Belajar Berimaji

Mari Berimaji!

Sistem Pengobatan Tradisional Masyarakat Jawa

diposting oleh dini-ardianty-fib10 pada 16 September 2013
di Tradisi - 0 komentar

Dini Ardianty (121011002)

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Indonesia kaya akan kekayaan tradisi baik yang tradisi yang tertulis maupun tradisi yang disebarkan turun-temurun secara lisan. Tradisi tersebut menandakan bahwa masyarakat Indonesia zaman dahulu telah mengenal ilmu pengetahuan berdasarkan pengalaman sehari-hari mereka. Pengetahuan tersebut antara lain perbintangan, arsitektur, pengobatan tradisional, kesusasteraan, dan lain sebagainya.

Tradisi penulisan naskah pada masa lalu terjadi dalam rentang waktu yang relatif lama. Hal ini mempertimbangkan jumlah naskah yang ditemukan jumlahnya luar biasa banyak, tidak hanya terbatas pada bidang kesusasteraan saja, tetapi mencakup bidang lain seperti filsafat, adat istiadat, sejarah, hukum, obat-obatan, teknik, agama, dan lain-lain (Faturrahman, 2008: 17). Hal ini menunjukkan bahwa naskah kuno memiliki informasi yang beragam mengenai kehidupan kelompok manusia. Naskah tersebut penting bagi pengetahuan kebudayaan setiap daerah dan lebih penting lagi untuk mengetahui identitas nasional.

Banyak naskah kuno yang mengandung ide besar, buah pikiran yang luhur, pengalaman jiwa yang berharga, pertimbangan-pertimbangan luhur tentang sifat baik dan buruk, rasa penyesalan terhadap dosa, perasaan belas kasih, pandangan kemanusiaan yang tinggi, dan lain sebagainya. Di samping itu naskah kuno merupakan salah satu sumber informasi kebudayaan daerah yang sangat penting (Djamaris, 1993: 19).

Salah satu peninggalan ilmu pengetahuan yang diwariskan nenek moyang kita adalah pengobatan tradisional. Indonesia kaya akan pengetahuan mengenai pengobatan tradisional. Hampir setiap suku bangsa di Indonesia memiliki khasanah pengetahuan dan cara tersendiri mengenai pengobatan tradisional. Sebelum dituliskan ke dalam naskah kuno, pengetahuan tersebut diturunkan secara turun-temurun melalui tradisi lisan.

Menurut Djojosugito (1985), dalam masyarakat tradisional obat tradisional dibagi menjadi 2 yaitu obat dan ramuan tradisional dan cara pengobatan tradisional. Sedang obat tradisional adalah obat yang turun-temurun digunakan oleh masyarakat untuk mengobati beberapa penyakit tertentu dan dapat diperoleh secara bebas

Suku Jawa telah mengenal primbon sejak abad ke-8 , terbukti dari adanya prasasti di Candi Perot (772), Haliwangbang (779), dan Kudadu (1216). Salah satu primbon dan ensiklopedia terlengkap dalam tradisi Jawa adalah Serat Centhini. Sistem pengobatan tradisional Jawa mempunyai pandangan kosmologis mengenai penyakit, bukan hanya pada apa yang menyebabkan sakit, melainkan juga bagaimana dan mengapa seseorang menjadi sakit.

Naskah-naskah lama yang mengandung informasi tentang pengobatan tradisional, khususnya pengobatan tradisional Jawa antara lain Kawruh Bab Jampi-jampi Jawi, Kawruh Jampi Jawi, Racikan Boreh saha Parem, serta Serat Centhini.

Tulisan ini membahas mengenai pengobatan tradisional yang ada di masyarakat Jawa pada khususnya yang banyak mengandalkan naskah primbon sebagai rujukan dalam kehidupan sehari-hari.

 

1.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas rumusan makalah pada tulisan ini adalah:

  1. Bagaimana obat dan ramuan tradisional masyarakat Jawa  berdasarkan tradisi tulis dan lisan?
  2. Bagaimana cara pengobatan tradisional masyarakat Jawa berdasarkan tradisi tulis dan lisan?

 

1.3  Tujuan Penelitian

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

  1. Mendeskripsikan bentuk obat dan ramuan tradisional masyarakat Jawa berdasarkan tradisi tulis dan lisan.
  2. Mendeskripsikan cara pengobatan tradisional masyarakat Jawa berdasarkan tradisi tulis dan lisan.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

1.1  Obat dan Ramuan Tradisional Masyarakat Jawa Berdasarkan Tradisi Tulis dan Lisan

 

Masyarakat Indonesia telah sejak lama memanfaatkan bahan alam sebagai salah satu alternatif pengobatan. Mangestuti Agil dalam tulisannya yang berjudul “Khasiat Pengobatan Nusantara dalam Naskah Kuno Jawa, Bali, Madura, Kalimantan” menyebutkan bahwa melalui catatan peninggalan tertulis maupun penelitian diketahui bahwa setiap suku bangsa mempunyai cara mengatasi masalah kesehatan mereka dengan bahan alam, yaitu tumbuhan, hewan, dan mineral. Masyarakat zaman dulu memanfaatkan bahan alam tersebut berdasarkan pengalaman empiris yang mereka ketahui selama bertahun-tahun. Mangestuti menyebut bahan alam yang dimanfaatkan dalam obat dan ramuan tradisional tersebut sebagai jamu.

Di Jawa sendiri ramuan jamu sangat beragam dan dapat dipelajari dari berbagai sumber tertulis, baik yang berasal dari lingkungan kerajaan maupun yang berasal dari lingkungan masyarakat luas. Sedangkan ramuan jamu Madura dikenal masyarakat luas dengan ramuan yang berkaitan dengan kesehatan wanita.

Berdasarkan cara pengolahan tanaman obat dan pengobatan tradisional diketahui terdapat berbagai macam cara yaitu (1) dipipis kemudian diborehkan/ ditapalkan/ dilumaskan/ diminumkan/ dibedakkan/ dirajah/ dioleskan/ ditelan/ diusap; (2) direbus kemudian diminum/ diteteskan/ diusap; (3) dibakar kemudian diborehkan/ dibedakkan/ diminum; (4) dikunyah kemudian dioleskan/ disemburkan/ ditelan/ diusap; (5) diulek kemudian ditapalkan/ diminum/ dibedakkan; dan diperas/ diremas/ kemudian dioleskan/ diminumkan. Dari berbagai cara tersebut dapat disimpulkan bahwa ada dua cara meramu jamu, yaitu dengan cara pemakaian luar dan pemakaian dalam.

Menurut Mangestuti, jamu untuk pemakaian dalam pada umumnya digunakan untuk mengatasi gejala penyakit yang sering terjadi, seperti demam, sakit kepala, infeksi saluran cerna, infeksi saluran reproduksi, gangguan saluran napas, serta gangguan saluran urin. Selain itu juga dipakai untuk pencegahan dan meningkatkan daya tahan tubuh. Sedangkan jamu untuk pemakaian luar digunakan untuk mengobati luka, infeksi, pengelupasan kulit mati, pembersih, dan pelembab.

Sayangnya tidak ada takaran atau dosis yang pasti dalam suatu resep obat maupun ramuan tradisional. Ukuran berat dan jumlah tersebut antara lain saga, ketheng, selembar, sathekem, butir, iris, sadriji, sera punggel. Takaran atau dosis yang digunakan masyarakat zaman dulu tentu saja berbeda dengan yang digunakan pada masa kini, yang telah menggunakan standar-standar dalam ukuran tertentu dan telah mengalami uji laboratorium.

 

1.2  Cara Pengobatan Tradisional Masyarakat Jawa Berdasarkan Tradisi Tulis dan Lisan

 

Selain dengan obat atau ramuan tradisional, menurut Djojosugito cara pengobatan tradisional juga termasuk ke dalam khasanah pengobatan tradisional. Bani Sudardi dalam tulisannya “Konsep Pengobatan Tradisional Menurut Primbon Jawa” menyebutkan bahwa dalam Primbon Jawa terdapat beberapa perhitungan yang digunakan untuk menentukan asal penyakit, tingkat penyakit, bagian yang sakit, dan cara yang dilakukan untuk mengobati penyakit tersebut.

Misalnya saja dalam masyarakat Jawa mengenal perhitungan (neptu) yang didasarkan pada waktu dan pasaran. Berikut ini merupakan perhitungan (neptu) berdasarkan pasaran

Hari

Neptu

Pasaran

Neptu

Senin

Selasa

Rabu

Kamis

Jumat

Sabtu

Minggu

4

3

7

8

6

9

5

 

 

Pasaran

Neptu

Pon

Wage

Kliwon

Legi

Pahing

7

4

8

5

9

 

Misalnya jumlah nilai hari dan pasaran Minggu pon adalah 5+7 = 12. Neptu hari dan pasaran saat datangnya penyakit dapat digunakan untuk menentukan asal penyakit, tingkat penyakit, dan bagian yang sakit. Jumlah neptu hari dan pasaran dikurangi dengan angka-angka kelipatan tiga hingga sisa terakhir. Sisa tersebut digunakan untuk menentukan asal penyakit dan tebusan yang harus dilakukan untuk menyembuhkan penyakit tersebut.

Dalam primbon Jawa juga mengenal istilah lenggahipun dinten, yaitu menentukan asal penyakit berdasar awal atau kapan penyakit tersebut mulai menjangkiti tubuh penderita. Misalnya saja seseorang mulai sakit pada hari Senin, maka penyakit tersebut berasal dari telinga. Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel di bawah ini

 

Nama Hari

Asal penyakit

Senin

Selasa

Rabu

Kamis

Jumat

Sabtu

Telinga

Hidung

Perut

Tulang

Mata

Tungkai

 

Hari-hari dimulainya sakit juga dapat menentukan sebab penyakit, seperti yang dikemukakan dalam kitab Primbon Bataljemur Adammakna berikut ini

Nama hari

Sebab penyakit

Senin

Selasa

Rabu

Kamis

Jumat

Sabtu

Minggu

Mempunyai nadzar yang belum dilaksanakan

Diguna-guna oleh orang lain

Diganggu oleh makhluk halus

Terkena tulah dari orangtua

Diganggu makhluk halus yang ada di kolong rumah

Diganggu setan yang ada di hutan

Diganggu oleh makhluk halus

 

Dalam tradisi Jawa juga terdapat beberapa teknis pengobatan, seperti jamu dan cekok, bobok, parem, boreh, pilis, pupuk, sembur, tapel, isyarat, tebusan, tetulak, mantra, suwuk, kidung, dan rajah (ritual). Misalnya teknis pengobatan secara rajah (ritual) dilakukan dengan memberikan tebusan berdasarkan anggota badan yang sakit.

Anggota badan yang sakit

Wujud Tebusan

Kepala

Dada

Tangan

Kaki

kemaluan

Kepala utuh beserta kulit

Buah nangka utuh

Pisang satu lirang

Pohon tebu sebatang

Pria      : kue klepon

Wanita : kue srabi sepasang

 

Memang tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai dasar penentuan cara pengobatan tradisional yang ada dalam masyarakat. Akan tetapi sampai sekarang masih ada beberapa masyarakat yang mempercayai kearifan lokal tersebut sebagai suatu kekayaan dan warisan nenek moyang yang perlu dijaga dan dilestarikan.

 

BAB III

SIMPULAN

 

Bangsa Indonesia memiliki kekayaan tradisi dan warisan leluhur yang agung dan beragam. Hal tersebut menandakan bahwa masyarakat nusantara telah memiliki pengetahuan yang tinggi akan berbagai hal dalam kehidupan mereka berdasarkan pengetahuan dan pengalaman sehari-hari. Jika diuji secara empiris, sebagian besar pengetahuan tersebut mendekati kebenaran.

Misalnya saja dalam hal pengobatan tradisional yang dimiliki oleh setiap suku di Indonesia. Memang masyarakat tidak memiliki takaran atau dosis yang pasti mengenai penggunaan obat tersebut untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Akan tetapi ketika diuji di laboratorium, pengetahuan akan ramuan dan obat tradisional tersebut kemudian dibenarkan oleh berbagai ahli dan dimanfaatkan dalam khasanah keilmuan modern.

Obat tradisional sendiri menurut Djojosugito (1985) dibagi menjadi 2 yaitu obat dan ramuan tradisional dan cara pengobatan tradisional. Sedang obat tradisional adalah obat yang turun-temurun digunakan oleh masyarakat untuk mengobati beberapa penyakit tertentu dan dapat diperoleh secara bebas.

Dengan mengetahui berbagai manfaat dan pengetahuan mengenai pengobatan tradisional yang telah dituliskan ke dalam berbagai manuskrip atau naskah kuno serta tradisi lisan yang berkembang di masyarakat, diharapkan bangsa Indonesia dapat mewarisi dan menjaga nilai-nilai luhur tersebut sehingga generasi selanjutnya dapat mengetahui betapa besar bangsa Indonesia di masa lalu.

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Agil, Mangestuti. 2012. Khasiat Pengobatan Nusantara dalam Naskah Kuno

Jawa, Bali, Madura, Kalimantan. Dipresentasikan dalam Sarasehan

Etnomedesin I, Fakultas Farmasi Universitas Airlangga pada 18 Desember

2012

 

Djojosugito, Ahmad Muhammad. 1985. “Pengetahuan Obat-obatan Jawa

Tradisional” dalam Soedarsono dkk. Celaka, Sakit, Obat, dan Sehat

Menurut Konsepsi Orang Jawa. Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi), Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

 

Faturrahman, Oman. 2008. Tarekat Syattariyah di Minangkabau. Jakarta: Prenada

Media Grup.

 

Nawaningrum, Dina, dkk. (2004). “Kajian Terhadap Naskah Kuna Nusantara

Koleksi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia:

Penyakit Dan Pengobatan Ramuan Tradisional”. Makara, Sosial

Humaniora. No.2, Vol. 8, 45-53

 

Sudardi, Bani. (2002). “Konsep Pengobatan Tradisional Menurut Primbon Jawa”.

Jurnal Humaniora. No.1, Vol. 4, 12-19.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :