Kaoru serta fisiknya yang menarik.

Ada beberapa hal menarik yang ada dalam cerita pendek ini, yaitu isi, penceritaan, dan pesan yang ingin disampaikan. Seperti yang kita ketahui, dalam cerpen Penari Izu (Izu no Odoriko) ini pengarang sengaja membuat tokoh “aku” sebagai sosok yang perasa dan melankolis. Selain itu “aku” berusaha untuk melihat rombongan penari tersebut tidak seperti apa yang dianggap oleh masyarakat kebanyakan. Tokoh “aku” memperlakukannya sama seperti manusia biasa. Ia bahkan beberapa kali memberi mereka uang untuk kebutuhan mereka.

Makalah ini membahas mengenai cerpen Penari Izu (Izu no Odoriko) yang dilihat dari sisi isi, gaya penceritaan, dan pesan yang terkandung dalam cerpen tersebut.

 

 

1.2  Rumusan Masalah

 

  1. Apa isi dari cerpen Penari Izu (Izu no Odoriko)?
  2. Apa saja pesan yang terkandung dalam cerpen Penari Izu (Izu no Odoriko)?

 

 

1.3               Tujuan Penulisan

 

Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain :

 

  1. Mengetahui isi dari cerpen Penari Izu (Izu no Odoriko)
  2. Mengetahui pesan yang terkandung dalam cerpen Penari Izu (Izu no Odoriko)
  3. Memahami gaya penulisan cerpen Penari Izu (Izu no Odoriko)

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Penari Izu, sebuah Karya Sederhana dengan Makna yang Dalam

 

Pada latar belakang telah dibahas sekilas mengenai sinopsis cerita cerpen Penari Izu (Izu no Odoriko). Akan tetapi seperti yang telah kita ketahui, karya sastra tidak bisa hanya dipahami sebagai suatu sistem yang bersifat apa adanya. Setiap karya sastra menyimpan simbol-simbol dan pesan yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembacanya. Salah satu hal yang perlu dipahami dalam cerpen ini adalah motif di balik ketertarikan pemuda atau tokoh “aku” sehingga mengikuti rombongan penari tersebut.

Tokoh “aku” telah bertemu sebelumnya dengan rombongan penari tersebut sebelum akhirnya ia berniat untuk mengejar mereka dan bergabung bersama rombongan mereka. Meski awalnya canggung dan sedikit malu, pemuda tersebut kemudian memberanikan diri untuk berinteraksi dengan rombongan tersebut. Bahkan tokoh “aku” tidak segan-segan memberi uang untuk mencukupi kebutuhan mereka.

Salah satu alasan dari perbuatan tersebut, sudah jelas bahwa tokoh “aku” memiliki ketertarikan pada Kaoru, si penari. Tokoh “aku” memang tidak secara langsung menceritakan perasaan cintanya, namun ia mengungkapkannya melalui deskripsi-deskripsi mengenai sosok si penari, perhatiannya terhadap si penari, serta respon atau sikap penari ketika berhadapan dengan tokoh “aku”. Misalnya saja

Kami sama-sama naik ke bilik tingkat dua dan meletakkan barang-barang. Tatami dan fusuma sudah usang dan kotor. Si penari membawa teh dari bawah. Ketika duduk di depanku wajahnya merah padam dan tangannya gemetar sehingga cangkir teh hampir jatuh dari alasnya, supaya jangan jatuh dia mau meletakkannya di atas tatami, tetapi tertumpah juga. Ia begitu kemalu-maluan sehingga aku sendiri merasa heran.

“Oh, sungguh menjengkelkan! Anak kecil ini rupanya sudah mulai tahu cinta. Bagaimana ini...?” demikian kata perempuan empat puluhan itu takjub sambil mengernyitkan kening, lalu dilemparkannya sehelai handuk. Handuk itu dipungut oleh si penari dan dipelnya tatami dengan perasaan kikuk.

Mendengar perkataannya yang sama sekali di luar dugaan aku jadi merenungi diriku sendiri. Harapanku untuk mengundang mereka dalam bilikku, seperti pernah timbul  dalam hatiku ketika mendengar mereka diejek oleh pelayan tua itu, menjadi lenyap.

(Yasunari, 1985 : 7)

 

Dari bagian tersebut tokoh “aku” mulai merasakan perhatian lebih yang diberikan oleh si penari padanya, maka dari itu selanjutnya tokoh “aku” mulai memperhatikan si penari lebih jauh. Selain itu tokoh “aku” cenderung menceritakan perasaannya dengan cara yang terkesan biasa, artinya tanpa ada letupan-letupan yang biasa ditonjolkan untuk menggambarkan perasaan seseorang. Deskripsi sederhana tokoh “aku” dalam menggambarkan perasaannya dapat dilihat dari paragraf berikut

Dari dalam tempat mandi yang agak gelap tiba-tiba seorang wanita keluar lari bertelanjang dan berdiri di tempat membuka pakaian seakan-akan mau terjun ke tepi sungai dan berteriak-teriak sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Ia telanjang bulat. Handuk pun tidak dipakainya. Itulah si penari. Waktu aku memandang tubuhnya yang telanjang yang putih dengan kaki yang ruasnya panjang seperti pohon kiri, aku merasa dalam hatiku mengalir mataair yang jernih, dan menghembuskan nafas panjang dan tertawa lembut. Ternyata ia masih anak-anak. Begitu masih anak-anak, sehingga berani melompat ke luar ke sinar matahari dan berdiri atas ujung kaki memanjangkan tubuhnya karena gembira melihat kami. Karena aku segar dan gembira, aku terus tertawa lembut. Otakku menjadi jernih. Aku terus tersenyum.

(Yasunari, 1985 : 10)

 

Selain itu bisa tokoh “aku” merasa nyaman mengikuti rombongan penari tersebut adalah karena ia merasa menemukan kehangatan keluarga yang tidak pernah dirasakannya. Seperti yang dikatakannya bahwa ia adalah seorang yatim piatu,

Aku yang sudah berumur dua puluh tahun, setelah merenung dalam-dalam kalau-kalau tabiatku menjadi tidak lurus lagi terpengaruh oleh perasaan sebagai yatim piatu, dan tidak bertahan terhadap kemurungan yang menekan, melakukan perjalanan ke Izu.

(Yasunari, 1985 : 22)

 

Tokoh “aku” beberapa kali mendapat komentar atas keikutsertaannya dalam rombongan anak wayang tersebut. Pertama, ketika tokoh “aku” bertanya kepada perempuan tua pemilik kedai teh dimana rombongan penari tersebut akan menginap. Perempuan tua itu menjawab,

“Makhluk seperti itu tak pernah diketahui di mana akan menginap. Kalau ada peminat di mana saja mereka mau bermalam. Saya kira mereka tidak punya rencana akan menginap di mana malam ini.”

Perkataan pelayan tua yang sangat menghina mereka itu, menyinggung perasaanku, sehingga aku sampai berpikir untuk mengundang mereka menginap di kamarku saja.

(Yasunari, 1985 : 4)

 

Tokoh “aku” merasa tersinggung karena secara tidak langsung hal tersebut menghina dirinya karena ia ingin mengikuti rombongan tersebut. Selain itu tokoh “aku” memiliki jiwa sosial yang tinggi sehingga ia tidak ingin membedakan status orang berdasarkan pekerjaannya. Misalnya saja seperti yang dirasakan tokoh “aku” mengenai balasan atas simpatinya terhadap rombongan penari

Simpatiku yang biasa saja rupanya sudah meresap ke dalam diri mereka karena aku tidak punya rasa penasaran ataupun keinginan mengejek mereka, dan aku lupa bahwa mereka adalah jenis makhluk anak wayang keliling. Tanpa setahuku, aku pun sudah mereka tetapkan untuk ikut terus sampai rumah mereka di Oshima.

(Yasunari, 1985 : 17)

 

“Dia orang baik.”

“Ya betul. Rupanya dia orang baik.”

“Betul dia orang baik. Orang baik betul-betul baik, ya.”

Ucapannya itu bernada sederhana dan terus terang. Suara polos seorang anak-anak yang melontarkan pikirannya. Aku sendiri secara terus terang bisa mengatakan bahwa aku orang baik. Aku mengangkat mata dengan perasaan senang dan memandang gunung-gunung di sekitarku. Samar-samar ada rasa sakit di belakang kelopak mataku. Aku yang sudah berumur dua puluh tahun, setelah merenung dalam-dalam kalau-kalau tabiatku menjadi tidak lurus lagi terpengaruh oleh perasaan sebagai yatim piatu, dan tidak bertahan terhadap kemurungan yang menekan, melakukan perjalanan ke Izu. Karena itu aku sangat berterima kasih kalau dipandang sebagai orang baik dalam arti yang umum berlaku di masyarakat.

(Yasunari, 1985 : 22)

 

Hal tersebut pulalah yang melatarbelakangi tokoh “aku” menyanggupi untuk membantu menjaga seorang nenek dalam perjalanan pulang. Tokoh “aku” mengatakan bahwa hal tersebut adalah wajar, seperti yang dikatakannya ‘Aku merasa sewajarnya saja bahwa keesokan paginya aku mengantar nenek itu sampai ke stasiun Ueno dan membelikannya karcis ke Mito’ (1985 : 27).

Kedua, ketika rombongan hampir sampai di dekat laut Shimoda, di tempat masuk dusun-dusun terpampang papan pengumuman yang berbunyi ‘Dilarang masuk kampung ini pengemis dan anak wayang’. Dari bagian tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa anak wayang atau seniman keliling dianggap remeh, bahkan sama halnya dengan pengemis. Pandangan tersebut juga terkait dengan sebutan seniman keliling sebagai wanita penghibur yang dianggap hina. Seperti yang diungkapkan pada dialog berikut,

“Ooo begitu. Dalam perjalanan lebih baik berkawan. Begitu juga dalam hidup, saling tolong-menolong. Mungkin Tuan akan dapat menghilangkan rasa jemu bersama kami, walaupun kami hina. Silahkan naik dan beristirahat sebentar,” sahutnya dengan acuh tak acuh.

(Yasunari, 1985 : 7)

 

Pada akhir cerita tokoh “aku” memutuskan untuk mengakhiri perjalanannya dengan rombongan penari itu. Jika awalnya tokoh “aku” hanya menurut saja ketika rombongan penari tersebut meminta tokoh “aku” untuk menunda perjalanan, tokoh “aku” lalu memutuskan untuk kembali mengakhiri perjalanannya bersama rombongan tersebut dan kembali ke Tokyo. Dan diakhir cerita tokoh “aku” menangis dalam perjalanan pulangnya sewaktu di kapal. Hal itu karena sikap dingin yang ditunjukkan si penari terhadapnya sewaktu ia akan pulang. Kaoru, si penari, menunjukkan sikap yang demikian karena ia merasa kecewa tidak dapat menonton film dengan tokoh “aku” sehari sebelum kepulangannya. Selain itu si penari merasa sedih orang yang dicintainya meninggalkannya lebih cepat. Padahal dalam pikirannya tokoh “aku” akan ikut dalam acara selamatan yang akan dilakukan di rumahnya.

Sedangkan tokoh “aku” yang telah mengalami kedekatan yang cukup erat dengan rombongan penari mengalami konflik batin karena ia merasa berat berpisah dengan Kaoru. Apalagi sebelum kepulangannya Kaoru bersikap dingin dan cenderung tidak bersahabat. Tokoh “aku” juga merasakan kesedihan sewaktu Kaoru melambaikan sesuatu berwarna putih dari kejauhan ketika kapalnya mulai bergerak.

Bargas itu keras terayun-ayun. Si penari tetap mengatupkan mulut dan tetap memandang ke satu arah. Ketika aku mau memegang tangga tali dan menoleh padanya, si penari rupanya mau mengucapkan selamat jalan tapi itupun tak jadi dan sekali lagi ia hanya mengangguk saja. Bargas itu berangkat kembali. Eikichi melambai-lambaikan topi pemburu yang kuberikan padanya tadi. Setelah bargas itu agak jauh, barulah si penari melambai-lambaikan sesuatu yang berwarna putih.

(Yasunari, 1985 : 26)


2.2 Pesan dalam Cerpen Penari Izu (Izu no Odoriko)

 

            Dibalik cara penyampaiannya yang sederhana dan mengalir begitu saja, cerpen Penari Izu (Izu no Odoriko) ini mengandung beberapa pesan yang ingin disampaikan penulis kepada pembacanya. Pertama, mengenai diskriminasi yang diberikan kepada seniman keliling seperti yang dialami oleh rombongan penari tersebut. Seperti yang telah dijabarkan sebelumnya bahwa rombongan penari dalam cerpen Penari Izu (Izu no Odoriko) seringkali mengalami diskriminasi dari masyarakat di sekitarnya, baik secara individu yang diutarakan oleh beberapa tokoh, maupun secara kolektif, yang ditunjukkan dari adanya papan larangan masuk bagi para penari di dusun-dusun dekat Shimoda.

            Akan tetapi diskriminasi tersebut justru tidak dihiraukan oleh tokoh “aku” yang memilih untuk bergabung dengan rombongan penari tersebut dalam perjalanannya. Tokoh “aku” sebenarnya sadar bahwa ia bersama dengan rombongan penari yang dianggap rendah oleh masyarakat seperti yang terdapat dalam

Simpatiku yang biasa saja rupanya sudah meresap ke dalam diri mereka karena aku tidak punya rasa penasaran ataupun keinginan mengejek mereka, dan aku lupa bahwa mereka adalah jenis makhluk anak wayang keliling.

(Yasunari, 1985 : 17)

 

            Pandangan masyarakat tersebut terkait dengan anggapan bahwa wanita penari sama dengan wanita penghibur. Jika kita bandingkan dengan kondisi di Indonesia, kita bisa menyamakan dengan anggapan masyarakat terhadap penari ronggeng dan tayub yang juga dianggap rendah oleh sebagian orang karena dianggap sebagai simbol seksualitas. Beberapa penari konon bisa dibayar untuk menemani para lelaki setelah acara tersebut.

            Hal itu pula yang pernah dicemaskan oleh tokoh “aku” sewaktu rombongan penari tersebut melakukan pertunjukkan di suatu malam

Beberapa lama kemudian terdengar derap langkah, entah karena mereka berkejar-kejaran entah karena menari berputar-putar, lalu tiba-tiba berhenti dan suasana hening. Aku memejamkan mata. Aku mencoba melihat mengapa sebabnya maka suasana menjadi hening. Aku ingin melihat menembus gelap malam. Aku risau jangan-jangan si penari dinodai orang malam ini.

(Yasunari, 1985 : 9)

 

Selain diskriminasi terhadap rombongan tersebut, dalam cerpen Penari Izu (Izu no Odoriko) juga terdapat diskriminasi terhadap perempuan. Misalnya saja pada dialog berikut

“Silahkan Tuan minum dulu. Sekali kami memasukkan tangan ke dalamnya akan menjadi keruh dan kami kira airnya tidak bersih lagi kalau sudah diminum oleh wanita,” kata si ibu.

(Yasunari, 1985 : 21)

 

“Bagaimana kalau Tuan makan walau hanya sesuap? Walaupun tidak bersih lagi karena telah dijamah oleh sumpit wanita. Barangkali akan dapat menjadi buah pembicaraan yang akan ditertawakan kemudian hari,” si ibu berkata sambil mengeluarkan cawan dan sumpit dari dalam yanagigori dan disuruhnya Yuriko pergi mencucinya.

(Yasunari, 1985 : 23)

 

Segala sesuatu yang telah dijamah oleh wanita tidak lagi bersih, begitulah yang dapat ditangkap dari penjelasan tersebut. Secara sekilas pernyataan tersebut jelas telah menimbulkan diskriminasi bagi wanita. Karena wanita dianggap sebagai makhluk yang sangat hina hingga segala sesuatu yang dijamah oleh wanita dianggap tidak lagi bersih. Akan tetapi jika pernyataan tersebut dipahami lebih mendalam, kita dapat mengkaitkan dengan budaya bahwa kita harus memberi yang terbaik untuk orang lain, misalnya saja makanan yang baru dan belum dimakan oleh pemberinya. Sangatlah tidak sopan jika memberi makanan, air, atau apapun yang telah dimakan atau dinikmati oleh orang lain terlebih dahulu. Begitulah sastra dipandang dari sistem tanda yang digunakan untuk menyampaikan suatu maksud.

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1  Kesimpulan

 

Kawabata Yasunari menuliskan cerpen Penari Izu (Izu no Odoriko) dengan cara yang sederhana, melankolis, dan mengalir begitu saja. Akan tetapi justru itulah yang membuat cerpen ini menarik. Karena isi cerita diceritakan tanpa letupan-letupan yang biasanya digunakan untuk menyampaikan rasa cinta. Penulis menuliskan perasaan tokoh “aku” terhadap penari melalui deskripsi, perilaku, dan pandangan terhadap Kaoru.

Seperti yang kita ketahui, sastra merupakan salah satu alat penyampaian pesan dari penulis kepada pembaca. Begitu pula pada cerpen Izu (Izu no Odoriko) yang mencoba menyampaikan pesan mengenai kemanusiaan, bahwa kita tidak bisa memandang orang lain hanya karena pekerjaannya, juga tolong-menolong yang ditonjolkan dalam cerpen ini, serta perasaan cinta yang diungkapkan dengan cara yang sederhana.

 

 

3.2  Saran

 

Makalah ini hanya membahas mengenai cerpen Penari Izu (Izu no Odoriko) dalam segi isi dan pesan saja. Masih banyak penelitian lainnya yang menekankan analisis cerpen Penari Izu (Izu no Odoriko) ini dari segi lainnya. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat dalam perkembangan pengetahuan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Srinarti, Dominic. 2009. Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya  

Populer. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

 

Teeuw, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra : Pengantar Teori Sastra. Jakarta :

Girimukti

Pasaka.

Yasunari, Kawabata. 1985. Penari-Penari Jepang  (Penerjemah : Ajib Rosidi,

Matsuoka Kunio). Jakarta : Penerbit Djembatan

 

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan (diterjemahkan oleh

Melani Budianta). Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :