Belajar Berimaji

Mari Berimaji!

Analisis Resepsi Hikayat Iskandar Zulkarnain oleh Siti Chamamah Soeratno

diposting oleh dini-ardianty-fib10 pada 16 September 2013
di Tradisi - 0 komentar

Analisis Resepsi Hikayat Iskandar Zulkarnain oleh Siti Chamamah Soeratno

Dini Ardianty

121011002

 

 

Nama Iskandar Zulkarnain merupakan tokoh yang populer dalam masyarakat Melayu. Tokoh ini dipandang sebagai tokoh yang menurunkan raja-raja Melayu dan penyebar agama Islam uamh pantas diteladani. Dalam cerita rakyat Melayu, Iskandar Zulkarnain diceritakan meninggalkan negeri Arab untuk berkelana ke berbagai tempat di Sumatera. Di setiap tempat yang ia datangi, Iskandar mengawini puteri raja setempat dan menurunkan anak-anak yang kelak menjadi raja di seluruh Sumatera.

Naskah Melayu yang banyak berbicara tentang tokoh Iskandar Zulkarnain tersebut adalah Hikayat Iskandar Zulkarnain (selanjutnya disingkat HIZ). HIZ ditulis pada abad XV dan merupakan salah satu diantara ketiga teks Melayu tertua, bersama-sama dengan Hikayat Amir Hamzah dan Hikayat Sri Rama.

Dalam kesusastraan sendiri, cerita mengenai Iskandar Zulkarnain sejatinya merupakan penerimaan bangsa Melayu atas teks yang bersumber pada Pseudo Callisthenes, teks berbahasa Yunani yang ditulis tahun 200 SM. Teks ini telah diterima dalam berbagai bahasa di beberapa belahan dunia dengan nama Roman Aleksander atau teks Iskandar.

Pertengahan abad sembilan belas du Sumatera Timur, teks HIZ berfungsi sebagai penyemangat pasukan raja untuk berperang menghadapi musuh. Teks HIZ juga digunakan dalam cerita wayang kulit di Kelantan, Malaysia. Dalam dunia sastra Jawa dan sastra Bugis, teks Iskandar Zulkarnain juga mendapat tanggapan yang positif, hal tersebut terlihat dari adanya beberapa naskah yang menceritakan tokoh Iskandar Zulkarnain itu sendiri, seperti Serat Nawawi yang terdapat di Keraton Surakarta serta Akhbar Al-Akhirat yang merupakan salah satu karya sastra Bugis.

Teks-teks Melayu yang mengungkapkan cerita Iskandar umumnya merupakan teks sejarah, diantaranya Sejarah Melayu, Misa Melayu, Adat Raja-Raja Melayu, Undang-undang Melayu, Bustanussalatin, Tajussalatin, dan masih banyak lainnya. Pada tahun 1959 terdapat salah satu karya sastra terjemahan berjudul Aleksander Raja Masedonia dalam sastra Indonesia. Dalam karya itu disebutkan bahwa nama lain dari tokoh Aleksander adalah Iskandar Zulkarnain. Selain itu juga terdapat teks Iskandar Zulkarnain (1974) dan Aleksander Agung (1981) yang juga memuat cerita mengenai Iskandar ini.

Dari uraian di atas kita dapat menyimpulkan bahwa teks HIZ telah mendapat penerimaan yang beragam oleh masyarakat Melayu dan secara tidak langsung berperan pada sejarah perkembangan sastra Melayu. Bentuk peranan tersebut adalah struktur teks yang mampu menghasilkan sambutan yang luas dalam dunia sastra Melayu dan bentuk resepsi yang beraneka ragam sejalan dengan selera dan minat masyarakat penyambutnya.

Peneliti mengambil naskah Kuala Lumpur Ms. 21 untuk menelaah struktur teks yang menghasilkan sambutan bagi masyarakat Melayu. Teks HIZ yang tersimpan dalam naskah Kuala Lumpur Ms. 21 adalah satu-satunya teks individual yang memiliki keutuhan tekstual, yakni bermula pada kisah para moyang Iskandar sampai pada peristiwa kematiannya dan sejumlah peristiwa yang mengikuti kematiannya.

Sedangkan untuk meneliti bentuk resepsi teks HIZ pada masyarakat Melayu, digunakan perbandingan dengan teks-teks Melayu antara lain Sejarah Melayu, Cerita Raja Banjar dan Raja Totawaringin, Cerita Asal Bangsa Jin dan Segala Dewa-Dewa, dan Bustanussalatin. Dasar pemilihan keempat teks tersebut adalah karena keempatnya tercipta dari latar sosiobudaya Melayu yang berbeda-beda, yang kemudian melahirkan bentuk resepsi yang berbeda-beda pula. Apabila keterlibatan unsur Iskandar melahirkan berbagai bentuk resepsi, maka keempat teks tersebut mewakili jenis proses penciptaan dan tanggapan pembacanya. Dengan demikian, kajian utama dalam penelitian ini adalah teksnya, sedangkan faktor yang berkaitan dengan sosial dan budaya penciptaannya tidak menjadi kajian khusus melainkan sebagai data pelengkap.

Sebagai salah satu naskah yang berpengaruh bagi kesusastraan Melayu, teks HIZ telah banyak diteliti oleh peneliti-peneliti sebelumnya. Misalnya saja penelitian Van Leeuwen yang menghasilkan kesimpulan bahwa naskah yang tertua ialah naskah Leiden Cod. Or. 1970 yang ditulis tahun 1713. Van Leeuwen dan Winstedt mengemukakan bahwa naskah HIZ mempunyai dua versi yaitu versi Sumatera dan versi Malaya, sedangkan empat naskah yang mereka temukan termasuk dalam versi Malaya.

Berdasarkan hasil perbandingan dengan teks Iskandar versi Arab yang tersimpan d Berlin dengan nama pengarang Al Suri, Van Leeuwen menyatakan bahwa HIZ Melayu diturunkan secara langsung dari teks yang berasal dari Arab. Sedangkan Winstedt berpendapat bahwa asal teks HIZ tidak langsung dari Arab, tetapi dari Persi India, yaitu versi Persi yang tercipta di India. Van Leeuwen menyebutkan bahwa dalam hal proses penciptaan, HIZ Melayu tercipta dari empat sumber, yaitu Al Quran, Pseudeo Calliasthenes, Syah Nama dari Persi, dan cerita atau tradisi dalam Islam.

Berkaitan dengan prinsip intertekstualitas, karya HIZ yang merupakan bentuk transformasi dari teks Iskandar yang ada dalam tradisi tulis di Arab, memperlihatkan gejala tersendiri. Banyaknya jumlah naskah, besarnya fisik naskah, serta kondisi tekstualnya yang tidak memperlihatkan varian yang besar, melahirkan perkiraan baha teks tersebut tidak lahir dari tradisi lisan. Hal ini berbeda dengan beberapa hikayat Melayu yang merupakan perwujudan transformasi dari tradisi lisan ke tradisi tulis. Begitupula dengan HIZ yang bukan merupakan sastra lisan tentang Iskandar di Melayu.

Suntingan yang pernah dilakukan terhadap naskah HIZ adalah suntingan fragmentaris, suntingan diplomatis, suntingan kritis, dan penyajian teks HIZ terhadap bagian-bagian beberapa naskahnya yang disebut saduran. Penelitian terhadap HIZ selama ini lebih banyak menekankan pada pernaskahan dan penyajian teks.

Untuk mengungkap makna yang terdapat dalam teks HIZ, peneliti mengkaji naskah yang tersimpan di Paris, Mal. Pol. 101. Dari penelitian tersebut diperoleh kesimpulan bahwa teks HIZ yang tersimpan di Paris tersebut mengungkapkan makna Iskandar Zulkrnain seorang raja besar. Menurut pengelompokan Winstedt, naskah ini termasuk ke dalam versi Sumatera.

Dari segi fungsi unsur struktur yang dominan, dapat disimpulkan bahwa tokoh Khidlir mempunyai fungsi yang dominan sebagai unsur struktur mengantarkan citra kebesaran Iskandar melalui aspek spiritual Islam. Peneliti kemudian mengungkapkan penerimaan masyarakat Melayu terhadap tokoh Iskandar dan menghasilkan kesimpulan bahwa Iskandar Zulkarnain dalam HIZ merupakan gambaran raja idaman. Analisis mengenai unsur tokoh dan alur menghasilkan kesimpulan bahwa Iskandar merupakan tokoh sentral dan bentuk alur berulang memiliki fungsi yang penting bagi keutuhan struktur teksnya.

Teks HIZ telah mengalami beberapa kali penyalinan dan penerimaan yang berbeda dalam masyarakat Melayu. Peneliti menggunakan metode stema untuk menentukan hubungan kekerabatan antar naskah-naskah Melayu yang memuat cerita Iskandar Zulkarnain tersebut. Melalui metode stema itulah kemudian ditemukan naskah yang dianggap sebagai naskah tertua dan mendekati naskah asli.

Menggunakan metode stema untuk melacak hubungan kekeluargaan dalam naskah-naskah Melayu tidaklah mudah mengingat dalam tradisi Melayu lazim dilakukan penyalinan atau penurunan naskah yang tidak sama bahkan jauh berbeda dengan naskah rujukannya. Tradisi Melayu lebih fleksibel dalam hal penyalinan karena naskah-naskah yang disalin cenderung bukan merupakan teks sakral yang harus sama persis dengan teks aslinya. Belum lagi jika teks tersebut terpengaruh oleh tradisi lisan yang ada di masyarakat. Bisa jadi jalan cerita yang disajikan menyimpang jauh dari teks aslinya.

Ciri-ciri lain dalam naskah Melayu adalah lahirnya suatu naskah dari sejumah teks induk, maksudnya adalah naskah kontaminasi yang lahir dari proses penyalinan yang bersifat horisontal. Melihat gejala-gejala di atas, metode stema bagi naskah Melayu pada hakikatnya tidak perlu dan tidak boleh diterapkan secara mutlak.

 

 

Daftar Rujukan :

Soeratno, Siti Chamamah. 1991. Hikayat Iskandar Zulkarnain: Analisis Resepsi.

Jakarta: Balai Pustaka.

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :