Belajar Berimaji

Mari Berimaji!

Sistem Penanggalan Jawa dan Penerapannya dalam Primbon Bataljemur Adammakna

diposting oleh dini-ardianty-fib10 pada 16 September 2013
di Filologi - 0 komentar

Sistem Penanggalan Jawa dan Penerapannya dalam Primbon Bataljemur Adammakna

Dini Ardianty

121011002

 

Kalender Jawa mengandung perpaduan antar unsur budaya Islam, Hindu-Budha Jawa, dan bahkan budaya barat. Dalam sistem kalender Jawa, siklus hari yang dipakai ada dua: siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang, dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran. Kalender Jawa mulai diberlakukan sejak tahun 1625 Masehi oleh Sultan Agung yang menggunakan sistem kalender bulan dan menggabungkan ajaran Islam ke dalam sistem kalender tersebut.

Bulan-bulan Jawa Islam sebagian besar diambil dari kalender Hijriah, namun beberapa diantaranya menggunakan bahasa lokal seperti bahasa Sansekerta, bahasa Jawa, dan bahasa Melayu. Nama-nama bulan dalam Islam antara lain Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Sela, dan Dulkahijjah (Besar)

Pada tahun 1855 Masehi Pakubuwana VII menetapkan penanggalan berdasarkan matahari untuk memadai patokan para petani bercocok tanam yang tidak terdapat di penanggalan berdasarkan bulan. Penanggalan ini sebenarnya telah digunakan masyarakat Jawa sebelum datangnya Islam. Penanggalan menurut matahari tersebut dijabarkan sebagai berikut

No

Penanggalan Jawa

Awal

Akhir

1

Kasa

23 Juni

2 Agustus

2

Karo

3 Agustus

25 Agustus

3

Katiga (Katelu)

26 Agustus

18 September

4

Kapat

19 September

13 Oktober

5

Kalima

14 Oktober

9 November

6

Kanem

10 November

22 Desember

7

Kapitu

23 Desember

3 Februari

8

Kawolu

4 Februari

1 Maret

9

Kasanga

2 Maret

26 Maret

10

Kadasa

27 Maret

19 April

11

Dhesta

20 April

12 Mei

12

Sadha

13 Mei

22 Juni

 

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Jawa selalu bersikap hati-hati dengan membaca tanda-tanda yang terdapat pada sekitar dan biasanya merupakan kejadian-kejadian yang tidak biasa. Kelahiran sering dianggap sebagai suatu langkah yang penting dalam kehidupan. Masyarakat (tidak hanya masyarakat Jawa) sering mengaitkan kelahiran dengan kehidupan dan masa depan seseorang. Seperti yang terdapat dalam Primbon Bataljemur Adammakna yang banyak menjelaskan perhitungan hari, jam, pasaran, bulan, serta tanggal kelahiran yang dikaitkan dengan watak seseorang. Misalnya saja jika pasaran orang tersebut adalah kamis wage, maa orang tersebut memiliki sikap tanggung jawab yang tinggi serta keras kepala.

Dalam Primbon Bataljemur Adammakna juga dijelaskan mengenai watak seseorang menurut jumlah neptu hari dan pekan yang kemudian dibagi dengan angka tujuh, jika memiliki sisa angka, maka berikut adalah penjelasannya

  1. Segara wasesa, banyak rezeki dan segala perbuatannya baik
  2. Tunggak semi, selalu mempunyai rezeki
  3. Satriya wibawa, selalu menemukan keenakan
  4. Sumur sinaba, dapat menjadi tempat pengungsian
  5. Bumi kapetak, dapat menjadi petani
  6. Satriya wirang, selalu mendapatkan rintangan atau malu
  7. Lebu/katiub angin, selalu berada dalam kekurangan dan sering berpindah tempat

 

Dalam perhitungan hari ini neptu hari Jumat adalah 1, Sabtu 2, Ahad (Minggu) 3, Senin 4, Selasa 5, Rabu 6, dan Kamis 7. Sedangkan untuk neptu pekan adalah Kliwon 1, Legi 2, Pahing 3, Pon 4, dan Wage 5. Misalnya saja seseorang lahir pada hari Ahad Wage, neptu Ahad adalah 3 sedangkan Wage adalah 5. Jika keduanya dijumlahkan maka 3+5 = 8 : 7 maka sisa 1. Itu artinya jatuh pada segara wasesa. Selain dibagi tujuh, perhitungan penanggalan yang berkaitan dengan watak seseorang juga dapat dibagi bilangan delapan dan sembilan, serta dijumlah secara utuh.

Perhitungan penanggalan juga dapat dimanfaatkan untuk mengetahui ramalan mengenai seseorang dari segi perbintangan. Dalam kalender Jawa terdapat dua belas bintang yang dihitung berdasarkan jumlah neptu hari dan pekan (pasaran) kelahiran. Misalnya saja lahir pada Rabu Kliwon, neptu Rabu dan Kliwon adalah 7 + 8 = 15, maka orang tersebut memiliki bintang Jun. Menurut kitab Primbon Bataljemur Adammakna, bala bantuan untuk bintang kukus, musuhnya bintang sada. Bicaranya lemah lembut, tangkas, suka memukul, banyak anak, rajin bekerja, hatinya tidak tenang, senang berbuat baik, tidak suka bersenang-senang, dan pemalu. Penyakitnya batuk darah, panas, dan pening. Syaratnya memakai cincin bermata hitam. Kejayaannya hari Ahad (Minggu) bulan Rabiulawal. Kemalangannya hari Rabu bulan Pasa.

Kedua belas bintang dalam kalender Jawa adalah bintang mijan jika jumlah neptunya tujuh, bintang arab jika jumlahnya delapan, bintang kukus jika jumlahnya sembilan, bintang jadi jika jumlahnya sepuluh, bintang dalu jika jumlahnya sebelas, bintang kuda jika jumlahnya dua belas, bintang asma jika jumlahnya tiga belas, bintang sur jika jumlahnya empat belas, bintang jun jika jumlahnya lima belas, bintang surtan jika jumlahnya enam belas, bintang sada jika jumlahnya tujuh belas, dan bintang sumbul jika jumlahnya delapan belas.

Selain untuk ramalan nasib, penanggalan Jawa dalam kitab Primbon Bataljemur Adammakna juga digunakan untuk memperkirakan ramalan atau panduan untuk pindah rumah, bepergian, bercocok tanam, menghadap pejabat, bepergian untuk bekerja, berdagang, memutuskan perkara, pernikahan, kematian, memulai pekerjaan, membangun rumah, serta mengobati suatu penyakit. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat Jawa sangat memperhatikan sistem penanggalan dalam melakukan sesuatu. Hal ini didasari pada sikap kehati-hatian masyarakat Jawa agar apa yang dikerjakannya tidak sia-sia.

 

 

Rujukan:

Noeradyo, Siti Soemadiyah. 1994. Kitab Primbon Bataljemur Adammakna Bahasa Indonesia. Yogyakarta: CV. Buana Raya.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :