Belajar Berimaji

Mari Berimaji!

Makna Rumah Ideal dan Filosofinya Bagi Masyarakat Jawa

diposting oleh dini-ardianty-fib10 pada 16 September 2013
di Tradisi - 1 komentar

Makna Rumah Ideal dan Filosofinya Bagi Masyarakat Jawa

Dini Ardianty

121011002

 

Suku Jawa merupakan salah satu suku di Indonesia yang telah memiliki peradaban yang cukup tinggi sejak lama. Hal tersebut dapat dilihat dari falsafah hidup, ajaran, serta pengetahuan masyarakat terdahulu yang dapat kita jumpai pada peninggalan-peninggalan nenek moyang seperti manuskrip, arca, patung, maupun peninggalan tak benda seperti tradisi lisan maupun norma. Dari beberapa peninggalan tersebut kita dapat mengetahui ideologi, jalan pikiran, maupun cara pandang masyarakat yang hidup sebelum kita.

Salah satu peninggalan yang hingga saat ini dapat ditemui dan diikuti oleh sebagian masyarakat adalah peninggalan berupa arsitektur. Menurut Josef Priyotomo (1999: 1-2), sekitar pergantian abad ke-19 sampai 20 Masehi sejumlah naskah yang berkaitan dengan arsitektur Jawa telah dihadirkan dalam bentuk tulisan tangan (naskah). Pada tahun 1930-an, Pigeaud memerintahkan untuk melatinkan naskah-naskah Jawa. Sedangkan pada tahun 1970-an naskah-naskah tersebut sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Naskah-naskah arsitektur tersebut memiliki judul yang berbeda, tetapi di kalangan pengkaji arsitektur Jawa dikenal sebagai ‘Kawruh Kalang’. Akan tetapi penyebutan tersebut mengakibatkan naskah ini dikaitkan dengan masyarakat Kalang. Sehingga digunakan sebutan Kawruh Griya yang mengambil dari salah satu judul naskah, yaitu ‘Kwruh Griyanipun Tiyang Djawi’. Dua kelompok besar naskah Kawruh Griya yaitu membicarakan seluk beluk bagian bangunan beserta pengukuran dan pengkonstruksiannya, yang kedua yaitu menyajikan petunjuk perancangan bangunan.

 

Gambaran Rumah Ideal Menurut Kawruh Griya

 

Arti kata griya bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah rumah. Terdapat gambaran griya atau rumah ideal masyarakat Jawa dalam naskah Kawruh Griya yang secara umum dideskripsikan terdiri dari enam gugus bangunan, diantaranya adalah

  1. Griya Regol, disebut juga gapura. Gapura digambarkan sebagai batas pemberhentian kendaraan bermotor serta dilepasnya topi atau payung. Dalam hal ini gapura disimbolkan sebagai tempat penetapan tata krama antara yang muda dengan yang tua, atau yang lebih tinggi derajatnya. Dapat juga diartikan sebagai seorang tamu yang menghormati tuan rumah.
  2. Griya Pawon, disebut juga dapur dalam bahasa Indonesia. Merupakan tempat meracik atau mengolah segala hal yang berkaitan dengan makanan atau kebutuhan pangan anggota keluarga.
  3. Griya Gandhok, disebut juga bangunan penghubung dengan bangunan yang ada di belakangnya. Dalam naskah ini tidak dijelaskan lebih lanjut mengenai gandhok.
  4. Griya Lumbung, diartikan sebagai tempat penyimpanan padi.
  5. 5.      Griya Kandhang, tidak dijelaskan secara rinci mengenai arti dari kandhang ini. Akan tetapi jika merujuk pada bahasa Jawa, kandhang dapat diartikan sebagai tempat tinggal hewan peliharaan seperti sapi, kambing, bebek, ayam, dan lain sebagainya.
  6. Griya Gedhogan, disebut juga kandang kuda. Kuda merupakan alat transportasi utama pada masa lalu. Maka dari itu bagi masyarakat zaman dulu satu rumah biasanya memiliki paling tidak satu kuda.

 

Rumah tradisional masyarakat Jawa juga mengenal istilah griya wingking atau rumah belakang. Maksudnya rumah yang letaknya berada di belakang. Sedangkan griya ngrarep atau bangunan yang letaknya di depan yaitu pendapa.

Selain gambaran mengenai bagian-bagian dalam rumah ideal bagi masyarakat Jawa dalam naskah Kawruh Griya, dalam “Primbon Djawa Pandita Sabda Nata” yang dihimpun oleh R. Tanaja menyebutkan ada beberapa bangunan tambahan, seperti pagongan yang digunakan untuk memainkan musik atau gamelan, pringgitan yaitu bangunan penghubung antara griya ngajeng dengan griya wingking, griya pamujan sebagai tempat pemujaan atau sembahyang, serta halaman depan, belakang, serta samping rumah untuk tempat bermain anak.

Naskah ini juga menggambarkan posisi ideal dari bangunan-bangunan tersebut, seperti posisi yang baik atas rumah yang menghadap selatan, dengan regol di selatan dan menghadap selatan. Pendapa berada di selatan letaknya di belakang, pagongan berada di barat pendapa, gandok berada di timur letaknya di belakang, pawon di utara letaknya di belakang, kandhang berada di tenggara gandok, gedhogan berada di selatan kandang, griya pamujan berada di pojok rumah tepatnya di sebelah barat laut.

Dari deskripsi di atas kita bisa menyimpulkan bahwa penggambaran rumah ideal dalam naskah Kawruh Griya lebih menggambarkan rumah masyarakat Jawa yang erat kaitannya dalam bidang pertanian. Terlihat dari adanya lumbung padi dan kandhang. Sedangkan naskah Primbon Djawa Pandita Sabda Nata lebih menggambarkan rumah elit atau priyayi Jawa.

 

Makna Rumah dalam Naskah Kawruh Griya

 

Rumah dalam masyarakat Jawa tidak hanya digambarkan sebagai tempat berteduh. Akan tetapi rumah merupakan rangkaian dari gugusan bangunan yang diumpamakan sebagai bagian-bagian pohon yang sangat penting untuk menopang keberadaan pohon tersebut. Adapun bagian-bagian tersebut ada lima, dan bila berkurang maka akan berkurang makna dari rumah itu sendiri. Untuk lebih jelasnya berikut ini merupakan petikan Kawruh Griya yang diambil dari tulisan Josef Prijotomo.

  1. Bila orang tanpa rumah, diumpamakan pohon tanpa bunga. Tidak enak dipandang, juga tidak akan berbuah. Kalaupun berbuah tidak akan bermanfaat bagi kehidupan.
  2. Rumah tanpa pendapa diumpamakan pohon tanpa batang.
  3. Rumah tanpa dapur diumpamakan rumah tanpa buah, tidak ada yang diharapkan.
  4. Rumah tanpa kandhang diumpamakan pohon tanpa daun yang tidak bisa digunakan untuk berteduh.
  5. Rumah tanpa gapura atau tempat penyembahan diumpamakan pohon tanpa akar, tidak bisa menopang kehidupan.

 

Dari metafora di atas dapat disimpulkan bahwa bagi masyarakat Jawa, rumah bukan sekedar tempat berteduh, melainkan tempat bernaung. Dari rumahlah segalanya bermula dan rumah merupakan sumber penghidupan.

 

Makna Sengkalan Mamet dalam Arsitektur Jawa

 

Dalam budaya Jawa, sengkalan merupakan salah satu cara orang Jawa memberi tanda suatu tahun. Sengkalan tidak ditulis dalam angka, melainkan dengan kalimat yang meakili deretan angka yang menunjukkan tahun tertentu. Susunan kata-kata tersebut mewakili kejadian yang sangat penting yang terjadi pada tahun itu. Misalnya “Sirna Ilang Kertaning Bumi” yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti hilang musnah kemakmuran bumi. Sengkalan tersebut menjadi penanda tahun kematian raja Majapahit terakhir, Bhre Ketabumi. Jika diartikan sengkalan tersebut menunjukkan sirna=0, ilang=0, kertaning=6, bumi=1. Maksudnya menunjukkan tahun 1600 Saka atau 1552 Masehi.

Ada tiga macam jenis sengkalan, yaitu sengkalan memet yang diwujudkan dalam bentuk rupa atau gambar, sengkalan lamba yang hanya diwujudkan dalam bentuk kalimat tanpa adanya rupa atau gambar, serta sengkalan sastra yang berbentuk abjad atau aksara Jawa. Contoh sengkalan “Sirna ilang kertaning bumi” di atas merupakan contoh dari sengkalan lamba.

Sengkalan memet sering digambarkan dalam bentuk patung atau gambar. Salah satu tempat yang banyak menyimpan sengkalan memet adalah Keraton Yogyakarta. Misalnya saja patung dua naga yang berpasangan pada pintu gerbang Kamagangan yang berbunyi “Dwi Naga Rasa Wani” yang berarti Dua naga yang merasa berani. Patung tersebut menandai tahun 1682 Saka yaitu tahun berdirinya Keraton Yogyakarta. Selan itu ada juga relief seekor biawak yang dikerumuni lima ekor lebah yang terdapat di sisi utara Tratag Pagelaran. Sengkalan tersebut berbunyi “Panca Gana Salira Tunggal” yang berarti lima lebah biawak satu. Sengkalan tersebut menandakan tahun dipugarnya bangunan ini yaitu 1865 Saka.

Selain dapat ditemui dari bangunan, sengkalan memet juga dapat ditemui dalam dunia pewayangan. Yaitu dalam tokoh Bethara Guru yang terdapat sengkalan memet yang berbunyi “Tangan papat ngecis bumi”, artinya tangan empat menancap bumi. Jika diartikan tangan mewakili angka dua, papat berarti empat, ngecis berarti lima,dan bumi artinya satu. Jadi sengkalan memet tersebut mewakili tahun 1542 Saka atau 1474 Masehi yang juga merupakan penanda tahun dibuatnya wayang ini.

Dari penjelasan mengenai sengkalan memet di atas dapat diketahui bahwa dalam arsitektur Jawa, terdapat simbol-simbol tertentu yang digunakan untuk menyatakan suatu kejadian penting. Misalnya saja sengkalan memet yang digunakan untuk menandai tahun-tahun penting yang berkaitan dengan bangunan atau arsitektur tersebut.

 

Rumah Bagi Masyarakat Jawa

 

Kehidupan masyarakat Jawa sangat erat dengan filosofi dan kepercayaan dalam setiap aktivitas yang dilakukan. Begitupula dalam membangun tempat tinggal. Masyarakat Jawa menyebut tempat tinggal dengan sebutan omah yang berasal dari dua kata, yaitu om yang berarti angkasa dan bersifat laki-laki, serta mah yang berarti lemah (tanah) dan dalam hal ini bersifat perempuan. Jadi dalam penyebutan rumah terdapat dua unsur yang disebut dengan Bapak Angkasa dan Ibu Pertiwi.

Dalam masyarakat Jawa setiap bagian dari rumah memiliki filosofi masing-masing. Misalnya saja bentuk atap pada rumah tradisional Jawa yang mengambil filosofi bentuk gunung. Gunung sering digambarkan sebagai sesuatu yang suci, tempat para dewa tinggal, dan lain sebagainya. Perwujudan gunung dalam atap rumah tradisional masyarakat Jawa dapat dilihat dari bentuk tajug, joglo, limasan, dan kampung. Struktur bangunan atap ditopang dengan saka (tiang). Bangunan utama penyangga atap disebut saka guru yang berjumlah empat buah. Jumlah saka guru ini melambangkan arah mata angin yang berjumlah empat. Manusia dianggap berada di antara empat penjuru tersebut. Bangunan yang diapit oleh saka guru ini kemudian disebut dengan pancer.

Terkait dengan kepercayaan arah mata angin ini juga mempengaruhi penentuan orientasi bangunan. Rumah tradisional masyarakat Jawa umumnya menggunakan orientasi dari sumbu Utara-Selatan yang diyakini sebagai tempat tinggal penguasa laut selatan dan Dewi pelindung kerajaan Mataram. Sedangkan arah Timur-Barat cenderung dihindari oleh masyarakat Jawa karena arah Timur diyakinini sebagai tempat tinggal dewa pencabut nyawa.

Selain itu masyarakat Jawa juga mengenal mitos pamali bagi rumah tusuk sate, yaitu rumah yang berada tepat menghadap arah frontal pada suatu pertigaan. Bagi masyarakat Jawa posisi rumah ini cenderung dihindari karena dianggap dapat mendatangkan marabahaya. Jika kita kaiytkan dengan hal-hal yang bersifat nalar, ada beberapa kemungkinan yang membuat rumah tusuk sate cenderung dihindari. Pertama, karena masalah keamanan lalu lintas. Kedua, masalah kenyamanan, terutama kebisingan dan pengaruh cahaya kendaraan pada malam hari. Ketiga, masalah kesehatan yang disebabkan banyaknya debu dan kerasnya tiupan angin yang menerpa langsung pada bangunan rumah.

Dari uraian di atas kita dapat melihat masyarakat Jawa yang selalu ingin menciptakan ruang hidup yang tidak dapat lepas dari nilai dan norma yang berlaku, serta mengandalkan kepekaan terhadap lingkungan dan kepercayaan yang dianut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Bacaan

 

Ekomadyo, Agus S. 1999. “Pendekatan Semiotika dalam Kajian terhadap Arsitektur Tradisional di Indonesia: Kasus: Sangkalan Memet dalam Arsitektur Jawa”. Makalah. Bandung: Jurusan Arsitektur, Institut Teknologi Bandung.

 

Hidayatun, Maria I. 1999. “Pendopo dalam Era Globalisasi: Bentuk, Fungsi, dan Makna

Pendopo pada Arsitektur Tradisional Jawa dalam Perubahan Kebudayaan”. Dimensi

Teknik Arsitektur. 1 (27) 37-47.

 

Prijotomo, Josef. 1999. “Griya dan Omah: Penelusuran Makna dan Signifikansi di Arsitektur

Jawa”. Dimensi Teknik Sipil, 1 (27): 30-36.

 

 

 

1 Komentar

1. viky

pada : 06 January 2015

"saya mau buka usaha. tapi kata orang-orang tempat tersebut istilah jawanya merupakan Kandang Jaran dan Banyak usaha yang gagal membuka usaha di tempat tersebut. maksudnya kandang jaran itu apa?"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :