Belajar Berimaji

Mari Berimaji!

Analisis Cerita Kentrung Sarahwulan di Tuban Oleh Saripan Sadi Hutomo

diposting oleh dini-ardianty-fib10 pada 16 September 2013
di Tradisi - 0 komentar

Analisis Cerita Kentrung Sarahwulan di Tuban Oleh Saripan Sadi Hutomo

Dini Ardianty

121011002

 

 

Sastra lisan merupakan salah satu warisan budaya yang diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi. Sastra lisan umumnya hidup dan berkembang di masyarakat yang belum atau sedikit menganl tulisan, yaitu masyarakat pedesaan yang jauh dari kota. Salah satu jenis sastra lisan yang masih terdapat di daerah pedesaan di Jawa adalah cerita kentrung. Tulisan Suripan Sadi Hutomo mengambil objek cerita kentrung Sarahwulan oleh dalang Rati dari Jawa Timur. Cerita kentrung Sarahwulan sendiri diambil atas dua pertimbangan, yaitu karena pertama, cerita Sarahwulan terancam punah dan Rati merupakan satu-satunya dalang kentrung yang memiliki cerita ini dan belum memiliki pengganti. Kedua, menurut penelitian sebelumnya, cerita Sarahwulan pernah populer di pesisir utara pulau Jawa. Hal ini diperlihatkan dari banyaknya teks tertulis yang tersebar luas hingga ke pulau Bali dan Lombok.

Kentrung sendiri merupakan salah satu kesenian raktay yang berasal dari Tuban, akan tetapi hidup di masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Jawa Timur seni kentrung umumnya terdapat di daerah pesisir wetan yaitu Tuban, dan daerah kebudayaan mancanegari yaitu kabupaten Blitar, Kediri, Tulungagung, dan Ponorogo. Di Madura dan tanah sabrang wetan (daerah yang penduduknya berbahasa Madura), seni kentrung disebut seni gantrung atau gentrung.

Penelitian ini dilakukan sekitar tahun 1975 – 1978, kemudian dilakukan penelitian ulang pada tahun 1986 dan 1987 untuk melihat sejauh mana pewarisan nilai budaya Jawa yang dilakukan oleh dalang kentrung. Pada tahun 1975 – 1978, ada beberapa dalang kentrung yang masih aktif dan banyak disebut orang yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur. Akan tetapi dalang yang dipilih dalam penelitian ini adalah dalang Rati dari Tuban dengan pertimbangan dalang tersebut adalah satu-satunya dalang yang menuturkan cerita Sarahwulan di Jawa Timur dan mengingat perempuan adalah pewaris kepercayaan, ritual, serta tradisi yang kuat (Potter dalam Leach).

Di dalam suatu pertunjukan kentrung, seorang dalang menuturkan cerita di hadapan sejumlah pendengar dengan iringan musik sederhana yang terdiri dari kendang dan terbang. Anggota seni kentrung terdiri dari seorang dalang dan beberapa orang panjak (orang yang menabuh instrumen dan membaca parikan). Dalam seni kentrung tunggal, seorang dalang juga merangkap sebagai panjak. Dalang juga bertugas untuk melakonkan seluruh tokoh dalam cerita tersebut. Maka tidak heran jika ada dalang yang membedakan suara tiap tokoh.

Dalam cerita kentrung Sarahwulan, terdapat tiga konsep kelas sosial yang ada di masyarakat yaitu abangan, santri, dan priyayi. Konsep ini sudah lazim ditemui dalam masyarakat Jawa maupun masyarakat yang ada di pedesaan. Selain menggunakan konsep pembagian kelas sosial tersebut, penelitian ini juga menggunakan konsep unsur-unsur dalam karya sastra, yaitu intrinsik. Konsep intrinsik digunakan untuk menelusuri unsur-unsur cerita kentrung dan latar belakang kebudayaannya, serta hubungan antara teks tertulis dan sastra lisan. Dengan demikian, konsep indeks-tipe dan indeks-motip juga diperlukan untuk meruntut keberagaman motif cerita Sarahwulan serta hubungan intertekstualitasnya.

Selain dimanfaatkan sebagai seni pertunjukkan, cerita kentrung Sarahwulan juga dimanfaatkan sebagai salah satu alat pendidikan bagi masyarakat. Analisis fungsi terhadap cerita kentrung Sarahwulan dilakukan dengan cara analisis sturktur intrinsik, bukan dengan cara wawancara dengan dalang kentrung. Hal ini karena dalang kentrung sebagai pelaku tidak menyadari adanya fungsi itu. Itulah sebabnya konsep dari Bascom maupun Dundes tidak dijadikan kerangka acuan begitu saja.

Transkripsi cerita kentrung mengikuti prinsip pemindahan secara setia, yaitu dengan menuliskan semua cerita yang diucapkan dalang dan panjak tanpa mengubah sedikitpun. Hal ini dimaksudkan agar keadaan teks tidak jauh beda dengan rekaman yang didapat. Konsekuensi dari pemindahan setia adalah kata-kata yang salah ucap, makna tidak jelas, salah menggunakan kata, dan dialek yang dituturkan oleh dalang dan panjak semua dialihkan dalam bentuk tulisan. Akan tetapi penulis memberikan catatan dan penjelasan mengenai pembenaran ucapan tersebut untuk lebih memahami cerita kentrung.

Cerita kentrung merupakan perpaduan antara seni tradisi Jawa dan Islam. Terdapat beberapa unsur-unsur Islam yang mempengaruhi cerita kentrung, salah satunya bahasa Arab. Masyarakat Jawa biasanya mengucapkan kata-kata bahasa Arab dalam logat Jawa, begitupula dengan dalang dan panjak dalam cerita kentrung ini. Maka dari itu kata-kata bahasa Arab yang sudah meresap ke dalam bahasa Jawa dan Indonesia ditulis menurut logat Jawa dan Indonesia.

Metode yang digunakan untuk mencari fungsi cerita kentrung dilakukan secara intrinsik, dan ditambah dengan metode etnografi dengan teknik wawancara dan observasi dengan responden yang terdiri dari para dalang, penanggap, dan penonton. Teknik wawancara yang digunakan adalah wawancara terbuka.

Untuk mengumpulkan cerita kentrung, metode yang digunakan adalah dengan merekam pertunjukkan semalam suntuk, terutama cerita Sarahwulan dan cerita yang berkaitan dengan cerita tersebut. Namun ada beberapa pertunjukkan yang tidak direkam semalam suntuk, cukup direkam ringkasannya dan diidentifikasi genrenya.

Dalam tulisan Suripan Sadi Hutomo ini juga dilakukan perbandingan antara sastra lisan yang ada di masyarakat, khususnya masyarakat Tuban, dengan beberapa naskah yang tersimpan di pusat-pusat pengetahuan di luar negeri, khususnya universitas Leiden. Hal ini dimaksudkan untuk mencari tahu apakah cerita Sarahwulan merupakan cerita asli rakyat Jawa Timur ataukah terpengaruh dari hasil kebudayaan lain. Maka dari itu digunakan metode komparatif dan historis.

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :