Belajar Berimaji

Mari Berimaji!

Iklan Rokok A-Mild: Kritik Sosial yang Bukan Basa-Basi

diposting oleh dini-ardianty-fib10 pada 01 October 2013
di Sastra - 2 komentar

Saussure membagi sistem tanda menjadi dua, yaitu penanda dan petanda. Penanda adalah aspek yang menandai dari tanda dan berupa citra bunyi.  Petanda adalah aspek yang ditandai yang berupa konsep. Konsep yang dimiliki setiap orang mengenai tanda tentunya akan berbeda satu sama lain, tergantung dengan pembacaan maupun pengalaman masing-masing individu. Misalnya saja penilaian mengenai gambar yang diambil dalam sebuah iklan rokok tersebut, bagi seorang penikmat musik, gambar tersebut mengingatkan pada cover album milik The Beatles yang berjudul “Abbey Road”.

Hal tersebut terlihat dari gambar yang berada di tampilan frame kacamata yang menggambarkan tiga orang yang sedang menyebrang jalan melalui zebra cross. Dalam tampilan tersebut memang terlihat ada enam orang, akan tetapi jika kita amati lebih jauh, tampilan pda frame kacamata bagian kiri dan kanan adalah sama. Jadi hanya ada tiga orang yang digambarkan dalam kacamata tersebut, bukan enam orang.

Jika kita teliti, gesture ketiga orang tersebut sangat kaku, tidak luwes, bahkan seperti dibuat-buat. Apakah hal tersebut berkaitan dengan sosok pria berkacamata yang sedang mengamati ketiga orang tersebut? Tentu saja pria berkacamata tersebut tidak sekedar ditampilkan sebagai pajangan, melainkan sebagai sebuah penanda dari suatu konsep.

Sosok pria berkacamata tersebut digambarkan sebagai sosok yang garang, berkumis tebal, dan berkulit gelap. Selain menggunakan kacamata, pria tersebut juga menggunakan helm. Melihat latar iklan tersebut, yaitu jalan raya, serta menghubungkan penanda-penanda lain seperti orang menyebrang serta zebra cross, ditambah dengan mimik muka garang dan helm yang dikenakan di kepala, kita dapat menghubungkan sosok pria tersebut dengan polisi lalu lintas. Sedangkan jika kita kaitkan dengan ketiga pria yang menyebrang jalan melalui zebra cross dengan sikap yang kaku, kita dapat menghubungkan dengan seorang polisi yang sedang mengamati pejalan kaki yang menyebrang melalui jalan raya. Jadi, ketiga orang tersebut menyebrang jalan melalui zebra cross dan bersikap patuh karena ada seorang polisi yang mengawasi mereka.

Hal tersebutlah yang ingin diangkat dari iklan rokok yang mengusung jargon “Bukan basa-basi”. Jika kita hubungkan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, kita banyak menemui hal serupa yaitu orang akan patuh dan tidak melanggar aturan jika ada orang lain yang mengawasi. Sedangkan ketika tidak ada orang yang mengawasi dan menilai mengenai perilaku kita, kita cenderung bersikap seenaknya.

Indonesia memang menetapkan aturan khusus mengenai iklan produk rokok, yaitu tidak menampilkan orang yang sedang merokok. Maka dari itu produsen rokok berlomba-lomba membuat iklan sekreatif mungkin, salah satunya adalah dengan menampilkan kehidupan sehari-hari di sekitar kita. Apalagi produk rokok dengan jargon “Bukan basa-basi” ini menarget anak muda sebagai sasaran produk mereka, maka iklan ini dianggap efektif untuk memperkenalkan produk tersebut.

 

 

Dini Ardianty (121011002)

2 Komentar

1. Cincin Kawin Emas

pada : 01 September 2014

"sebaiknya kita hindari rokok karena memang tidak baik bagi kesehatan dan rokok itu sangat merugikan bagi diri pribadi dan sekeliling kita"


2. fiforlif

pada : 07 April 2015

"Tulisannya Bagus.. Nice Article.. Www.herbaldietfiforlif.com"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :